P R O L O G

12.9K 630 13

Gadis kecil itu menabrak bahu anak lelaki yang sedang berjalan dihadapannya. Menimbulkan suara gaduh karena buku-buku yang ia bawa berjatuhan diatas lantai. Membuat si gadis kecil menghela nafasnya seraya mengerucutkan bibirnya.

Anak lelaki itu menatap sekilas gadis kecil yang ada dihadapannya. Kemudian ia merunduk dan memunguti satu persatu buku yang berserakan.

Sejurus kemudian, ia menyerahkan buku-buku itu tanpa suara. Gadis kecil itu menerimanya dengan senyuman tipis.

"Makasih, ya?"

Revan hanya mengangguk tanpa bersuara sedikitpun. Kemudian gadis itu menjulurkan tangannya. "Kenalin, aku Kara Valera Husen. Kamu bisa panggil aku Kara." ucap gadis seraya menyunggingkan senyuman manisnya.

Anak lelaki itu menautkan alisnya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan hijau milik sekolah mereka yang tengah diguyur hujan. "Revan." katanya tanpa membalas jabatan tangan Kara.

Kara menaikkan salah satu alisnya sambil menatap tangannya yang masih mengambang di udara. Beberapa detik kemudian, ia menarik tangannya dan menundukkan kepalanya sejenak. Rasanya, dingin semakin menusuk permukaan kulitnya ini. Ditambah lagi dengan hembusan angin yang menerpa kulitnya.

"Ng--Revan Hadinata Nugroho anak kelas tiga A 'kan?" tanya Kara dengan aksen agak ragu.

Revan mengangguk kemudian menatap Kara dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Anak tiga C 'kan?" Tanyanya balik.

Kara mengangguk dan tersenyum. Membalas tatapan mata Revan. "Kok kamu tahu?"

"Siapa yang enggak tahu Kara?" Revan melontarkan perkataan yang lebih menjurus kepada suatu pertanyaan.

"Emh---gak semuanya tahu aku kok, Van." Balas Kara seraya menunduk.

Revan hanya bergumam setelah mendengar perkataan Kara. "Umm--udah bel, Van. Aku duluan ya! Seneng bisa kenalan sama kamu, Revan." Kata Kara disertai senyumannya yang ramah.

Sejurus kemudian Kara berjalan meninggalkan Revan yang masih tersenyum tipis padanya.

》》》

Gadis itu menatap rintikan air hujan yang membasahi Kota Jakarta pada sore hari ini. Berdiri di samping sahabatnya di Halte Busway.

"Lucu ya Van, kalo kita inget-inget pas gue kenalan sama lo delapan tahun lalu. Pertemuan kita diawalin pas hujan. Dulu gue masih seneng hujan. Sekarang nggak." Ucap Kara seraya terkekeh pelan.

Lelaki itu hanya tertawa pelan seraya merangkul Kara. "Seketika gue tahu kalo orang tua lo sama orang tua gue sahabatan. Terus kita makin deket ditambah lagi rumah lo pindah disebelah rumah gue dan gue tau ternyata seorang Revan Hadinata gak secuek yang gue fikirin dulu." Jelasnya sambil terkekeh pelan.

"Karena gak semua orang itu bisa tahu gue yang sebenernya, Ra. Gak semua orang bebas dapet perhatian gue."

Kara menaikkan salah satu alisnya, memberikan tatapan tanya. Revan memejamkan matanya sejenak. Menikmati suara rintikan air hujan dan suara bising kendaraan yang lewat dihadapan mereka yang menjadi latar pembicaraan mereka.

"Suatu saat lo bakal tahu kok, Ra dan yang ngejawab itu semua adalah semesta." Jawab Revan.

"Kenapa harus semesta?" Tanya Kara sambil mengeratkan cardigannya karena dingin semakin menusuk permukaan kulitnya.

Revan menatap lurus ke depan, kemudian menggumamkan sesuatu. "Tuh busway-nya udah dateng. Yuk, pulang." Revan memberitahu sekalian mengalihkan pembicaraan.

Hujan & Semesta [completed]Baca cerita ini secara GRATIS!