Part 6- Guardian Angel & Villain

3.9K 273 4

Di halaman belakang rumah mewahnya, Kevin berdiri mondar-mandir dengan membawa sebuah kertas. Di dalam kertas itu, ada sederet kalimat yang memerlukan jawaban darinya. Kertas itu berisi sejumlah kontrak antara Kevin dan orangtuanya. Aneh, memang itulah keluarga Kevin. Tidak ada yang gratis di sini. Harus ada harga yang dibayar. Jika tidak, Kevin bisa saja saat ini juga dikeluarkan dari rumah dengan tangan kosong.

"Gue butuh Rain, iya. Hanya Rain yang bisa bantu gue." Kevin berhenti dan mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Dia menghubungi kontak yang bernama Rain. Tidak lama kemudian nada sambung terdengar dan orang diseberang sana sudah mengangkatnya.

"Halo, Kev?" tanya gadis di seberang sana dengan halus sekaligus khawatir.

Rain, gadis itu adalah sahabat Kevin sekaligus pacarnya. Juga anak dari teman orangtua Kevin yang rencananya akan dijodohkan dengan cowok itu.

"Papa ngasih surat ke aku yang berisi kontrak perjanjian aku dengan papa. Di sana, jelas-jelas tertulis kalau aku harus bisa merebut hati anak rival papa lalu menghancurkannya. Aku tidak bisa melakukan itu tanpa persetujuan kamu Rain."

"Oke gini, demi Papi dan karena aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu boleh jadi pacar boongan gadis itu. Aku pasti akan bantuin kamu Kev, buat dia sehancur-hancurnya."

Kevin ragu-tagu tapi dia tersenyum, "Semoga kamu cepat pulang Rain, aku kangen."

Setelahnya telepon terputus karena Kevin yang memutuskan sambungannya. Kevin segera bergegas ke arah ruang keluarga dimana papa dan mamanya suah menunggu lama di sana. Mereka menatap Kevin penuh harap, sedangkan Kevin sendiri membuang napas kasar. Kevin muak punya orangtua yang tak memedulikan perasaannya.

"Saya sudah menandatangani surat ini. Saya hanya mengikuti kata-kata Anda. Saya juga tidak mau menanggung resiko kalau gadis itu akan benar-benar suka atau membenci saya."

"Anak pintar tahu apa yang benar, Kev," senyum miring tercetak jelas di wajah Wijaya, papa Kevin.

Mamanya memandang kasihan Kevin.

Cih. Tatapan palsu.

*****

Di Jerman, gadis bermata coklat dan berambut hitam pirang itu tersenyum ceria bersama seorang lelaki. Di bangku taman, mereka menikmati indahnya musim semi. Melihat burung-burung beterbangan dan saling berkicau menyahut. Cowok itu sangat tidak ingin kehilangan gadis yang berada di sampingnya. Digenggamnya jemarinya dan diusap lembut.

"Anisa Raindisch, you will be there with me?"

"Yes, Daniel. I will be there and i love you so much."

Sang gadis, Rain, terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan ijin untuk mengangkat telepon.

Gadis itu sebenarnya sudah muak dengan Kevin, tapi dia juga tidak mau kehilangan orang yang bisa dia manfaatkan nantinya.

"Halo, Kev?"

*****

Di Jakarta, di taman belakang, di rumah yang berbeda dengan gaya kebaratan, Cellyn menyesap kopi buatan mamanya. Aroma itu lagi, Cellyn suka. Dari arah belakangnya, Wahyu, sepupunya, mengendap-endap di belakang kursi kayu untuk mengagetkannya.

"Cellyn si ratu lilin!" Jantung Cellyn rasanya ingin meloncat keluar. Bukan, bukan karena baper atau semacamnya. Tapi kaget setengah mati.

Dia menoleh kebelakang tanpa melihat pelakunya dan langsung memukulnya dengan boneka Teddy.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!