Part 1-FIRST MOS

9.1K 610 52

Vote sebelum baca dan komen setelah baca ya ^^

*****


Josselyn Alvioni William. Seorang gadis yang baru saja menginjak remaja. Tepat hari ini, resmi menjadi siswa SMA MERAH PUTIH. SMA terpandang di Jakarta, tempat kelahirannya. SMA yang diimpikannya akan bisa membuktikan opininya kalau SMA merupakan masa paling indah, masa dimana remaja lagi seneng-senengnya bergaul, temen banyak, dan yang paling penting, SMA adalah masa yang akan kita ingat jika sudah lulus nanti.

Cellyn, begitu ia dipanggil, gadis ini mempunyai tubuh yang proporsional bak model, wajah Asia yang sangat manis, rambut sepinggang yang hitam legam. Anak dari pasangan Pratama dan Rosselyn ini mempunyai seorang abang (kakak). Tinggi, rupa yang elok, dan kulit putihnya yang menandingi kaum hawa. Namanya Darrel, si beku dari kutub utara.

Stop masalah kulit, sekarang yang penting adalah dia harus mempersiapkan alat-alat MOS. Masa Orientasi Siswa, yang banyak disalahgunakan senior atau lebih akrab di sapa kakak kelas untuk balas dendam kepada peserta didik baru. Ajang penyiksaan dan pembullyan sungguh sangat mengganggu Cellyn. Dia sangat benci dengan penindasan. Sayangnya kali ini dia korbannya. Kali ini dia mendapat titah dari para OSIS untuk berdandan ala-ala orang gila yang suka berlalu-lalang di depan sekolah barunya. Kaos kaki kanan merah, kaos kaki kiri putih yang panjangnya sebelah. Rambut yang dikuncir sebanyak tanggal kelahiran, dan name tag ukuran 15 cm X 25 cm yang cukup membuat orang katarak bisa melihat namanya dengan jelas. Dandanannya semakin lengkap karena tas dari bak sampah yang menempel indah di punggungnya.

"Pagi Ma, Pa," sapanya dan mencium pipi keduanya.

Tiba-tiba seseorang menceletuk. "Ehem Abangnya yang di sini nggak juga?"

Cellyn menoleh menuju sumber suara. Wajahnya berseri, "yeay ... Abang pulang. Kangen tau." Tetapi ia mendadak cemberut mengingat Darrel yang worcaholic.

"Tau kok kalau gue ngangenin," balas Darrel sambil mengacak rambut Cellyn yang sudah terkuncir rapi 30.

"Abang!"

"Ntar dulu kangen kangennya. Ayo sarapan dulu. Adeknya kan mau sekolah. Nanti kalau telat dihukum, kasihan, ya kan Pa?"

"Benar kata Mama." Berbeda dengan mamanya, papanya justru lebih cenderung dingin sifatnya, sama dengan kakaknya, Darrel. Yah meskipun Darrel masih abal-abal. Tapi dia lumayan unggul meniru sifat papanya itu.

Mereka sarapan diselingi cerita dari Cellyn dan pengalaman Darrel waktu kuliah di London. Darrel sedari tadi juga tak henti membully adiknya itu. Penampilan adiknya sudah seperti orang gila yang pernah ia temui di London, tapi lebih parah orang di sebelahnya ini.

"Adeknya jangan digituin Bang," tegur Rose, mama mereka, saat Darrel sudah kelewat jail.

Di meja makan ini, hanya ayahnya yang sadar dengan waktu. Sedangkan mereka bertiga masih mengobrol yang, entahlah, sedikit tidak penting.

"Darrel kamu antar Cellyn. Papa ada tugas ke luar kota sama Mama."

Cellyn membulatkan matanya. Baru saja ingin protes, kakaknya sudah menyela lagi. "Oke Pa siap."

"Jadi artinya Mama juga pergi gitu? Kok sama Mama sih Pa? Nggak mau ah di rumah sama Abang. Nggak ada yang masak." Cellyn protes karena dia tidak mau membiarkan perutnya menjerit setiap hari karena tidak ada yang memasak. Untuk ukuran cewek memang dia tidak pandai memasak.

"Kamu ini yang dipikir makan aja. Tapi nggak gemuk gemuk," oh shit, Cellyn lupa kalau kakaknya itu punya senjata untuk melawannya.

"Nanti delivery aja ya sayang, Cuma 5 hari kok, nggak lama."

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!