R#1

95 9 2
                                        

Hai nama ku Qatrunnada Rain Amberlie, bunda sengaja memberiku nama itu.
Qatrunnada berarti tetesan embun, Rain berarti hujan, dan Amberlie berarti langit, bunda selalu bilang bahwa aku akan selalu menjadi embun penyejuk setelah hujan dari langit, ya begitulah kurang lebih. Kalian cukup memanggilku dengan sebutan Rain, kenapa bukan Qatrun? Nada? Atau Amberlie? Jawabannya singkat, karna aku suka hujan.

Hujan bukan hanya anugrah dari Tuhan, tetapi juga sumber kebahagiaan untuk semua makhluknya, termasuk aku. Walau kadang petir membuatku takut, tak pernah ada hujan yang ku lewatkan. Walau terkadang bunda selalu memarahiku, takut kalau aku sakit atau demam, dan ajaibnya aku tak pernah demam karna hujan, menyenangkan bukan?

Kalian tahu kenapa aku suka hujan? Hujan mampu membawaku larut dalam kesejukannya, melupakan sejenak penat yang ku rasa, menikmati hidup, dan tentunya melupakan beban dipundakku. Jika sebagian besar orang lebih memilih menghindari hujan, berbeda denganku yang justru menari, melompat, meliuk-liukkan badanku di bawah derasnya hujan. Aku bahagia, bernyanyi, berteriak, tak perduli semua orang memandangku aneh, karna memang ini hobby ku. I love Rain.

Hari ini bunda membuat banyak kue yang akan dititipkan ke kedai tante Lora. Kedai tante Lora ini memang selalu ramai oleh pengunjung, mereka kebanyakan didominasi oleh anak-anak remaja dari SMA hingga seusiaku. Tante Lora ini sahabat baik bunda, karna itu aku akrab sekali dengannya, ia memiliki beberapa pegawai yang bisa dibilang asik, mereka slalu ramah padaku, dan ada satu sahabatku yang bekerja disana, namanya Naufal Dary Abiyyu, panggil saja Abi. Dia sahabat ku dari kecil, Abi adalah sosok yang mandiri, dia tak mau bergantung pada ke dua orang tuanya, jadi dia kuliah sambil bekerja, aku sering membantunya bekerja, walau hanya sekedar mengantarkan pesanan ke meja pembeli.

Bunda sudah mengemas kue-kue nya dan siap untuk diantar, kini giliran ku yang bertugas mengantar kue-kue itu ke kedai tante Lora, ku letakkan kue-kue itu dikeranjang sepedaku, tak lupa berpamitan pada bunda "Bunda Rain berangkat dulu, mungkin Rain akan pulang terlambat, Rain ingin membantu Abi di kedai" bunda tersenyum ramah padaku "iya sayang, hati-hati dijalan, bunda akan membantu ayah di kebun, pulanglah sebelum jam makan siang". Pesan bunda padaku " baik bunda, Rain berangkat , daa bunda". Setelah mencium tangan bunda akupun segera mengayuh sepedaku menuju kedai tante Lora, sesampainya disana aku masuk dan meletakkan kue kue seperti biasa, cukup ramai hari ini "Hay Ab, kedai cukup ramai hari ini, pasti kau sangat sibuk" sapa ku pada Abi, sahabatku.
"Oh tentu Rain, aku sangat sibuk hari ini, bisakah kau bantu aku mengantarkan pesanan ini ke meja nomor 10". Ucap Abi dan menyodorkan pesanan pelanggan, aku dengan senang hati mengangguk " dengan senang hati Ab, akan ku antarkan". Setelah mengantar pesanan pelanggan aku masuk kedalam dan menemui tante Lora untuk meminta uang pembayaran kue kue bunda "Pagi tante" kulihat tante Lora sangat sibuk hari ini "Pagi Rain sayang, kau sudah sampai ternyata,ini uangnya. Kau sangat cantik hari ini, ceria sekali, pasti bundamu menghadiahkan kue lezat untukmu pagi ini" ucap tante Lora sambil tersenyum ramah padaku.
"Tentu saja tante, bunda slalu membuatkan kue lezat untukku dan ayah setiap pagi, bagaimana dengan pekerjaan tante? Apa ada yang bisa Rain bantu?" tawarku yang melihat tante Lora sibuk dengan berkas berkasnya "kau bisa membantu Abi di luar sayang" jawab tante Lora, "baiklah tante, Rain permisi". Akupun keluar dari ruangan tante Lora dan menghampiri Abi lagi.

Aku sibuk membantu Abi, kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 11:00 , aku harus pulang, sebentar lagi jam makan siang dan aku harus membantu ayah serta bunda di kebun " Ab, aku harus pulang, sebentar lagi jam makan siang, dan aku belum membantu bunda dan ayah dikebun" kurapikan lagi kotak kotak wadah kue milik bunda untuk ku bawa pulang, Abi tersenyum padaku "Iya Rain, pulanglah, terimakasih sudah membantu, setelah ini aku akan kerumahmu,jangan kemana-mana" pesan Abi yang hanya ku balas dengan anggukan dan juga senyuman termanisku.

Ku kayuh lagi sepedaku menuju ke rumah untuk mengambil bekal makan siang untuk ayah serta bunda, ku susun rapih di rantang warna pink favoritku, dan bergegas menuju kebun teh. Ayah dan bunda sudah duduk di rumah kecil tempat beristirahat, aku tersenyum lebar pada mereka "Ayah bunda maaf Rain lama, kedai ramai sekali tadi" ucap ku seraya mencium tangan kedua orang tua ku, "tidak apa apa sayang, ayah dan bunda juga baru saja selesai, kau bawa makanan apa?" ku buka rantang pink milikku "hanya tumis kangkung dan tempe goreng saja ayah". Ayah tersenyum dan mengangguk " Benarkah? Kenapa sedap sekali baunya? Bunda cepatlah, ayah tak sabar ingin mencicipinya" ucap ayah dengan tawa dipipinya, bunda hanya mengangguk dan tersenyum, mereka makan dengan lahapnya, lauk siang ini memang sederhana, tetapi kesederhanaan itulah yang membuatku selalu bahagia, bunda dan ayah tak pernah sekalipun mengeluh, mereka selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, aku sedikit menitikkan air mata melihat mereka 'Ayah bunda maafkan Rain yang belum bisa memberikan makanan lezat untuk kalian, Rain janji akan bekerja keras untuk membahagiakan kalian' kutepis segera air mataku dan mengubahnya menjadi tawa lebar dipipi ku, kami pun bersenda gurau, selelepas itu aku , ayah dan bunda kembali bekerja memetik teh.

Hari sundah senja, kami pulang kerumah dan membersihkan diri, Abi ternyata sudah datang dan bercengkrama dengan ayah, makhluk yang satu itu memang slalu datang tiba tiba "Ab, udah dari tadi?"
"Ya, cukup lama buat nungguin putri solo mandi" ledek Abi sambil meminum teh buatan bunda "Woaa apa kamu bilang? Putri solo? Enak aja" kurebut teh milik Abi dan meminumnya sampai habis "Wah parah, itukan teh ku, spesial bikinan bunda, ih dasar" bunda dan ayah yang melihat kami pun hanya geleng geleng kepala.

Aku dan Abi menatap bintang bintang dilangit, kami sudah berada di atas bukit belakang rumahku "Indah sekali ya Ab, aku ingin jadi bintang di angkasa" Abi pun menjawab ucapanku "Kau ingin jadi bintang di angkasa? Bintang itu indah, cantik, gak kayak kamu, udab jelek, bawel lagi, mana bisa kamu jadi bintang? Lagian nih ya, bulan gak bakalan mau ditemenin bintang yang bawel kayak kamu". Ah Abi memang selalu seperti itu, aku mendengus dengan kesal mendengar ucapan Abi tadi " Abii, kamu tuh ya, ngeselin banget" ku pukul lengan Abi dengan kencang, hah ! Rasakan! Abi malah tertawa terbahak bahak, aku hanya memutar bola mataku dengan malas.

Abi's pov

Aku dan Rain tengah melihat indahnya bintang bintang dilangit, ingin rasanya aku tertawa mendengar ucapan Rain yang ingin menjadi bintang di angkasa, bagaimana mungkin wanita menyebalkan seperti dia menjadi bintang? Bulan saja malas melihatnya, dengan kesal Rain memukul lenganku dengan keras "Abii, kamu tuh ya, ngeselin banget" kesalnya, aku hanya tertawa dan menahan sakit dilenganku "Auw, haha iya iya maaf" Rain hanya memutar bola matanya malas, dan kembali menatap langit, diam diam kulihat manik matanya yang indah itu 'kau sudah menjadi bintang paling terang di hatiku Rain'

Woaaa terbit juga akhirnya, ini bakalan cepet tamat, dan maaf ngegantung gitu, kira kira gimana perasaan Abi ke Rain sebenarnya ya? Mau tau? Tunggu part selanjutnya, anak baik pasti vote dan coment :p

T'RainTahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon