The Helper

825 82 13


Jimin membuka kelopak matanya yang terasa berat. Didepan wajahnya sudah ada kelima anggota gengnya yang berjarak sangat dekat padanya. Tatapan mereka seolah mendapati seorang anak peri lahir ke dunia.

"Apa dia hidup?" Chanyeol mendapat jitakan dari Sehun.

"Memang kau berharap dia mati eoh?" Sindir Suho yang dibalas cengiran tak berdosa Chanyeol.

"Chim kau mengenalku?" Tanya Chanyeol membuat masing masing dari mereka menepuk jidat sembari bergumam 'bodoh'.

Menegakkan tubuhnya, Jimin balik bertanya, "Apa?"

Chanyeol memasang wajah sok melodrama, "Chim... ini aku! Park Chanyeol, suamimu.. Park Jimin... Hikss.... teganya kau melupakanku!"

Anggota lain pun deathglare berjamaah.

Jimin mengerutkan keningnya, "Aku tahu kau Park Chanyeol. Tapi aku bukan istrimu." Ia menoleh pada Kris yang ada disampingnya.

"Siapa yang membawaku kemari?"

Mereka saling pandang. "Namja."

"Namanya?" Desak Jimin membuat mereka memasang tampang berpikir. "Kim... Kim siapa tadi?"

"Dong..." tambah Suho.

"Dong..wook?" Sahut Chen.

"Kim Dongwook. mungkin..." Chanyeol mengendikan bahu tak peduli.

Kim Dongwook?

"Wookie Hyung???" Jimin berbisik. Wajahnya tampak tak percaya, ia menutup mulutnya.

Suho yang penasaran pun bertanya, "Kau... mengenalnya??"

Jimin dengan tergesa turun dari ranjang. Dan hampir saja dia limbung sebelum kedua tangan Kris memeganginya, Namja setinggi tiang itu agak menunduk agar dapat menangkap Jimin. Mereka seperti Ayah dan Anak.

"Istirahatlah, kau masih lemah." Bujuk Chen dengan wajah khawatirnya.

"T-Tapi... Wookie Hyung..."

"Tenanglah... besok kupastikan kami mengatur pertemuanmu dengan Kim tadi." Kali ini Sehun angkat bicara, suaranya terdengar tegas daripada yang kemarin.

Jimin mengangguk patuh dan kembali membaringkan diri. Suasana menjadi hening untuk sementara.

"Aku takut." Cicit Jimin tiba-tiba.

"Takut apa? Hantu? DIMANA??" Kris membelalak takut lalu mendepet ke Jimin. "Kau bisa melihat mereka?"

"Bukan... Bukan hantu."

"Oh.." Kris berdehem sebentar. Ia kembali duduk ditempatnya tadi. "Lalu apa yang kau takutkan?"

"Masa lalu." Jimin berujar kosong dan Chen tidak suka itu.

"Chim... Jangan seperti itu. Kau membuatku khawatir." lirih Chen dengan polosnya memeluk tubuh Jimin yang lemas. "Lupakan masa lalumu... Lihat aku..." ia menangkup pipi Chubby itu. "Aku.... Masa depanmu."

Duak!!

Suho memberikan hadiah manis pada kepala Chen menggunakan penggaris milik guru yang entah kenapa diletakkan disana.

"Brengsek Suho! Itu sakit bodoh!" Umpat Chen sembari memberikan tatapan membunuh padanya.

Suho menatap aneh, "Seharusnya kau bersyukur bisa merasakan sakit. Itu tandanyanya kau masih hidup.... tapi tidak lama lagi."

Chen bergidik.

"Sudahlah kalian ini. Mengganggu istirahat Jimin tau!" Sembur Sehun membuat keduanya diam.

Jimin memejamkan matanya, kepalanya sedikit pening. Ia merasa hari ini hari yanh aneh, dan mengerikan.

'Apa benar itu Wookie Hyung?'

'Tapi dia sudah dinyatakan meninggal.'

'Ada banyak orang bernama Kim Dongwook didunia ini, Argh!'

Berbagai macam pemikiran berkelebat dikepala Jimin. Dan tanpa sadar ia telah tertidur, anggota lain yang ada disana pun memutuskan untuk pergi dari sana setelah sebelumnya berunding siapa yang akan menjaga Jimin disini.

Dan Krislah yang bertugas untuk menjaga Jimin. "Ck... kenapa harus aku?" Runtuknya kembali mendudukkan diri.

Ia mengalihkan pandangan ke arah Jimin. Menyapu wajah manis yang terlihat seperti bayi itu, entah kenapa sejak bertemu Jimin untuk pertama kalinya, Kris menganggap jika Jimin adalah adik perempuannya yang menggemaskan.

Nafas Jimin berhembus teratur, wajahnya sungguh pucat meski tak sepucat sebelumnya. Kris merasa mereka semua bodoh karena belum menanyakan apa yang telah membuat Jimin seperti ini.

Kris membulatkan matanya, "Masa lalu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chen berpikir keras, mengulang kembali kejadian di UKS tadi. Jimin takut? Park Jimin takut akan sesuatu? Hal yang sangat aneh.

Entah kenapa ia merasa harus menyelidiki ini. Meski tak tau caranya, setidaknya ia berusaha. Jimin keluarganya sekarang. Ah, tidak. Keluarga mereka sekarang.

Setidaknya anak itu harus menceritakan beberapa masa lalunya pada mereka.

"Kau kenapa Chen?"

Chanyeol menatapnya penuh selidik. "Aku lapar."

"Aku juga."

"Hei jangan meniru!"

"Terserah aku. Memang kau siapa?!"

Mereka adu cekcok sebelum sang Leader yang terganggu tidurnya menjitak kepala dua orang itu. Sehun mendesis, "Berisik."

Mereka bungkam bagai anak kecil yang diberi permen.

"Di Apartemen hanya ada 3 kamar. Kita berenam, 1 kamar diisi 2 orang. Aku sekamar dengan Jimin." Kata Suho dengan tiba-tiba sehingga mendapat perhatian dari mereka bertiga.

"Aku tahu, Kau tahu jika Kami tahu sebrengsek apa dirimu." Chanyeol berkata sok kalem mengulang ulang kata 'tahu'.

"Lalu kau pikir siapa yang cocok sekamar dengan Jimin?" Rengut Suho lalu melanjutkan, "Kita semua brengsek, bodoh!"

"Kris saja!" Chen mengangkat satu tangannya. "Dia tidak terlalu brengsek dan cenderung pendiam."

"Dia memang tidak terlalu brengsek. Tapi untuk pendiam, aku meragukannya." Timpal Sehun kala mendengar pendapat Chen.

Chanyeol menepuk kedua tangannya, "Baiklah sudah diputuskan jika yang sekamar dengan Chim adalah Kris."

Beberapa dari mereka yang berharap sekamar dengan Jimin pun hanya bisa menghela nafas dengan wajah masam.

"Ya, dan sekarang kalian harus menemukan orang yang menjadi penolong Jimin tadi." Perintah Sehun dengan seenak jidatnya pergi dari sana.

Suho menoleh, "Chen. Cari orang itu!"

Suho berlalu pergi.

Chen menoleh, "Chanyeol. Cari orang itu!"

Chen mengekori Suho.

Chanyeol menoleh, "Eh...."

Tidak ada siapapun.

"Aaahhh.... Sial." Rengeknya lalu juga pergi.

Author pun ikut gone.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC

Bukan Namjun haha... Author lagi males ngetik . Vomment please. :'v Chap ini paling gaje ya? :'3

The Story Is Based On The Mood Of Author - Jimin ukeBaca cerita ini secara GRATIS!