Pembukaan

320 23 3

Aku dan Bimo dan Gadis yang Menyedihkan

PEMBUKAAN

BAHWA SESUNGGUHNYA, KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA.

...

Sebentar!

Ini bukan Pembukaan UUD 1945!

...

PEMBUKAAN

Bagaimana aku harus memulainya?

Ini adalah cerita yang menurutku sulit untukku ceritakan karena..., entahlah. Aku hanya merasa ini rumit untuk aku katakan.

Tapi..., baiklah akan aku coba.

Jadi, aku akan memperkenalkan diri.

Hai. Namaku Rizki Anggara. Iya. Anggara. Bukan Anggora. Tolong. Aku bukan seekor kucing.

Aku Rizki, umur 16, dan ini adalah kisahku pada awal sekolah.

Sekolahku adalah sekolah Negri biasa. Tidak terlalu tidak terkenal karena ini sekolah berakreditas A dan tidak sedikit calon murid yang mendaftar.

Salah satunya adalah aku.

Saat itu aku hanya beruntung karena memiliki banyak sertifikat selama SMP. Sertifikatnya tidak mengandung unsur Wah! karena ini hanya sekadar sertifikat.

Aku tau kalian bingung dengan apa yang aku ucapkan, maka dari itu aku sudah bilang, ini adalah cerita yang rumit untuk aku katakan.

Tapi tenang! Bimo di sini, dia akan membantuku menceritakan cerita ini. Tapi dia tidak akan berbicara sebagai pengantar cerita. Dia hanya akan beraksi di dalam cerita.

Bimo itu siapa?

Dia adalah seorang laki-laki. Dia bukan musuhku, tapi dia juga bukan temanku. Tapi kami sudah kenal sejak berumur 9 tahun. Tapi kami tidak begitu dekat. Tapi kebanyakan tapi. Tapi kali ini bukan tapi. Tapi aku tidak mengerti. Tapi aku harus membuat kalian mengerti.

Mengerti kan, maksudku?

. . . .

Aku tau. Aku memang tidak pandai bergurau.

Jadi aku berhasil masuk sekolah ini melalui jalur prestasi. Sertifikat yang aku punya memiliki nilai juara mulai dari tingkat ketiga hingga tingkat pertama.

Setelah itu Bimo ikut, diterima di sekolah yang sama denganku melalui kepintarannya.

Jangan salah paham! Bimo memang memiliki tampang lebih jelek daripadaku. Tapi otaknya lebih terasah daripadaku.

Aku tidak akan mengulang kesalahan tapi lagi.

Jadi kami bersekolah di sekolah yang sama.

Namanya sekolah, pasti ada kelompok anak di mana mereka merasa berkuasa. Aku dan Bimo menyebutnya kelompok penindas. Ada juga kelompok anak di mana mereka tidak bisa berkuasa. Aku dan Bimo menyebutnya kelompok tertindas.

Aku masuk kelompok yang mana?

Di sekolah aku tidak begitu terkenal. Setiap istirahat, kantin selalu penuh dan banyak aksi kriminal—menurutku kriminal—sehingga membuatku harus menghindar.

Aku tidak pernah masuk ke dalam sebuah masalah dan aku berharap tidak akan memasuki zona tidak aman tersebut. Maka aku masuk kelompok anak biasa-biasa saja.

Kelompok apakah itu?

Setiap orang yang tidak ingin mendapat masalah harus bertingkah biasa-biasa saja. Untukku sendiri, aku hanya berjalan seperti biasa dan mencuci tangan seperti biasa.

Jika ada kelompok penindas aku hanya menyunggingkan senyum tanpa ada unsur mengusik, mengkritik, mengancam, dan menyebalkan.

Dan di sinilah aku setiap istirahat. Berada di perpustakaan bersama Bimo. Membaca buku klasik seperti WWI dan WWII. Tapi kali ini aku tidak membacanya. Karena buku itu sudah tamat. Sekarang aku hanya membaca buku biologi kelas sepuluh.

Aku tau aku kelas sebelas. Tapi aku bukanlah anak dari jurusan IPA.

Kami tidak banyak berbicara. Hanya duduk diam, menikmati makan siang kami, sambil membaca.

"Ternyata biologi sama aja kayak ekonomi, gak ada bedanya." ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

"Diem apa! Ganggu konsentrasi gue aja," desis Bimo sama saja mengganggu konsentrasiku.

Aku hanya memutar bola mata dan kembali membaca.

Bel berbunyi. Pertanda istirahat telah selesai. Aku segera mengembalikan buku yang kuambil dari rak pelajaran dan membereskan bekalku.

"Duluan, Bim!" sahutku sambil berlalu.

"Silahkan!" balas Bimo ringan.

Aku berjalan menuju kelasku dengan santai. Tidak perlu terburu-buru karena gurunya juga pasti datang lima menit setelah bel berbunyi.

Di perjalanan menuju kelas, aku melihat kelompok penindas sedang melakukan aksi kejahatan. Terkadang aku merasa kasihan terhadap anak-anak yang tertindas. Ingin aku membantu tapi tidak mungkin karena kalian tau alasannya apa.

Aku melihat iba ke gadis yang tertindas itu. Wajahnya merah, matanya juga. Nampaknya ia akan segera menangis karena aku melihat kaca-kaca di bola matanya.

Aku berpaling dan melanjutkan langkah kaki tanpa ingin melihat ke belakang. Aku tidak ingin dapat masalah.

Tidak. Apa yang aku lakukan tidak salah. Karena apa yang aku lakukan merupakan self defense.

To be continued. . .

[A/N] Hai teman-teman semua yang membaca sampai sini! Terima kasih sudah membaca 😊 I really appreciate that.

Di cerita ini, gue mau kalian mengambil hikmahnya. Walaupun gak setiap chapter bernilai moral, tapi gue mohon ambil yang bagus dan biarin yang jeleknya.

Terima kasih:) sampai jumpa!

Aku dan Bimo dan Gadis yang MenyedihkanBaca cerita ini secara GRATIS!