Part 27-2

91.9K 6K 57

“Ini ketiga kalinya aku mendapatimu melamun, hari ini.” Niko menyambar minuman kaleng dari kulkas mini di ruanganku. “Pasti karena dia, kan?” Niko menarik cincin kaleng. “Waktu aku bilang tatapanmu ke dia beda dengan Salma, ternyata aku seratus persen benar, kamu ada rasa pada pandangan pertama, dan sekarang, ketika kamu dengan gilanya melepas dia, kamu menyesal? Lagu lama Ibnu! Aku kasih nilai seratus untuk kerja kerasmu di perusahaan. Tapi nol, untuk sikapmu memahami wanita.”

    Aku tak bisa mengelak, yang dikatakan Niko sepenuhnya benar.

    “Aku sudah menduga Marsha juga memiliki perasaan padamu saat pertama kalinya dia berani datang mengajakmu makan siang. Tapi, kamu selalu bersikeras dan menyangka dia mencintai laki-laki lain.”

    Niko mengomeliku sepanjang waktu, tepatnya saat aku bercerita mengenai buku harian Marsha.     

    “Hutang lunas, maka kamu akan memulai segalanya dari awal, jujur dengan perasaanmu ke Marsha. Tapi, memang nasibmu naas banget, Nu. Kalau aku bilang sih lebih ke goblok. Menyia-nyiakan apa yang ada di depan mata. Kamu kira dia bakal tahu dengan apa yang kamu perbuat di belakangnya? Dia bukan cenayang. Astaga...!” Niko menggaruk kepalanya kesal.

    Aku mendesah. Niko tak akan berhenti menghakimiku.

    “Yakin kamu cuma ketemu itu di kamar, Nu?” Alisku bertaut. “Cewek biasanya sedikit lebay, dia bisa nyembunyiin apa aja, mungkin Marsha kebalikan dari Salma yang selalu terang-terangan mengungkapkan perasaannya, sampe kamu kelimpungan membalasnya dulu.”

    Tiba-tiba aku tersentak. Tidak ada bagian kamar yang berubah, aku bahkan tak pernah mengganggu gugat barang-barang Marsha semua masih terpatri di tempat sedia kala. “Niko, aku pulang sekarang, kalau ada apa-apa tolong handel dulu.” Kataku cepat yang bahkan melupakan ponsel di atas meja kalau Niko tidak mengingatkan.

    Sesampainya di rumah, Arga yang tengah bermain dengan Arya di ruang tengah langsung beranjak memanggil-manggil namaku. “Arga main sama Bang Arya dulu, ya?” tawarku lembut, Arga sama sekali tidak bisa mendengar suara meninggi, atau dia akan menangis detik itu juga. Biasanya dia akan ikut denganku ke kantor, tapi beruntung hari ini Arya di rumah, sedang libur kuliah.

    Arya mengambil Arga dalam gendongannya, mengecupi pipinya hingga anak itu kegelian dan melupakan keberadaanku. Segera aku ke kamar, mengunci pintu.

Apa masih banyak hal yang disembunyikan Marsha? Ketakutan merambatiku, mungkin aku akan menghitung satu per satu kebodohan yang telah kulakukan. Menumpuk penyesalan yang kian menjadi.

Buku-buku milik Marsha telah berserakan di atas kasur. Kebanyakan di dominasi dengan majalah. Gerakan tanganku yang awalnya cekatan berubah gemetar melihat satu foto kebersamaan kamu mencuat dari salah satu buku.

Napasku tersengal dengan rahang mengetat. Merutuki diri sebodoh-bodohnya, saat membuka halaman demi halaman, buku harian Marsha yang telah penuh dengan tulisan tangannya.

Aku terus-terusan memutar cincin nikahku. Rasanya aneh tiap kali memandanginya. Benar nggak sekarang aku seorang istri? Seorang Ibu? Meskipun bukan Ibu kandung. Tapi, dia bilang anak-anaknya nggak nakal. Memang nggak, hanya saja, tatapan mereka seakan memusuhiku.” Tulisnya di baris pertama.

    Kulirik cincinku. Cincin yang kubeli begitu aku menyetujui kesepakatan gila dengan Papa Marsha.   

"Saya terima nikah dan kawinnya Marsha Amalia Adinata binti Setiawan Adinata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Akhirnya aku sah menjadi suami Marsha Amalia Adinata sedari tadi Marsha terus memeluk ayahnya dengan air mata yang terus mengalir.

Diruangan ini juga dipenuhi dengan kakak laki-laki Marsha dan istrinya. Juga pengacara Setiawan Adinata.

Unfinished Fate [TERBIT]Baca cerita ini secara GRATIS!