Sampai menutup mata

41 3 0
                                        

"Hei! Liatin aja terus ayam bakarnya. Ilernya dibersihin dulu. Jorok," ucap Karin yang entah darimana datangnya mengagetkan Asa yang sedang memperhatikan ayam bakar. Gadis itu segera membersihkan bibirnya.

"Mana? Kakak boong ya?" tanya Asa sambil mencebikkan bibirnya, membuat tawa Karin meledak.

"Habisnya lo tuh. Masa ayam bakarnya diliatin sampai segitunya sih," goda Karin kembali tertawa melihat wajah kesal adiknya.

"Hu-uh. Kakak ngeselin. Aku gak mau bicara sama kakak lagi," ucapnya kesal sambil membuang muka.

"Yah. Jangan marah dong. Nih ya. Gue bilangin, bukannya gue ngelarang lo liatin tuh ayam. Tapi makin dilihat nanti lo makin pengen. Ngerti kan maksud gue?" jelas Karin sambil berjalan kehadapan Asa dan berjongkok tepat di depannya agar dapat melihat wajahnya yang sudah basah dengan airmata.

"Jangan nangis, Sa. Kakak ngerti kamu pengen itu kan? Tapi gak boleh," ucap Karin menghapus airmata Asa dan memeluknya. "Yuk, balik!"

Mereka berlalu meninggalkan cafè itu.

"Kamu habis bawa adik kamu kemana, Karin?" tanya Papa cemas.

"Maaf, Pa. Asa bilang dia bosen jadi aku ajak Asa jalan-jalan. Gak jauh-jauh kok. Papa tenang aja. Aku pasti jaga Asa baik-baik," balas Karin kalem.

"Kalian pergi ke cafè sebrang ya?" bukannya menjawab pertanyaan Papa, Karin dan Asa hanya saling melirik dan tersenyum kecil membuat Papa menghela nafas panjang.

"Sudahlah. Sekarang Asa minum obat terus istirahat ya?" ucap Papa sambil menyodorkan beberapa tablet obat yang diterima Asa tanpa banyak membantah.

"Selamat tidur, sayang," ucap Papa dan Karin bergantian mengecup kening Asa.

**

Keesokan harinya, saat Asa merengek minta pulang, dokter yang menangani Asa masuk kekamarnya dan menyampaikan kabar yang paling ditunggu-tunggunya.

"Selamat siang, Asa," sapa dokter Ridwan yang dibalas dengan riang oleh Asa.

"Kapan saya bisa pulang, dok? Saya sudah bosan dirumah sakit terus. Saya ingin bersekolah kembali," tanyanya antusias yang hanya ditanggapi dengan senyum hangat dokter Ridwan.

"Sabar, Asa. Kondisi kamu memang sudah stabil tapi kami harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi. Jika kami tidak menemukan kendala maka sore ini kamu boleh pulang." Ucapan dokter Ridwan bagaikan oase di gurun pasir.

"Bener ya, dok?" tanyanya memastikan yang dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh dokter Ridwan.

"Sudah. Kalau sudah diperbolehkan pulang kamu jangan lupa istirahat dan minum obat ya," pesan dokter Ridwan.

"Siap, dok," balas Asa sambil memberikan hormat ala tentara yang memancing gelak semuanya.

***

"Pagi, teman-teman! Asa kembali sekolah," sapanya pada sobat-sobatnya.

Mata Lia seketika berbinar. "Wah! Asa sudah sekolah lagi."

"Welcome back, Asa. I miss you so much," ucap Eva lebay sambil memeluk Asa erat dan tentunya dibalas dengan senang hati oleh Asa.

"Ah kangennya." Christine juga tak mau kalah, ia langsung berhambur memeluk Asa.

"Eh, Sa. Ada murid baru loh. Cowok. Ganteng lagi. Pindahan dari Surabaya." Eva, si biang gossip mulai beraksi.

"Dia kemaren disuruh Pak Yus duduk dibangku lo," ucap Lia mengagetkan Asa.

"HAH? KOK? LOH? Jadi aku duduk mana dong?" tanyanya bingung.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 19, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Games : Song FictionWhere stories live. Discover now