Rasya Azzahra

59.9K 1.8K 17
                                    

Hari ini tiba juga akhirnya, aku menghela nafas ketika melihat Ibu tersenyum senang ke arahku. Di sampingnya, nampak Ayah juga tersenyum bahagia menatapku sambil mengacungkan kedua jempolnya. Aku balas tersenyum walau hatiku masih sakit rasanya. Ingin aku menangis ketika membayangkan apa jadinya hidupku nanti jika menikah dengan orang yang sama sekali tidak kukenal? Baru saja dia menyelesaikan prosesi ijab qabul, mataku terasa panas, namun kutahan agar tak membuat suasana terasa tak enak.

"Alhamdulillah sah," kata para saksi disambut dengan tepuk tangan kecil dan uluman senyum. Aku melirik sekilas melihat Radit, dia sama tak bahagianya dengan aku. Pandangannya entah hilang ke mana, apalagi yang lebih menyakitkan selain (akan) menghabiskan sisa hidup dengan orang yang tidak kamu cintai? Cinta? Bahkan, kenal sajapun tidak.

Hari ini kuharapkan sejak dahulu adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Hari dimana aku akan pergi dari kehidupan lajang dan menikah dengan orang yang kucintai. Hari dimana aku akan puas tersenyum pada setiap orang yang hadir, dan hari dimana aku akan berikrar untuk mencintai seutuhnya. Tapi terkadang, harapan memang tak selalu sesuai kenyataan. bukan?

Semua rasa gelisah dan sedih dalam hatiku kututup rapat-rapat, apapun yang terjadi aku harus mampu terlihat bahagia. Ayah dan Ibu tak boleh tahu bagaimana sakitnya hatiku saat ini.

"Sya, Ibu bahagia banget lihat kamu sama Radit," Ibu mencium pipiku, aku hanya membalas dengan senyuman tipis. Bahagia? Bahkan aku sudah lupa rasanya seperti apa.

"Memang cantik sekali menantu Mama," kata Tante Iva, ya, Mama Radit yang ternyata sudah berdiri di belakangku. Kembali aku harus tersenyum tipis.

Cantik? Kalau cantik hanya dapat dilihat dari pakaian dan make-up sudah tentu aku yang paling cantik hari ini. Tapi jika dilihat lebih dalam (re: hati) aku yang paling menyedihkan hari ini.

"Dit, jangan diam aja dong. Sudahlah, jangan berfikir macam-macam dulu, apalagi tentang pekerjaan. Jadikan hari ini hari paling bahagia buat kalian," tambah Om Afran-Papa Radit disambut tawa Ayah.

Aku menelan ludah, gimana bisa jadi hari paling bahagia? 

Aku melirik Radit, diapun bereaksi sama denganku, hanya tersenyum tipis. Aku bahkan belum hafal bagaimana suaranya, karena sejak kami bertemu, hanya sepatah dua patah kata saja yang terucap. Selebihnya, kami selalu diam seribu bahasa.

Entah apa yang ada di pikirannya, tapi dalam pikiranku, aku benar-benar sulit memahami Radit, sehingga diam akan jauh lebih baik.

"Yasudah, yuk makan dulu. Jangan sampai resepsi nanti malam kalian malah kecapekan," kata Papa disambut anggukan yang lainnya.

Saat itu memang sudah menunjukkan pukul 12 siang, perutku juga sudah terasa lapar. Gaun panjang dan jilbab yang menutup kepalaku membuat badanku terasa panas. Gaun itu berwarna putih, sama dengan kemeja yang digunakan Radit.

Ibu melingkarkan tanggannya di lenganku, "Maaf ya sayang, jangan bersedih berlarut-larut. Ibu akan tambah sedih lihatnya," katanya sambil melihat ke arahku.

Aku menggeleng, "Kenapa harus minta maaf Bu, aku nggak sedih kok," balasku sambil menggigit bibir, satu kebohongan sudah kulakukan. Mataku terasa panas, namun buru-buru aku tarik nafas agar butiran air mataku tak jatuh.

"Jangan bohong Sya, Ibu tahu banget kamu," katanya lagi sambil mengambilkan semangkuk sup, aku hanya diam setelahnya.

Jika aku harus memilih mana yang kukorbankan antara diriku dan orangtuaku, sudah pasti aku akan memilih aku. Jika aku harus memilih mana hari paling menyedihkan seumur hidupku, sudah pasti aku akan memilih hari ini. Jika aku harus memilih memberontak atau pasrah, sudah pasti aku akan memilih pasrah, semoga ini mampu membuatku jauh lebih baik.

Maafkaan karena ceritanya masih jeleek dan pendek karena baru pertama kali dibuat, terimakasih banyaaak sudah mau membaca

Yang selanjutnya dijamin lebih panjang

Saya seneng banget ada yang mau baca hehe:D

Marriage With(out) LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang