--1--

815 49 3
                                        

Other POV

Gadis itu tampak kepayahan membawa bawaannya. Lagipula tubuhnya itu sangat mungil. Walaupun bisa dibilang dia mempunyai bentuk tubuh yang bagus dan langsing. Sementara itu, seorang laki-laki berbadan tegap sedang kepayahan mencari kelas barunya. Walaupun dia tahu semua mata memandanginya, tapi tak ia ambil pusing.

Ya, hari ini hari pertama sekolah dimulai. Si gadis atau yang bernama Sana disuruh orangtuanya untuk memberikan kue mochi untuk semua guru dan teman-teman dikelas barunya nanti. Mengesalkan memang.

"Yak! Bagaimana aku akan sampai kelas dengan selamat bila begini caranya?"serunya kesal. Sementara sang namja atau panggil saja Mawar *eh, enggak ding* maksudnya Mark sedaritadi berputar-putar ditempat yang sama mencari kelasnya.Mereka lalu berpapasan didepan mading sekolah.

Sana yang mengomel sendiri dan Mark yang tak acuh pada keadaan sekitarnya. Mereka tak saling menyapa. Melihatpun tidak. Mereka hanya saling melewati dan kembali keurusan masing-masing.

Sana POV

Huh, akhirnya aku sampai juga dikelas baruku. Bawaan yang begitu banyak sangat menyusahkanku. Hua! Okaasan memang kejam! Tapi, jika aku tak membawanya, kasihan okaasan yang telah mempersiapkannya sampai larut malam.

Aku lalu mengambil sekantong besar berisi kue mochi. Lalu aku bergegas menuju ruang guru. Untung saja aku sudah browsing dan menjelajahi sekolah ini. Jadi aku tidak akan kebingungan. Tanyakan saja ruang manapun disekolah ini, pasti akan kujawab. Walau belum tentu aku tahu.

Toktoktok, aku mengetuk pintu ruang guru. "Siapa?"tanya Seseorang sambil membuka pintu bercat cokelat tersebut. Seorang pria paruh baya berkemeja putih menyambutku. "Annyeonghaseo. Aku ingin mengantar ini soengsanim. Dari ibuku. Kami baru pindah dari Jepang tiga hari lalu."ujarku tangkas.

"Ah! Kamsahabnida semoga kau betah disini."balas guru itu. "Nde, kalau begitu saya permisi kembali kekelas, soengsaenim."pamitku sambil membungkukkan badan. Ahjusi itu mengangguk. Hua! Bebanku serasa hilang semua.

Mark POV

Huh! Shit! Aku tak bisa membaca satupun huruf-huruf haengul ini. Bagaimana aku bisa tahu kelasku dimana. Oh God! How lucky am i? Daritadi aku terus berputar diarah yang sama. Baiklah, coba lagi! Kali ini belok kanan saja.

Huh! Mengapa mereka semua menatapku dengan tatapan yang dominan sama? Aku tahu aku memang ganteng dan cool. Tapi tak perlu menatapku seperti itu juga kali! Yak! Habis ini kemana? Aku mencoba membaca papan penunjuk jalan.

"Damn! Mengapa semuanya huruf haengul? Apa mereka tak tahu aku tak bisa membacanya?"gerutuku. Seharusnya aku menanyakan jalan keseseorang. Tapi keberuntunganku sangat banyak kali ini. Guess what? Aku tak bisa bahasa korea.

Betapa malangnya aku hari ini. Aku lalu berjalan lurus dengan pedenya. Wah! Bukankah ini mading yang tadi? Hah! Aku frustasi! Oh God! Kirimkanlah aku malaikat baik yang dapat menolongku. Dan usahakan cantik. Biar bisa sekalian jadi kecengan hahaha!

Aku lalu terkekeh kecil. Huh, otakku ini sedang bermasalah ya? BRUK... GEDEBUK. Damn! Apakah seseorang tengah mengutukku hari ini? Aku menabrak seorang gadis mungil. Dan kau tahu? Dia terjatuh.

"Aish...omo! Yak! Siapa yang menabrakku?"dia berteriak. Oh God, apakah telingaku masih dalam keadaan yang bisa dikategorikan baik? Suaranya cempreng sekali! "I'm sorry. Mari kubantu."aku lalu mengulurkan tanganku.

Si gadis lalu mendongakkan kepalanya. Kupasang senyum menawanku. Lihat saja dia pasti langsung salting dan langsung memaafkanku. "Heh! Jalan itu pakai mata sama kaki dong dasar makhluk asing!"semburnya langsung.

Kutarik ucapanku tadi. Aku lalu menurukan kedua ujung bibirku. Lihat! Bahkan menatapku dengan tatapan memujapun tidak. Ckckck... gadis ini. Wait! Tadi dia berbicara bahasa inggris.

Tuhan, apakah ini malaikat yang kupinta tadi? Cantik sih tidak diragukan lagi. Tapi, sejudes ini kah? "I don't mean. But, can you help me?"tanyaku lembut. Kutatap dia dengan campuran puppy eyes dan tatapan mautku.

