.
.
.
Dia menyesap pelan teh hangat pesanannya. Gadis berparas cantik yang sedang duduk di dalam sebuah kafetaria. Kacamata baca yang bertengger manis dengan sebuah novel diatas meja membuat dirinya tampak serius. Namun, siapa sangka bahwa sebenarnya gadis itu hanyalah ingin mematikan kebosanannya. Bosan menunggu temannya-
"Luna," panggil sebuah suara bariton yang selalu menjadi favorit gadis itu, Luna.
"Setengah jam tiga menit dan ... 2 detik," sindir Luna sambil mengangkat tangan kirinya menatap jam tangannya.
Seorang lelaki dengan tubuh atletis yang tertutup rapi oleh kemeja yang ia pakai itu hanya dapat menunjukkan jajaran gigi rapinya. Maheza, atau lebih tepatnya Eza mengambil tempat duduk di samping Luna.
"Maaf, maaf ... tadi aku sedikit ada urusan," ucap Eza memberi alasan dan menyambar teh hangat milik Luna.
"Urusan cewek lagi pastinya," gumam Luna seraya memutar bola matanya malas.
"Emang," jawab Eza acuh.
Luna menahan nafasnya beberapa detik. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah terbiasa dengan ini. Walau jujur, dadanya nyeri tiap kali Eza mengatakan hal itu dengan gamblang di hadapannya.
'Urusan cewek,' batinnya berseru pedih.
"Eh iya Lun, aku mau cerita nih, tadi waktu di kelas kamu tahu tidak -"
"Enggak," potong Luna tiba-tiba.
"Hish, nih anak ya! Dengerin dulu kalo aku mau cerita Luna," protes Eza. Luna tersenyum kecil mendengar protes dari Eza, "tadi, ada anak cewek yang duduk di sebelahku, cantik banget Lun. Lun aku kayaknya suka sama-."
"Luna ya?" celetuk seseorang. Luna menengok ke asal suara, dia sedikit mengeryit untuk sekedar mengingat siapa gadis yang kini sedang menyapanya.
"Winda?"
"Aaah ... Luna, kamu kuliah di sini juga? Ih seneng banget ketemu kamu lagi," nada gembira terdengar jelas dari suara gadis yang dipanggil Winda itu.
"Aku juga seneng ketemu kamu lagi, astaga ... kamu apa kabar?" tanya Luna yang tak kalah gembira. "Oh iya, kenalin ini temen aku namanya Eza dan Za ini temen lama aku namanya Winda," lanjutnya.
Mereka bertiga mengobrol dengan riang. Luna dan Winda berceloteh ria saling bertukar cerita selama mereka tak bertemu. Sedangkan Eza? Dia hanya menikmati senyum yang terukir indah di bibir gadis itu. Detak jantungnya berpacu dengan cepat hanya dengan mendengar tawa gadis tersebut.
Dan semenjak itu Eza tau. Eza telah jatuh ke dalam pesona gadis itu, Winda.
**
Ponsel Luna bergetar menunjukkan sebuah pesan baru saja ia terima. Luna meraih ponselnya di nakas lalu tersenyum melihat nama pengirim pesan.
Maheza Pratama : 'Lun, aku mau tanya sesuatu boleh?'
Luna Andini : 'Sejak kapan kalau kamu mau tanya ijin dulu?'
Maheza Pratama : 'Sejak aku bertemu Winda haha,'
Luna Andini : '-.-'
Maheza Pratama : 'Oke, oke ... Lun aku mau to the point aja ya, bantuin aku deket sama Winda dong, Winda itu cewek yang tadi siang mau aku ceritain ke kamu, cewek yang aku taksir saat pertama kali liat.'
YOU ARE READING
Games : Song Fiction
Short StoryKumpulan Song fiction yang dibuat oleh member Nwac. :)
