Part 5-Membuka Kartu

3.9K 284 2

Seorang gadis dengan wajah lucunya dan cowok dingin berada dalam satu ruangan. Mungkin sedikit aneh jika diperhatikan.

Gadis itu mengamati wajah pangeran penolongnya. Sampai akhirnya yang diperhatikan sadar dan mengangkat suara.

"Masih sakit? Gue ada ulangan," sebuah pertanyaan yang mirip dengan pernyataan. Cowok baru yang sudah menyandang gelar most wanted, Kevin Atha Wijaya, sangat dingin. Bahkan Cellyn bisa merasakan aura itu karena nyatanya ruangan ini tiba-tiba berubah beku.

Mulut Cellyn membuka ingin memberikan jawaban tapi terlebih dulu Kevin memotong.

"Karena gue liat lo udah nggak kenapa-napa, gue ke kelas."

Perlahan senyum yang ada di bibir Cellyn luntur digantikan dengan kekecewaan.

Cellyn mengamati lamat-lamat punggung yang sekarang menghilang di balik pintu bercat putih itu. Sekarang dia sendirian di UKS tanpa penjaga. Cellyn memang pemberani, tapi untuk sekarang dia mencabut kata-kata itu karena dia sudah berlari terbirit-birit keluar ruangan. Dia mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Cellyn memegang dadanya yang sesak. Kepalanya bahkan berdenyut lebih sakit daripada tadi. Punya riwayat asma ternyata sangat menyusahkannya.

Dari arah yang berlawanan, dia bertemu lagi dengan kevin. Cowok itu membawa setumpuk buku tebal. Cellyn berpapasan dengan Kevin dan cowok itu mengernyitkan keningnya. Cellyn yang mengerti segera menjelaskan.

"Gue udah gapapa. Makasih ya lo mau ngobatin dan nolongin gue. Gue Cellyn." Cellyn menjulurkan tangannya. Tapi segera dia tarik kembali karena Kevin sedang membawa buku banyak dan tidak mungkin menjatuhkannya demi menjabat tangannya.

"Eum... boleh gue bantuin bawa? Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih gue," ucap Cellyn ragu.

Kevin mengangkat bahunya bingung. Tapi dia juga tidak mau menolak kesempatan bagus ini. Lumayan berat buku yang dibawanya itu, sehingga untung juga jika ada yang membantunya.

Sepuluh buku diserahkannya kepada Cellyn. Gadis itu sedikit menekuk lututnya karena berat buku yang tidak main-main.

"Kenapa? Nggak bisa bawa," sindir Kevin tanpa ada rasa kasihan melihat kepala Cellyn yang diperban. Padahal tadi dia sangat perhatian, sungguh berbanding terbalik dengan sekarang.

"Nggak kok, cuma kaget aja," Cellyn sadar jika perkataannya salah dan mendahului Kevin.

Bodoh!

"Emang lo tau gue mau bawa kemana? Jangan sok tau gitu."

Cellyn berbalik dan tersenyum kikuk. "Sorry..."

"Ikut gue ke ruang Pak Arifin. Dia yang suruh bawa buku ini ke sana."

Cellyn hanya mengangguk dan mengekor di belakangnya. 'Apa jangan-jangan cowok ini berkepribadian ganda? Tadi baik sekarang jutek, dinginnya ngalain beruang kutub.'

*****

Edel mengamati sahabatnya ini dari atas sampai bawah. Sahabatnya ini seakan lupa kalau dia baru saja mengalami hal yang cukup mengerikan dengan Genta. Gadis di sebelahnya ini menekuk wajahnya dan menenggelamkannya di lengan. Gadis itu terus menatap ke bawah seakan Edel tidak pernah ada di sampingnya.

"Cell, are you okay?"

"Yes, i'm fine Del," sahut Cellyn pelan.

Edel mengendikkan bahunya. "Lo udah tau kalau Genta dikeluarin dari sekolah ini?"

Sekarang Cellyn menatap Edel serius dan menggeleng malas. Perkiraannya memang benar.

"Gue udah muak denger nama dia. Bagus deh, biar nggak ganggu gue lagi."

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!