6 - Marshmallow Kiss

167K 8.8K 485
                                                  

DEE

Aku agak nggak percaya saat Rian ternyata menawarkan diri untuk menjemputku. Uwi terlihat sangat bangga karena teorinya berhasil. Walaupun menurutku itu belum membuktikan apa-apa.

Maksudku, terlepas dari hubungan aneh kami, Rian memang suami yang baik. Saat dia nggak ada meeting pagi, yang berarti bisa tiba di kantor sedikit siang, dia selalu menawarkan diri mengantarku ke butik. Tapi ini memang pertama kalinya dia menjemputku, karena biasanya aku selalu pulang lebih dulu.

Dari jendela kafe, aku melihat Fortuner hitam dengan plat B 121 AN berhenti di tepi, tidak masuk ke tempat parkir. Aku menyambar hand bag-ku, berjalan keluar kafe. Uwi sudah pulang lima menit lalu. Aku menawarkannya ikut denganku dan Rian, karena masih searah, tapi dia menolak karena ingin membiarkanku berduaan.

Aku mendekati mobil Rian, membuka pintu depan, dan terpaku.

Seorang wanita duduk di sana.

"Oh, sori, sori." Wanita itu segera melepas seatbelt-nya, dan turun.

Aku masih terpaku saat dia pindah ke bangku belakang. Sampai Rian menegurku. Aku masuk, menutup pintu di sampingku, dan memasang seatbelt.

"Ini Jess, teman kantorku. Mobilnya lagi masuk bengkel, satu tower juga sama kita, jadi sekalian." Rian menjelaskan padaku.

Aku menoleh ke arah wanita itu, Jess, untuk menyunggingkan senyum kecil. Dia balas tersenyum padaku, sebelum kembali memainkan ponselnya.

"Kamu udah makan malam?" tanyaku pada Rian, hanya sekadar mencari bahan obrolan.

"Belum," jawabnya. "Tadi meeting terakhir batal. Makanya bisa pulang cepat."

"Lo dapet proyek sama Pak Makiel, ya?" Jess tiba-tiba bersuara.

"Iya. Bareng Gio sama Rania juga."

Jess mendengus. "Gue gedek banget sama tuh cewek. Modal apa sih dia sampe bisa bikin bos segitunya?"

Oke... aku terdiam kali ini. Bukan karena nada suara Jess, tapi karena aku sama sekali tidak tahu apa, atau siapa, yang sedang mereka bicarakan.

"Dia baik kok," gumam Rian. "Pinter lagi. Dulu berapa kali pernah ikut gue sama Gio nongkrong. Gue pikir mereka pacaran dulu."

"Ya gitu deh dia. Semua aja yang punya potensi diembat. Udah dapet Gio, ada kakap yang lebih gede, ya ganti sasaran."

Rian hanya berdecak, tidak menanggapi, memilih mengganti obrolan tentang siapa pun perempuan yang dibicarakan Jess.

Aku benar-benar jadi kambing congek di sana. Rian dan Jess asyik mengobrol, membicarakan pekerjaan, yang jelas tidak kumengerti. Sesekali Rian melibatkanku, yang hanya bisa kubalas dengan tawa tidak jelas.

Akhirnya aku memilih diam sepenuhnya, mengeluarkan ponselku, berharap para sahabat sintingku sedang ribut di grup.

Gina sedang mengeluh tentang baby sitter anaknya yang bermasalah dengan PRT. Diantara kami berempat, Gina yang pertama menikah. Kemudian aku. Uwi dan Artha masih asyik dengan karier tanpa pernah peduli dengan pertanyaan orang-orang tentang status lajang mereka. Aku memilih bergabung dalam obrolan para sahabatku, daripada obrolan apa pun yang sedang berlangsung di mobil ini.

Me: emang PRT ga bisa dirangkap jadi baby sitter ya?

Gina: ga ada larangan sih. Tapi ilmunya beda. Baby sitter itu emang ada pelatihannya, gimana ngurus bayik. Kalo PRT kan sebatas ngurus rumah.

Tied The KnotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang