Part 3-THIRD MOS

4.7K 358 25

Kejutan dari Dafit dan Angie cukup memukau hingga hampir mematikan seluruh saraf sadarnya. Sampai-sampai sekarang Cellyn merasa seperti mayat hidup. Pandangan matanya kosong dan bibirnya terlihat pucat. Bagaimana tidak? Kemarin di ruangan OSIS dia disidang dengan Angie dan Dafit. Dua orang itu bahkan sama protektifnya dengan Darrel.

Cellyn tau, kalau mereka semua tidak ingin dirinya menjadi korban. Korban perasaan dari seorang Kevin Atha Wijaya yang dingin tidak tersentuh.

Hanya saja, Cellyn juga tidak bisa mengendalikan dirinya waktu itu. Tidak bisakah mereka melupakan kejadian laknat itu? Tentu tidak! Dan cellyn dengan bodohnya mengharapkan itu.

Entah mengapa, melihat wajah Kevin,secara spontan kata itu meluncur. Dirinya bahkan tidak begitu memperhatikan detail wajahnya, tapi mengapa sampai sekarang Cellyn masih ingat wajah Kevin?

Double, double sial karena naasnya saat menuju ruang OSIS tadi dia bertemu Kevin. Cellyn tidak dapat mengartikan tatapan pemuda tampan itu.

Apa! Tampan? Sepertinya otak Cellyn sudah teracuni. Bagaimana bisa dia menyebut Kevin yang secara tidak langsung menjadi musuhnya, tampan?

Cellyn menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengusir cepat bayangan wajah Kevin. Cellyn mampir sebentar ke kantin untuk membeli susu coklat yang menjadi obatnya saat gelisah.

Baru saja tangannya merogoh saku untuk mengeluarkan uang, seseorang terlebih dahulu memberikan uang ke bu Aya, penjual kantin. "Nggak usah ..." Cellyn menggantungkan kalimatnya. Tidak melanjutkannya karena membeku menatap orang di sampingnya.

Bu Aya tersenyum canggung kepada anak pemilik sekolah ini, kemudian masuk ke dalam kiosnya dan melanjutkan aktivitas di dapur.

Kevin sedikit menunduk saat menatap Cellyn karena cewek itu tingginya hanya sebahunya.

Cellyn ingin menolak tapi tidak bisa. Sudah terlambat kalau ia ingin membayar susu coklatnya. Cellyn sama sekali tidak suka jika ia harus berhutang budi dengan Kevin, tidak bisa!

"Gausah," tolak Kevin dengan nada datar. Ia tau jika Cellyn ingin mengeluarkan uang.

"Gak! Gue nggak mau punya hutang budi dengan siapa pun," terutama lo, lanjut Cellyn dalam hati.

Kevin mengernyit bingung, sejurus kemudian dia sadar sesuatu. "Santai aja. Lagian uang itu hanya kembalian," jawabnya santai dan berlalu dari sana. Tangannya ia masukkan ke kantong celana.

Ugh, Cellyn ingin sekali menendangnya ke Mars. Lihatlah caranya berjalan, sangat angkuh dan mengintimidasi. Dan bodohnya mengapa Cellyn tertarik dengannya?

Sadar, Cellyn berlari pelan ke kelasnya. Begitu sampai di kelas, ia langsung menuju tempat duduknya dengan perasaan campur aduk. Wajahnya merah menahan malu dan marah. Andai saja ia seperti Harry Porter, Cellyn yakin ia akan menghapus ingatan Kevin tentang kejadian memalukan itu.

Namun sayangnya itu hanya ilusi, dia bukan tokoh fantasi yang bisa menyihir seseorang. Dia hanya cewek biasa.

Cellyn melihat Edel berjalan ke tempat duduk di sebelahnya. Dia memberi isyarat ke Edel supaya cepat duduk.

"Apa?" tanya Edel santai seperti di pantai, tanpa memedulikan ekspresi Cellyn saat ini.

"Del," ucap Cellyn pelan. "Gue bingung. Gimana ini?"

"Bingung kenapa?"

"Gak tau, pokoknya bingung," Cellyn tidak tau harus bercerita dari mana.

"Ya terus gue bisa tau dari mana kalau lo nggak cerita?" tanya Edel sarkartis, lalu memakan pentol yang dibelinya dari kantin. "Lo nggak jajan?" Meskipun Edel sangat cuek, bukan berarti dia tidak peduli pada kesehatan temannya.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!