"Kau ... akan bertanggung jawabkan?" Nada pertanyaan akan kepastian itu terlontar jelas dan sedikit mendamba, merengek kecil kepada seorang pria di hadapannya yang kini mereka saling bertatap wajah, menelisik ukiran sang pencipta.

"Gugurkan kandunganmu. Jinnie-ya."

Ia tertunduk. Ya, wanita itu tertunduk menahan rasa gemetar ketika kalimat frustasi itu seolah menghujatnya, menohoknya sangat dalam hingga jantungnya. Ia geram, tak terima diberikan kata semudah serta sehina ini oleh pria yang sudah merajut jalinan cinta mereka selama dua tahun ini. Oh, sungguh? Tapi kenapa sekarang pria-nya seperti bajingan tak tahu diri setelah menidurinya? Sial bahkan ia diperlakukan layaknya wanita jalang yang memuaskan nafsu.

"Gugurkan saja. Tak ada yang harus diperpanjang kalau begitu jadinya."

Setelah kedua kalinya kata titahan untuk membunuh calon manusia terucap, Jinnie menengadah kembali melihat wajah pria di hadapannya. Astaga, apa yang salah? Tega sekali ia menyebutkan kata tidak manusiawi itu dengan gamblang juga tanpa penyesalan disertai raut wajah datarnya.

"Dengar Park Jinnie! This not about you and me, not again. And nothing! Kau tahu? Aku bahkan tak meingingkan semua ini! Apa kata dunia jika mereka tahu aku menidurimu dan ... menghamilimu?"

"Masa depan ku dan dirimu masih panjang," lanjutnya sarkatis.

"Omong kosong! Terkutuk kau Xi Luhan! Bilang saja kau ingin lari dari semua ini! Bajingan!" Jinnie memekik, memakinya. Ini gila! Kenapa Luhan menjadi seberengsek ini? Ia bukan Luhan yang dikenalinya. Jika begini jadinya ia tidak akan menyerahkan keperawanannya.

Apa kata dunia? Ya, jelas mereka akan mencemooh pria berengsek sepertimu, dewi batinnya ikut bergejolak dalam amarah.

Apa kata dunia? Ya, jelas mereka akan mencemooh pria berengsek sepertimu, dewi batinnya ikut bergejolak dalam amarah

Luhan menggeleng pasti masih betah dengan wajah datar. Kesialan ternyata datang hari ini padanya. Nasib beruntung itu tidak berpihak saat ini setelah tahu kekasihnya datang ke kantor, bicara padanya bahwa ia mengandung darah dagingnya. Sungguh, ia malas menyikapi masalah ini dan meminta Jinnie agar mengugurkan jabang bayi itu. Tidak peduli akan dosa yang ditanggung, terpenting namanya tidak ternodai di depan umum dan orang tuanya tidak menamparnya karena menghamili seorang wanita.

"Tidak, aku tidak lari Jinnie. Aku hanya memikirkan masa depan. Well, kita sudah tidak perlu mengungkit masalah ini. Aku masih ada meeting dengan klien sampai kau datang dengan mulut sialan mu, " cecar Luhan menyanggah.

Miris, yang dirasakan Jinnie saat ini. Berdebat pun percuma. Ia datang ke kantornya setelah tadi pagi mengecek urinenya di toilet, menutup mulut tak percaya bahwa ia hamil.

Terlebih menyakitkan bahwa Luhan tidak menginkan hasil percintaan mereka lahir ke dunia.

Kenapa? Bukankah mereka saling mencintai?

Jinnie menghembuskan napasnya berat. Kini matanya sayu, dan ia berusaha meneguk salivanya susah payah."Lu ... ku mohon! Jangan begini! Aku mengandung anak mu. Apa jadinya jika orang tuaku tahu hal ini? Kau harus menolong ku," ia memelas. Memohon iba walau ia benci dikasihani.

The Fate [Private]Baca cerita ini secara GRATIS!