Why?

813 99 41


Jimin berjalan memasuki rumahnya dengan ragu. Ah, ia lupa kapan terakhir kali menjejakkan kaki disini. Dapat dirasakannya sesuatu mendorong kedua bahunya, itu tangan Namjoon.

"Masuk Jim." Ia memasang senyum menyemangati. Asal kau tau, ternyata Namjoon Hyung orang yang baik dan lucu.

Jimin menatapnya ragu. Tapi Namjoon semakin mendorongnya lalu berseru, "Kami Pulang!"

Tak lama kemudian terdengar sahutan dari dalam. "Joonie... Kau bersama siapa??" Suara langkah kaki pun menggema.

Jimin bersembunyi dibelakang Namjoon. "Hyung aku tidak bisa.. aku tidak berani." Cicitnya dengan wajah menahan tangis. Namjoon dapat mengetahui apa yang dirasakan Jimin. Tentu saja karena ia lebih dewasa darinya.

"Baiklah... masuk ke kamarmu, biar aku yang menjelaskan pada Eomma." Perintah Namjoon membuat Jimin dengan segera berlari kearah anak tangga menuju kamarnya.

Yujin melangkah menghampiri Namjoon, "Selamat datang. Eomma sudah memasak makan siang... cepat ganti bajumu, ah. Tadi kau bilang 'Kami pulang' memang kau pulang dengan siapa?"

Namjoon menatap orang yang melahirkannya itu dengan wajah serius. Tapi Yujin masa bodoh ditatap seperti itu. "Eomma ada yang harus ku bicarakan denganmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin keluar dari kamar mandi Namjoon yang ada disudut kiri ruangan. Seharusnya ia tadi berada di kamar nya sendiri, tapi ketika mencapai pintu kamar ternyata kamarnya dikunci. Jadi mau tidak mau ia memilih untuk masuk ke kamar Namjoon. Tidak mungkinkan ia masuk ke dalam kamar Eommanya?

Kamar Hyungnya ini cukup luas dengan cat berwarna krem yang mendominasi. Tempatnya penuh dengan buku-buku, disetiap sudut dinding dipasangi rak-rak buku dengan jenis buku yang Jimin rasa berbobot.

Disamping ranjang kingsize nya terdapat sebuah meja belajar yang sedikit berantakan. Lampu belajarnya masih menyala, sepertinya si tuan kamar lupa mematikannya.

Jimin mengambil sebuah buku yang menganggur dalam keadaan terbuka dimeja belajar Namjoon. Buku itu berisi hal-hal tentang galaksi, bintang, dan matahari. Ia mengangkat bahu tidak tertarik dan kembali meletakkannya ke tempat semula.

Ah, dia lupa belum ganti baju.

Lemari berwarna putih yang diletakkan disamping cermin besar itu dibuka begitu saja oleh Jimin. Ia mengambil T-shirt warna hijau dan sebuah celana ¾ warna coklat.

Ia pun kembali ke kamar mandi untuk berganti baju.

.

Tidakkah dia mirip seperti pohon?

Jimin terkekeh melihat pantulannya dicermin. Ia menatap rambut merahnya yang agak pudar, "Sepertinya warna hitam cocok untukku." Monolog Jimin sebelum membaringkan diri di ranjang sana.

Ia menatap langit-langit kamar yang ternyata sama seperti langit-langit kamarnya. Tiba-tiba wajah sang Appa yang sedang tersenyum terbayang dibenaknya.

"Appa... bagaimana dengan keputusanku barusan? Apakah kau senang?" Monolognya kembali dengan suara rendah. Jimin mendesah dengan wajah keruh.

Ia gugup menanti jawaban Yujin. Setelah Jimin pertimbangkan, Yujin merupakan wanita yang lemah lembut dan penyayang. Dia juga sangat sabar, terlebih ketika mengurusnya yang nakal ini. Tapi meskipun begitu, ia tetap tidak bisa mengira-ngira apa jawaban Yujin.

Suara dentuman sepatu yang beradu dengan lantai membuat Jimin menyadarkan diri. Ia menarik selimut yang sedari tadi terongok diujung ranjang dan menenggelamkan diri dalam balutan kain itu.

Cklek

Krieeeettt....

Suara pintu yang didorong membuat Jimin membeku, ia menutup kedua matanya.

The Story Is Based On The Mood Of Author - Jimin ukeBaca cerita ini secara GRATIS!