"Oh, gitu. Terus lo nggak nyoba dapetin Kak Rafa lagi?"

Aku tersenyum miris mendengar nama itu disebut. Rasanya masih banyak penghalang yang belum kulewati kalau mau mendapatkannya.

"Iya, gue pasti bakal nyoba," ucapku setelah beberapa saat terdiam.

Vexia mengangguk dan berkata, "Semangat!"

"Hubungan lo sama Kak Devan masih baik, kan, Ve?" tanyaku sambil memotong steak.

Vexia meneguk minumannya, lalu menjawab, "Sejak kemaren gue sakit, dia udah nggak pernah ngehubungin gue lagi. Bahkan, dia juga nggak jenguk gue. Dan gue, sih, bener-bener nggak ngerti ada apa sama dia. Terserah dia aja kalo emang mau menjauh dari gue. Gue pasti akan berusaha juga buat ngejaga jarak."

"Selama setahun belakangan ini dia selalu ada buat gue walaupun status gue sama dia cuma kakak adik aja. Tapi, gue ngerasa hubungan itu bener-bener kayak pacaran banget. Jujur, sekarang gue merasa kehilangan dan gue nggak yakin bisa ngelupain dia dalam waktu deket," lanjutnya.

Sudah kuduga kalau sebenarnya Vexia mau membicarakan sesuatu. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata dia mempunyai perasaan lebih pada Kak Devan. Sepertinya Vexia mulai terjebak dalam dunia friend zone.

Tapi, kala itu Kak Devan pernah bilang padaku kalau dia juga menyukai Vexia. Mungkin dari awal mereka dekat, Vexia sudah memendam perasaannya diam-diam. Dan karena sudah lelah, sekarang dia baru mau jujur padaku.

"Lo nggak usah menjauh dari dia. Menurut gue dia berbuat gitu karena ada alasannya. Kenapa, sih, lo jadi nggak percaya diri? Gue yakin, kok, dia juga suka sama lo."

Vexia menatapku intens seraya mengerutkan keningnya. "Percaya diri, kok. Tapi, apa yang ngebuat lo yakin?"

Aku tersenyum tipis dan menjawab, "Karena tatapan mata itu nggak bisa bohong. Gue liat pas dulu kalian ngobrol bareng, ada tatapan penuh kasih di matanya dia buat lo. Lo aja yang nggak peka."

"Apa banget, sih. Rasanya biasa aja. Cuma perasaan lo aja kali."

Aku terkekeh geli dan memilih untuk diam. Kulanjutkan makanku yang tadinya tertunda.

Bukannya tidak mau memberitahukan soal perasaan Kak Devan yang sesungguhnya pada Vexia. Namun, aku memilih untuk bungkam karena aku ingin Vexia mendengarkan langsung dari orang yang disukainya. Bukankah itu lebih bermakna?

Ponsel Vexia berdering cukup nyaring. Aku melirik sekilas siapa yang meneleponnya. Oh, ternyata mamanya.

"Sebentar, ya."

Aku mengangguk dan membiarkannya mengangkat telepon dulu. Kafe yang tadinya tak seberapa ramai, kini seluruh meja sudah dipenuhi oleh para pengunjung dan menyebabkan kebisingan.

Vexia kembali duduk dan menyeruput minumannya yang masih tersisa. "Gue harus cabut. Kata mama ada saudara jauh gue yang main ke rumah. Lo nggak papa, kan, gue tinggal duluan?"

"Iya, nggak papa, kok. Lo pulang aja. See you."

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku merapikan tas kecilku dan bergegas keluar dari kafe ini.

Samar-samar terlihat wanita yang cukup familier bagiku. Bukankah itu Tante Alyssa?

Aku bingung sekali harus menghindar atau menyapanya. Sialnya lagi, Tante Alyssa memarkir mobilnya tepat di samping mobilku. Yah, satu-satunya cara adalah aku harus kembali ke kafe untuk menunggunya pergi.

"Kamu Kenza, kan?" tanyanya.

Aku yang semula ingin berjalan menjauhi mobil pun jadi mengurungkan niat dan terpaksa membalikkan badan. Aku tersenyum sopan dan menjawab, "Iya, saya Kenza. Tante apa kabar?"

The Force of First SightBaca cerita ini secara GRATIS!