Dear Future Husband

27.9K 2.3K 215

Dear My Future Husband,

Aku ini egois dan keras kepala. Jika kamu memilihku, maka aku adalah perempuan paling beruntung sedunia. Because finally there's somebody stupid enough to love me. Jangan kamu paksa aku untuk mengikuti aturanmu. Karena aku—si kepala batu—akan merasa hidupku terpenjara olehmu. Semakin kamu paksa aku untuk mengikuti jalan pikiranmu, semakin aku membangkang. Gunakanlah kelemahanku untuk mengaturku. Aku ini realistis dan tidak menyukai hal-hal yang ribet, gunakan dua kelemahanku itu untuk mengaturku. Maka aku bukan saja akan patuh padamu, tetapi aku akan menghormatimu.

Kamu tidak perlu bertingkah mengekangku dengan status atau kodratmu, aku akan dengan sukarela mengekang diriku dengan komitmen yang kita buat sendiri jika aku merasa kamu memang layak aku hormati.

Aku tidak janji akan pandai memasak (meski kuyakin, aku ini cukup jago mengulek sambal). Karena, percayalah, hasrat dan bakat seniku bukan disana. Lidahku tidak bisa membedakan makanan yang enak dan tidak enak. Karena buatku makanan hanya ada enak dan enak sekali. Apalagi urusan mencuci baju dan membersihkan kamar mandi, sungguh aku tak punya bakat seni disitu.

Aku juga tidak bisa berjanji untuk bersedia diam di rumah, karena aku merasa otot dan otakku akan terus terasah jika aku tetap menjadi wanita karir dengan profesiku sekarang. Sungguh, bukan aku bermaksud ingin menyaingimu, bukan bermaksud menggantikan tugasmu sebagai pencari nafkah, bukan bermaksud membuatmu merasa kecil. Aku hanya ingin menggapai mimpi-mimpi kecilku satu-persatu, dan menjadi seorang istri dan ibu bukan satu-satunya mimpiku. Namun aku rela berkorban dengan bersusah payah memutar otak dan menguras energi untuk membagi waktu dan perhatianku untukmu, juga untuk anak-anak. Kamu boleh mencabut hak kebebasanku mengejar mimpi jika ternyata aku gagal membagi waktu dan perhatianku.

Suami masa depanku, kelak ketika kamu membaca tulisan ini lagi, mungkin kita sedang di kereta, melakukan perjalanan yang tidak terlalu terencana sebelumnya. Mungkin kita akan berhenti di Cirebon, mungkin Jogjakarta, mungkin Solo, atau Surabaya... Bahkan mungkin ternyata kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal ke Nusa Tenggara Timur. Atau mungkin kita sedang di pesawat, menuju Singapura. Bisa juga kita sedang berada di atas daratan Eropa, menuju Islandia untuk menikmati aurora borealis.

Entahlah. Kemanapun, yang jelas aku bersamamu. Melakukan perjalanan ini bersamamu. Kemanapun tujuan kita, kita akan selalu bersama. Menikmati pemandangan yang disajikan oleh Tuhan. Mensyukurinya, karena aku menikmati apa yang disajikan Tuhan bersama orang yang tepat. Yang aku sayangi dan aku hormati. Kamu yang lebih mengerti tentang arah mata angin akan menuntunku dan aku menyerahkan diriku padamu. Tidak hanya itu, aku akan membantumu membaca peta, membantumu membuat keputusan. Karena kita melakukan perjalanan ini bersama-sama. Dengan begitu, kita tidak akan tersesat. Kalaupun tersesat, tak apa lah, bersama denganku lebih baik daripada sendiri. Bersama denganmu pun lebih baik daripada sendiri.

Untuk suami masa depanku, saat ini aku sedang siapkan perbekalan yang cukup untuk melakukan perjalanan bersamamu. Aku tahu, kamu pun sedang mempersiapkan perbekalanmu sendiri. Bersiap-siaplah, karena waktu terus berjalan, dan kita akan segera memulainya.

Tertanda,
Teman perjalananmu si pemimpi.

Dear Future HusbandBaca cerita ini secara GRATIS!