"What? Me? Help you? No way!"serunya sambil menunjuk dirinya dan diriku bergantian. Dia lalu berusaha berdiri, tapi nampaknya tak bisa. Sesakit itukah? Kuteliti lagi kakinya. Ya ampun! Berdarah! "Apakah sakit? Kakimu berdarah."peringatku. "Hah? Jinja! Omo... okaasan aku dilukai namja babo satu ini!"dia menjerit lagi.

Okaasan? Berarti dia orang Jepang? Huh, apa peduliku? Tapi dia satu-satunya orang yang bisa menolongku dikeadaan genting ini. Aku lalu mengendongnya ala bridal style. Kulihat semua orang disana menghentikan aktifitas mereka dan menatap kami berdua dengan tatapan yang i..ri? Entahlah.

Gadis itu sempat mematung. "Dimana UKSnya?"tanyaku sambil menatapnya dan tak lupa menyisipkan senyum. "Yak! You are so stupid! Lihat! Mereka semua menatap kesini tahu."katanya pelan dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.

"Apa peduliku? Heh, mengapa kalian lihat-lihat? Ganggu orang pacaran saja."seruku kepada semua orang yang menatap. "Bodoh! Mengapa kau berbicara seperti itu? Cepat turunkan aku!"dia memberontak lagi.

"Tunjukkan saja UKSnya dan lingkarkan tanganmu itu keleherku. Kau bisa menyembunyikan wajahmu itu diketiakku, hahaha."candaku. "Ish! Itu tidak lucu!"geramnya sambil memukul lenganku. "Hahaha, aku bercanda. Sembunyikan wajahmu itu dilenganku!"perintahku. "Shiero! Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan!"ketusnya. "Cepat! Atau kita akan disini terus dengan posisi seperti ini selamanya!"ucapku dingin.

"Lurus saja, nanti pas mentok belok kanan. Pintu warna hijau."jawabnya. Dia lalu menuruti perintahku tadi. "Good girl!"ucapku sambil tersenyum kecil. Entah apa yang mendorongku melakukan hal bodoh itu. Aku lalu mengikuti arahannya dan membawanya masuk keruangan bernuansa putih ini.

Bau obat memenuhi ruangan ini. Aku lalu mendudukkannya kepinggir kasur dan mengambil kotak P3K. Dan mengeluarkan kapas. Untung saja kotak ini ada lambangnya. Bila tidak aku akan seperti orang bodoh.

Sana POV

Huh! Apa yang ada dipikiran namja didepanku ini? Dia mengendongku, tiba-tiba mengakuiku sebagai pacarnya, menyuruhku melingkarkan tanganku kelehernya dan menyembunyikan wajahku dilengan kekarnya itu? Apakah dia gila? Dan aku lebih gila lagi dengan mengikuti perkataannya!

Aigoo... aku malu sekali. Tapi aku harus berpura-pura cuek padanya. Bila tidak dia akan merasa menang. Aku tahu sekali tipe-tipe namja macam ini. Sadar pesona, suka tepe-tepe, hih. Dia pasti mengira aku akan terpesona dengannya. Apa dia gila?

Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu. "Aw! Hey silly boy! Pelan-pelan bisa?"ketusku. Dia membersihkan lukaku pakai tenaga gajahkah? Sakit sekali! Appo😭. Lihat! Dia sekarang cengar-cengir gaje. Jangan-jangan dia ini salah satu pasien rumah sakit jiwa yang lepas? Okaasan, didepanku ada orang gila ganteng, eh? Apa penyakit gilanya menular padaku ya?

"Tara~ lihat! Aku berbakat menjadi dokter kan? Hehehe."ucapnya sambil cengengesan. Demi neptunus! Dia benar-benar gila? "Yak! Ternyata selain bodoh kau juga gila ya? Oh Gee, seingatku semalam aku bermimpi jalan-jalan dengan salah satu member Soshi. Mengapa sekarang aku malah bertemu orang ini??!"geramku sambil mendongakkan kepala menatap langit-langit UKS.

"Hahaha, kau sungguh lucu. Bolehkah aku memasukkanmu kekantong?"tawarnya. "Yak! Entahlah, aku tak mau berurusan denganmu lagi!" Entah mengapa jantungku berdebar sangat cepat melihat dan mendengarnya tertawa. Aku ingin cepat-cepat menjauhi namja ini untuk kesehatan jantungku. Aku lalu berusaha berdiri. Tapi dewi fortuna sedang tidak bersamaku. Kakiku nyeri sekali.

Semua gara-gara namja babo satu ini. "Perlu bantuan, eoh?"tanyanya. "Aniya. Aku tak menginginkan apapun darimu."jawabku. "Baiklah kalau begitu, silahkan membusuk ditempat ini. Dan, oya aku baru ingat. Kudengar dari gosip-gosip tetangga sih, tempat ini angker. Eum.. ralat! Maksudku sangat amat menyeramkan dan angker."katanya menakutiku.

"Huh! Kau ini berbicara apa? Masih mimpikah? Mana ada hal-hal seperti itu! Aku bukan anak kecil yang bisa dengan mudah kau bohongi ya."balasku sengit. Enak saja dia menakut-nakutiku. Krek...

TBC

Only YouWhere stories live. Discover now