Bad Memories

1K 88 12


Keesokan harinya Jimin pergi ke sekolah seperti biasa. Bedanya kali ini tidak sendirian, ia bersama gengnya EXO semobil dengan Sehun. Sepertinya Namja itu benar-benar ingin memberitahukan Jimin bahwa dia benar-benar menyesal. Sebenarnya Jimin sudah tau jika ia sangat menyesal dan sudah memaafkannya. Tapi Sehun tetaplah Sehun.

"Jimin-ah, sebagai tanda minta maaf aku akan mentraktirmu nanti." kata Sehun sambil memarkir mobilnya diparkiran sekolah, sama seperti yang lainnya.

"Tidak perlu Bodoh. Aku sudah memaafkanmu." Jimin menyentil pelipis Sehun, membuatnya memekik keras. "Aw!"

Setelah memarkir mobil, mereka pun keluar, Jimin yang paling belakang tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi beda dengan Sehun, ia menarik Jimin ke sampingnya lalu berkata keras. "PARK JIMIN SEKARANG ADALAH ANGGOTA GENG KU. DAN BAGI ADA YANG PUNYA MASALAH DENGANYA, BERARTI SECARA TIDAK LANGSUNG JUGA MEMILIKI MASALAH DENGANKU!!!"

Semua murid yang mengerubung langsung bergidik.

Jimin + EXO bukanlah hal yang bagus.

Dan sepertinya mimpi buruk mereka mulai datang dengan penuh ancaman.

Jimin memutar bola matanya malas, "Aku ke kelas dulu." Sehun terkekeh melihatnya begitu, "Baik hati hati sayang, jaga hole muu~"

Jimin mendeath-glarenya. Sedangkan yang lain telah tertawa terbahak-bahak. "Menyebalkan." Gerutu Jimin lalu meninggalkan area parkir.

"Hoi Jimin!!! Jangan lupa kau harus semeja dengan kami dikantin!"

Jimin melambaikan tangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhir-akhir ini Jimin merasa dikuntit seseorang. Ia merasa sangat risih jujur saja, pernah sekali ia mencoba berbalik untuk mengetahui siapa yang mengikutinya tapi yang ia temukan hanya udara kosong.

Ia keluar dari kelas menuju kamar mandi pria yang letaknya agak jauh dari kelasnya. Sebenarnya ia tidak berniat buang apapun, Jimin hanya ingin menunggu waktu bel saja.

"Jimin..." panggil seseorang dari pundaknya.

Jimin menoleh, setelahnya hanya raut masam yang terlihat diwajahnya, "Ada apa Namjoon?"

Rahang Namjoon mengeras, "Kemana saja kau kemarin malam?! Kau tidak tau seberapa khawatirnya Eomma kita Hah!?" Bentak Namja jangkung itu yang dibalas putaran bola mata Jimin.

"Bukan... Bukan Eomma kita." Jimin menatapnya kosong, "Dia... Hanya Eomma-mu. Bukan diriku, bukan kita. Hanya kau." Ia terlihat meracau, setelah sadar Jimin pun berbalik badan, lalu berjalan. "Aku sudah tidak memiliki Eomma."

Meninggalkan Namjoon yang terpaku membendung air mata.

Jimin mengusap wajahnya agak frustasi, ia memutuskan mengubah arah ke atap saja. Kenangan-kenangan masa kecilnya seakan dipaksa keluar lagi. Nafasnya agak tersendat.

"Jiminnie..."

"Ne Appa!"

"Jadi anak yang baik ya. Appa dan Eomma harus pergi dulu."

"Araseo!"

"Anak pintar."

Jimin menunduk, ia masih bisa merasakan elusan penuh kasih sayang itu. Wajahnya agak linglung, ia menaiki anak tangga disana.

"Appa..."

"Heum... Sebenarnya Eomma tidak ingin meninggalkanmu sayang. Jika Eomma kembali nanti, Eomma janji akan menceritakan dongeng semalam penuh."

"Janji!?"

"Ne, Janji. Eomma berangkat, Aku mencintaimu sayang..."

"Nado Eomma. Nado." Bisiknya ketika senyum manis yang terakhir diberikan sang Eomma menyelimuti batinnya.

The Story Is Based On The Mood Of Author - Jimin ukeBaca cerita ini secara GRATIS!