Gay?

1.3K 91 7

"Hmmm..... Apa yang akan ku dapat?" Tanya Jimin sambil mengusap rambut merahnya ke belakang.

Sehun memperlebar seringainya, "Bagaimana kalau satu Apartemen lengkap dengan perabotan ditambah rak penuh komik?" Tawar Sehun mengulurkan tangannya.

Setelah dipikir-pikir, Jimin memang ingin pergi dari rumahnya. Tapi karena ia masih kecil dan belum bekerja, Jimin memutuskan untuk menunda keinginan itu. Ia menyambut uluran Sehun dengan tangan mungilnya, "Setuju!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya Jimin resmi menjadi anggota geng Sehun. Dan ternyata...

"Kenapa kalian ke sini?"

Netra Jimin menatap menusuk pada mereka. Suho nyengir lebar, "Kami akan menjadikan Apartemenmu sebagai sarang kami." Jelas Namja itu dengan seenak jidatnya lompat ke sofa disana. Sementara sofa satunya telah dipakai oleh Kris.

Jimin berdecak, "Sehun mana?"

"Entahlah..." ia mengerang malas, ingin rasanya mencincang mereka semua. Karena jujur saja ia sangat lapar.

Jimin berjalan menuju dapur dan syukurlah disana ada bahan-bahan memasak yang cukup lengkap. Ia meregangkan jari-jarinya, "Sudah lama aku tidak memasak." Gumamnya mengambil apron lalu memasangkannya ke tubuh mungilnya. "Mari bekerja."

Ia mulai mengambil beberapa bahan yang ada di lemari pendingin. Beberapa sayuran segar menjadi tujuannya, ia mengiris sempurna benda yang menurut Author sangat menjijikan itu menggunakan pisau dapur tajam. Hiiiii~

Dengan gerakan sigap ia pun menyalakan kompor dan mengambil beberapa perabotan yang lain.

Jika dilihat dia tidak seperti Jimin yang orang-orang kenal. Ini seperti melihat seorang kembaran Jimin yang berbeda sifat sedang memasak. Sebenarnya ia sudah menyiapkan diri untuk bisa mandiri dan mengurus dirinya sendiri jika ia benar meninggalkan keluarganya, yaaa contohnya seperti memasak untuk dirinya sendiri.

Memakan hampir sekitar 27 menit Jimin memasak disana. Ia memasak lebih, berniat untuk membaginya dengan anak-anak lain yang belum makan. Jimin mengambil beberapa piring dan mulai menata masakan buatannya.

Apron berwarna hijau itu dilepas Jimin. Ia menatap puas pada makan malamnya, "Tidak buruk."

Setelahnya Jimin memutuskan untuk membersihkan diri. Ia pergi ke salah satu kamar, berharap ada beberapa potong pakaian yang tersimpan disana.

Ia berjalan ke sebuah lemari besar yang ada disudut kamar no 3. Sebagai tambahan disini hanya ada 3 kamar.

Jimin mengernyitkan dahinya begitu ia hanya menemukan kumpulan kemeja putih yang sangat formal. Membuka laci yang ada dibawah, Jimin harus menelan pahit begitu menemukan kumpulan celana dalam dan celana pendek yang beberapa sudah berlubang seperti dimakan rayap. Ia berpikir, sepertinya ini Lemari tua yang tidak pernah terpakai. Syukurlah netra miliknya berhasil mendapati sebuah celana dalam hitam yang kelihatannya belum terjamah rayap. Dan ia hanya mampu menyelamatkan dua jenis benda itu.

Celana dalam dan Kemeja?

Hmmm.... Jimin tersenyum misterius. 'Apa salahnya mengetes 'kelurusan' mereka?' Batinnya menyeringai jahil. Ah, sudah lama ia tidak seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

"Yaa!! SUHO BANGUN!"

Jimin menendang sofa yang ditiduri Suho. Namja itu pun terbangun, "Heh?"

Mata Suho seketika membulat melihat penampilan Jimin yang membuatnya ehem-cukup tergoda-ehem. "K-Kenapa dengan penampilanmu?"

Jimin menatap polos, "Kenapa? Toh kita sama-sama laki-laki." ia menatap penampilannya sendiri dari atas ke bawah lalu berputar pelan hingga kemeja kebesaran yang ia pakai sedikit menyibak sebentar. Suho menahan nafas, "E-Eh...."

Jimin tersenyum menggoda, ia menaiki Suho lalu berkalung pada leher Namja itu. "Atau jangan-jangam kau.... Gay hm?" Ia menatap menantang pada Suho, binar terhibur terpancar dari matanya. Sesuatu yang keras menyodok dibawahnya.

Wajah Suho memerah sedikit, "B-Brengsek!"

Jimin menatapnya dengan mata sayu, ia menggeliat menggoda dalam pangkuan Suho. "Eunghhh.... Ayo cepat makan... Aku sudah masak sesuatu, bangunkan yang lain ya..." pinta Jimin seduktif ditelinga Suho. Setelahnya ia pun bangun dari sana dan pergi ke meja makan.

"Ck... ternyata benar gay. Aish..." gumam Jimin mengurut pelipisnya pelan.

Suara langkah kaki terdengar, Jimin tidak ingin susah-susah untuk menoleh. Paling-paling mereka akan merespon seperti yang sudah Suho lakukan.

"Ah!"

Jimin terpekik kala ada sepasang tangan yang tiba-tiba memeluknya. Nafas orang itu menerpa telinga sensitif Jimin, membuat si manis gemetar. Sesuatu yang keras menyodok pantatnya, wajah Jimin seketika memerah. Belum pernah ada seseorang yang melakukan ini padanya.

"Jimin... Kau berniat menggodaku hm...." suara itu terdengar serak dan tersengal, menahan hasrat. Jimin dibuat bergidik. Seketika matanya membulat saat indra penciumannya mendapati bau alkohol dari hembusan nafas orang itu. "S-Sehun... kau mabuk..."

Pelukan itu mengerat, sesuatu dibawah sana semakin melesak masuk. Jimin mengerang. "Menjauh ugh-Sehun!"

Ia mencoba melepaskan diri. Biasanya oranh mabuk akan kehilangan beberapa kekuatannya entah itu berapa persen. Tapi sehun...

"SEHUN APA YANG KAU LAKUKAN!!!" Teriak Jimin ketika menyadari tangan itu sudah berada dibawah dan menarik lepas bawaham Jimin yang hanya berupa celana dalam itu.

Ia bergerak gelisah mencoba melepaskan diri dari kepungan Sehun. Sebuah permukaan kasar menyentuh lembut kulit bongkahan kenyalnya, lalu meremasnya pelan. "Eungghhhh...."

Ingin sekali Jimin meninju Sehun, tapi mengingat dia adalah Leadernya yang telah memberikan Apartemen untuknya. Dan sebagai tambahan Sehun dalam keadaan mabuk. "Aaarrghhh...."

Jimin mengerang kesakitan saat Jari panjang Namja itu masuk ke hole virginnya.
.
.
.
.
.
TBC

Apa ini, bagaimanakah nasib Jimin? Itu bergantung pada Mood Author sepertinya... Hehehe.... Vomment please....

The Story Is Based On The Mood Of Author - Jimin ukeBaca cerita ini secara GRATIS!