4 - What's Wrong With Us?

133K 7.3K 204
                                                  

DEE

Aku menghela napas, menatap kosong layar komputer di depanku. Aku ingin menceritakan permasalahanku dengan seseorang, tapi nggak tahu harus cerita pada siapa tanpa menimbulkan kehebohan.

Seolah menjawab doa yang kupanjatkan dalam hati, ponselku berbunyi. Nama Uwi muncul di layar. Uwi mungkin sahabatku yang otaknya paling kotor dan tukang cablak. Tapi dia juga jujur dan sangat bisa dipercaya untuk menjaga rahasia sekecil apa pun.

Aku mengangkat panggilannya.

"Say, nongkrong yuk ntar malem," ajaknya.

"Berdua aja apa sama anak lain juga?"

"Berdua aja. Gue kangen sama lo. Sejak nikah, lo jarang banget ikut nongki-nongki cakep."

I love Uwi. She knows me so well.

"Oke. Gue telepon Rian dulu ya, ngabarin pulang telat."

Yah, walaupun aku tidak yakin dia akan pulang lebih cepat dariku. Tetap saja aku merasa harus bilang padanya. Dia juga selalu bilang padaku akan pulang pukul berapa jika terlambat dari biasa. Selama satu bulan menikah, dia selalu pulang di bawah pukul delapan malam. Paling cepat setengah sembilan. Tetapi juga tidak pernah sampai pulang lewat tengah malam, kecuali ada pekerjaan yang benar-benar mepet deadline. Baru satu kali aku mendapatinya pulang pukul setengah satu.

Nggak. Aku nggak berpikir macam-macam. Aku mempercayai Rian. Kalau dia berkata lembur, aku percaya dia memang lembur.

Begitu teleponku dan Uwi selesai, aku menekan nomor Rian di speeddial. Menyenangkan rasanya memiliki sesorang yang bisa mengisi daftar speed dial-ku. Selama ini daftar itu hanya diisi Uwi, Artha, dan Gina. Tapi sejak dulu, aku selalu mengosongi nomor 2, karena nomor 1 sudah ditempati voicemail. Sekarang aku bisa mengisinya dengan nomor ponsel Rian.

Yang ternyata sedang nggak aktif saat ini.

Aku ingin menoyor kepalaku sendiri. Rian hanya mengaktifkan ponselnya saat di luar kantor. Aku memutuskan mengirim pesan chat padanya.

Me: Yan, aku mau dinner sama Uwi. Pulangnya agak telat dari biasa. Kamu nanti pulang jam berapa?

Pending. Yah, apa yang kuharapkan?

Setidaknya aku sudah izin, jaga-jaga kalau ternyata dia pulang lebih cepat dariku. Kalau sudah mengobrol dengan tiga sahabatku, aku suka lupa waktu.

Aku membantu Tante Ratu menutup butik.

"Nggak sekalian Mama anter ke apartemen kamu?" tawar Tante Ratu, sebelum naik ke bangku belakang mobilnya.

Aku menggeleng, tersenyum kecil. "Dee ada janji sama Uwi, Ma."

Tante Ratu mengangguk. "Ya udah. Dah, Sayang..."

Aku sangat menikmati bagaimana Tante Ratu memanggilku 'sayang'. Aku mengecup kedua pipi ibu mertuaku itu. "Hati-hati, Ma..."

Aku memastikan mobil yang dibawa Pak Rahmat, sopir Tante Ratu, melaju meninggalkan butik, sebelum menghentikan taksi. Uwi sudah menghubungiku, mengatakan dia sudah berada di kafe tempat kami janjian. Hanya butuh 15 menit dari Queen Boutique menuju kafe itu.

Uwi menyambut kehadiranku dengan heboh, seperti biasa. Aku juga merindukannya, sebenarnya. Kami bertukar gosip sembari menunggu pesanan.

"How's your marriage life?"

Aku meneguk es teh yang kupesan. "Lumayan," gumamku.

Uwi mengernyit. "That bad?"

Aku benar-benar bingung bagaimana memulainya.

Tied The KnotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang