Part 1-FIRST MOS

Mulai dari awal

"Itu udah lama banget Ma."

"Tenang Dek, ada Abang. Semua pasti beres," kata Darrel bangga.

Cellyn meletakkan sendoknya di piring. "Yang ada bukan beres, tapi –"

"MOSnya mulai jam berapa Cellyn?"

Cellyn hampir saja lupa. Dia sampai tidak sadar kalau limabelas menit lagi upacara pembukaan MOS akan dimulai. Setelah meminum susu dan berpamitan, Cellyn menyeret Darrel agar cepat keluar.

"Cellyn telat. Ma, Pa Cellyn berangkat dulu ya."

Oke fix, Cellyn panik. Bagaimana tidak? Dihukum, di hari pertama MOS pertama. Membayangkan saja Cellyn sudah begidik ngeri. Takut –takut kalau imajinnya itu benar terbukti. OSIS akan menghukumnya membersihkan gudang atau kamar mandi atau lebih parahnya tempat keramat yang membuat Cellyn parno, lapangan.

"Cepetan elah Bang nyetirnya. Gue nggak mau dihukum," paniknya.

"Bawel banget sih lo. Tinggal duduk apa susahnya?"

Cellyn memberengut. Untung saja jalanan lenggang. Sepertinya orang-orang tau kalau kedua kakak-adik ini sedang dikejar waktu. Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi. Darrel dulunya juga pembalap mobil jadi dengan lihai dia bisa mengendarai mobil selamat sampai sekolah.

"Abang lama kaya siput," ucap Cellyn kesal.

Darrel mencubit hidung adiknya gemas. "Kalau gue siput lo Adiknya siput dong?"

Cellyn mendengus, "ya ya ya, whatever."

Cellyn keluar dari mobil tanpa menoleh ke kakaknya. "Oh ya lupa, ntar jemput jam setengah tiga. Inget jangan lupa!"

*****

Terlihat banyak siswa-siswi baru yang sepantarannya lari sana-sini. Mencari tempat berbaris di lapangan. Mereka sibuk mencari tempat yang sedikit teduh karena apel akan berlangsung cukup lama. Cellyn hanya bisa menghela napas pelan, dia sama sekali belum mendapatkan teman bicara. Sedari tadi hanya pontang-panting mengikuti arahan dari kakak OSIS. Bagi anak yang terlambat, mereka langsung mendapat tindakan tegas dari OSIS. Cellyn harus selalu mengingat kalau peraturan di sini jauh lebih ketat dibandingkan sekolahnya dulu.

Mereka yang telat disuruh berdiri membentuk barisan sendiri dan menghadap ke arah matahari. Panas dan silau pastinya. Dari banyaknya siswa baru yang telat, Cellyn melihat satu siswa yang hmmm ... sedikit menarik perhatiannya. Tanpa persetujuan darinya, mulutnya membuka dan...

"Hai!" semua peserta yang ada di sana melihatnya.

'Mampus gue," katanya dalam hati

Tanpa Cellyn sadari, dia menjadi pusat perhatian semua siswa. Salah seorang OSIS menghampirinya dan berkacak pinggang. "Setelah ini lo dihukum. Cari karton, tulis kesalahan lo, dan masuk ke kelas-kelas yang akan dibuat MOS. Ngerti?"

"Ngerti Kak." Cellyn hanya bisa menunduk dan tangannya berkeringat dingin.

*****

Apel sudah selesai dan siswa baru disuruh masuk ke kelas gugus masing-masing. Cellyn hanya bisa merunduk menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu. Malu karena mulutnya yang tidak di rem, dia menyapa seseorang dengan sangat kencang dan itu cukup menarik perhatian semua orang yang mengikuti apel. Bisikan-bisikan jahat tentang dirinya langsung terdengar. Cellyn tidak tahu apakah nanti akan ada yang mau jadi temannya mengingat peebuatannya tadi sangatlah memalukan. Belum lagi dia harus melaksanakan hukuman dari OSIS.

Cellyn berdiri di depan kelasnya. Teman-teman satu gugusnya melongok dari jendela memperhatikannya. Dengan karton berukuran sedang, bertuliskan 'Mulut Gue Blong' yang sangat besar, Cellyn masuk ke kelas-kelas. Betapa malunya dia. Bahkan jika tidak ada Darrel, Mama, dan Papa, Cellyn yakin sekarang sudah menghilang ke Mars.

Hukuman selesai, Cellyn kembali ke kelas. Sebelumnya, Cellyn melihat namanya yang tetempel di kaca jendela. Di barisan no 15 kelas 10A. Kakinya melangkah masuk dan suasana berbeda langsung menyambutnya. Kelas yang menarik tapi sayangnya harus di isi oleh para siswa jahanam yang kelewat brutal. Cellyn menyimpulkannya demikian karena saat kaki kirinya di ambang pintu, bertepatan dengan itu satu sapu melayang dekat kakinya. Sungguh, sepertinya Cellyn harus memberi gelar baru bagi teman-temannya, 'Magic Devil'.

Baru saja dia mendudukkan bokongnya, OSIS datang dan langsung main membuat sebuah permainan. Peraturannya, satu siswa harus mendapat 10 teman beserta alamat mereka dalam waktu 2 menit.

Tanpa diminta, beberapa orang langsung menhampiri Cellyn dan memperkenalkan diri masing-masing sesuai syarat OSIS, lengkap nama dan biodata.

"Hai gue Sisca."

"Gue Rika."

"Kalau gue Novia."

"Kenalin gue Angel, Angelica."

"Gue Inggrid."

Dan masih banyak lagi yang mengajukan namanya kepada Cellyn. Dia hanya cengo, tidak menyangka jika sebanyak ini yang mau menjadi temannya.

Lama, Cellyn memandang mereka heran, hingga satu suara menginterupsinya.

"Hai. Nama gue Denin." Cowok itu mengulurkan tangannya menunggu Cellyn segera menjabat ulurannya.

Tapi sayang Cellyn hanya memandangnya tanpa minat. Bukannya sombong atau apa, tapi dia mewarisi sifat cuek itu dari papanya.

"Udah dapet berapa temen? Mau dibantuin nggak?" tanya Denin lagi.

"Nggak usah, makasih."

Denin kembali ke meja asalnya. Cellyn tak acuh dengan Denin dan lebih antusias dengan siswi yang sedari tadi hanya diam. Cellyn menghampirinya dan mengajaknya.

"Hai gue Josselyn," sapa Cellyn ramah.

Gadis itu meliriknya sekilas, kemudian memutar tubuh menghadapnya."Gue Edelwiss." Ekspresi wajahnya sama dengan Darrel, datar dan terkesan dingin.

"Em, sendirian ya ... maksud gue nggak ada temen SMP gitu?" tanya Cellyn hati-hati.

"Enggak," jawab Edel singkat.

"Mau semeja sama gue nggak? Soalnya gue juga sendirian duduknya."

Edel melirik meja yang dimaksud dan mengangguk, "boleh juga."

Setelah menempati tempat duduk masing-masing, Cellyn ingin memastikan sesuatu dari Edel. "Kita temenan kan?" Cellyn was-was karena dari awal berkenalan sampai sekarang Edel hanya diam seribu bahasa. Hanya Cellyn yang berbicara dan Edel seperti terganggu.

"Temen?"

"Iya, kita temen kan?"

"Siapa bilang kita teman?" Edel menghembuskan napas pelan, "sahabat aja gimana?"

"Beneran kita sahabatan?" Mata Cellyn berbinar.

"Iya bener. Gue mau kita sahabatan mulai dari sekarang."

Di hari MOS pertama, Cellyn memutuskan untuk memulaikisah SMA yang jauh lebih berbeda dari kehidupan SMP nya. Mendapat sahabat baruyang semoga saja tidak semunafik sahabat lamanya.     

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!