2 ~Troublemaker

67 10 0
                                                  

"Argh! Tangan gue!" Teriak Shofia ketika mendapati tangannya berlumur dengan darah, "Siapa woy yang mecahin nih kaca! Nyari ribut lo?!" Teriak Shofia lagi

"Shofi! Lo gakpapa?" Tanya Maya panik.

"Shof! Tangan lo bedarah!" Teriak Rama yang duduk di sudut kelas.

"Bu! Shofi suruh cepet-cepet ke UKS. Nanti keburu darahnya dimana-mana." Ujar Desi

Beberapa murid mengintip ke luar jendela untuk mencari tau ada apa gerangan. Sedangkan guru yang mengajar Shofi pun segera menyuruh Shofi untuk segera pergi ke UKS setelah mengetahui bahwa tangan muridnya itu terluka.

Maya yang tidak tega membiarkan sobatnya pergi dengan tangan berlumur darah sendirianpun langsung menemaninya menuju UKS.

"Shof, lo gakpapa kan?" Tanya Maya masih dengan kepanikannya.

"Menurut lo sendiri gimana May?" Tanya Shofi sambil memegangi pergelangan tangan kirinya yang terkena pecahan kaca. Darah menetes di lantai koridor yang mereka lewati. Menyisakan bercak-bercak merah.

"Aduuh menurut gue, itu parah banget Shofi! Masak lo gak kesakitan sih? Aduuh cepetan jalannya! Ntar keburu darah lo abis!" Seperti biasa, Maya memang orangnya panikan. Jadi, kalau jadi temannya harus kebal dengan kepanikan-kepanikan yang ditunjukkan Maya.

Saat baru seperempat perjalanan, tiba-tiba ada seseorang yang menghadang jalan mereka.

"Sorry." Ucap seseorang itu yang ternyata Naufal.

"Buat ape?" Tanya Shofi malas sambil masih memegangi tangannya yang berdarah

"Ah! Lo mending minggir dulu deh! Temen gue tangannya lagi kenapa-napa ini!" Suruh Maya sambil mencoba menarik tubuh Shofi agar segera berjalan kembali

"Tunggu!" Sergah Naufal menghentikan langkah Shofi dan Maya.

Shofi dan Maya pun berhenti melangkah. Dan tiba-tiba Naufal mendekat ke arah Shofi. Naufal segera menggendong Shofi dan sedikit berlari menuju UKS. Maya mengikuti mereka dengan sedikit berlari pula

"Lo kenapa sih pakek gendong gue segala? Yang sakit itu tangan gue woy! Bukan kaki!" Cerocos Shofi, "Ini darahnya juga banyak! Tuh liat, baju lo kena darah kan? Ah! Salah lo juga tiba-tiba gendong gue! Pokoknya gue gak mau tanggung jawab kalo darah di baju lo ntar gak bisa ilang." Omel Shofi panjang lebar

"Bawel." Ucap Naufal singkat

Sesampainya di UKS, tangan Shofi pun langsung ditangani oleh kakak PMR.

"Untung ini cepet dibawa kesini. Coba kalo enggak. Bisa lebih parah." Ucap Kak Anita setelah selesai mengobati luka Shofi

"Ah, thank's Kak." Ucap Shofi, "Oiya Kak. Kelas dua belas kok masih jadi PMR? Bukannya udah waktunya buat pensiun?" Tanya Shofi penasaran

"Iya sih udah waktunya pensiun. Ini juga bentar lagi pensiun kok." Jawab Kak Anita, "Lo kelas sebelas ya?"

Shofi hanya menganggukkan kepalanya.

Tirai UKS tersibak. Terlihat Maya dan Naufal berdiri di balik tirai tersebut. Merekapun melangkah masuk.

"Makasih ya, Kak." Ucap Maya

"Iya sama-sama." Ucap Kak Anita ramah, "Yaudah gue mau balik ke kelas dulu ya." Pamit Kak Anita kemudian dan mendapat anggukan dari tiga orang yang ada di ruang UKS tersebut.

"Shof." Panggil Naufal

"Hm?" Jawab Shofi

"Sorry. Tadi yang nendang bola itu gue." Ucap Naufal tenang.

"Lo minta maaf tapi lo kek gak ngerasa punya salah? Lo liat ini tangan gue gimana ha?!" Bentak Shofi karena kesal dengan Naufal

Shofi pun langsung berdiri dan mendekat ke arah Naufal. Dia mendekatkan wajahnya di telinga Naufal kemudian berbisik, "Lain kali gak usah buat onar! Lain kali juga kalo minta maaf itu yang niat! Kunyuk lo!"

Setelah membisikkan kalimat itu, Shofi langsung menjauhkan wajahnya dari telinga Naufal. Tangan kanan Shofi terkepal dan bug!

Shofi melayangkan tinjunya ke arah pipi kiri Naufal.

"Yuk May! Pergi." Ajak Shofi setelah puas memukul Naufal. Tangannya tadi sudah tidak tahan ingin memukul Naufal. Dan akhirnya, dia dapat melampiaskan amarahnya kepada Naufal.

Maya hanya bisa diam ketika melihat Naufal masih tenang-tenang saja setelah dipukul Shofi. Bahkan dia sempat menyeringai. Padahal pukulan Shofi itu bisa dipastikan dapat membuat pipi Naufal menjadi lebam.

"Cepetan Maya!" Teriak Shofi membuyarkan lamunan Maya

Maya mengedip-ngedipkan matanya agar kembali sadar dari lamunannya, "Eh iya iya! Tunggu gue Shof!" Balas Maya sambil sedikit berlari menyusul Shofi

"Eh Shof! Kok dia gak kesakitan sih waktu lo tonjok? Lo nonjoknya kurang keras ya?" Tanya Maya begitu langkahnya sudah sejajar dengan Shofi

"Gue udah mukul keras kalik. Dianya aja yang kelewat bebal. Lo gak lupa kan kalo dia sering buat masalah di sekolah?" Jawab Shofi santai

"Gak. Gak bakal lupa. Dia kan tiap seminggu sekali pasti masuk ruang BK. Dasar Naufal onar." Sahut Maya, "Eh, tapi masak tadi dia habis mecahin kaca jendela trus langsung nganter lo ke UKS? Kan harusnya dia kena omel guru dulu."

"Palingan juga kabur." Jawab Shofi enteng

Shofia's POV
Nggak di rumah nggak di sekolah dia selalu nyari masalah sama aku. Semenjak dia pindah dan jadi tetanggaku, hidupku jadi tambah kacau. Siapa lagi kalau bukan si kunyuk Naufal.

Maya nggak tau kalo sebenernya Naufal itu tetanggaku. Aku aja yang gak mau ngasih tau Maya sekarang. Entaran ajalah. Nunggu waktu. Lagipula cepat atau lambat, Maya akan tau.

Dan sekarang gara-gara dia, tanganku terluka. Untung aja nggak sampek dijahit.

Dan Naufal juga nggak ngerasa kesakitan waktu aku tonjok tadi. Itu gara-gara di rumah dia udah seding aku tonjok. Makanya dia udah kebal.

__________________________________________________________________________
Maaf ya kalo ini cerita jadi sulit dicerna. Tapi gue bakal optimalin lagi deh. Minta masukannnya ya! :)

xoxo, Mean

AccismusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang