For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

~PROLOG~

20.6K 954 54

Berusia enam belas tahun, terdaftar di sekolah swasta yang terbilang elite, berotak cerdas dan mendapat gen pria tampan dari sang ayah. Siapa yang tidak akan iri dengan sosok pemuda tampan yang satu ini? Baginya hidup sudah mendekati sempurna. Kalau saja...

"Naathaaaaaaa.........!"

Suara cempreng mirip anak perempuan itu menyerbu masuk ke telinganya. Bukannya menoleh apalagi mendekat, si empunya nama malah mengambil langkah seribu. Natha mempercepat laju kakinya, hingga ia berhasil mencapai ruang kelas yang baru saja ia ketahui akan menjadi kelas barunya di semester sekarang.

"Tidak perlu buru-buru begitu." Suara itu kembali terdengar.

"Mau apa kau masuk kelas orang lain?!" Natha menoleh enggan.

"Ini kelasku."

Mulut Natha terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Mata gelapnya menatap ngeri ke arah lelaki chibi yang kini berdiri tegak di depannya. Setegak apa pun, lelaki itu tetap saja hanya mampu menyaingi dadanya.

"Yuri akan sekelas dengan Natha." Lelaki yang mengenalkan dirinya sendiri bernama Yuri itu tersenyum lebar. Senyum yang selalu berhasil mengundang decak kagum dari orang-orang. Manisnya...

Dia tidak manis!

Natha adalah satu-satunya orang yang tak mau mengakui fakta tersebut.

"Kau tidak mau satu kelas denganku?"

"Berisik." Natha mengatupkan kembali rahangnya. Ia memutar tubuh untuk memilih tempat duduk. Nasib memang sangat senang mempermainkannya. Di kelas itu hanya tersisa dua kursi yang ber-dam-pi-ngan. Dan dua siswa yang belum mendapat kursi adalah dirinya serta-

"Kita akan duduk bersebelahan, Natha." Yuri menarik-narik ujung jas sekolah yang dipakai Natha.

Natha menyempatkan diri mengirimkan pelototan tajam sebelum ia duduk di kursinya. Kursi paling belakang. Demi Tuhan, ia benci harus duduk di barisan paling belakang. Ini hanya gara-gara satu hal. Tinggi tubuhnya yang menyebabkan ia sering dikambing-hitamkan jika ia mengambil tempat duduk paling depan.

"Yuri, kau boleh menukar tempat duduk denganku." Seorang gadis berponi menawarkan sesuatu yang bisa membantu Yuri untuk melihat papan tulis. Ya, gadis itu adalah salah satu pemilik kursi paling depan -yang diidamkan Natha.

"Tidak apa-apa Elina. Aku bisa meminta tolong Natha kalau aku tidak bisa melihat tulisan di papan tulis." Yuri menjawab dengan senyum lebar.

"Kalian manis sekali!" jerit sekumpulan gadis yang berkumpul di ujung lain.

Natha yang sedari tadi memalingkan wajah ke arah jendela, mendelik sebal. Nasib buruknya masih berlanjut.

###

Dipublish : 21 Maret 2016

Get AddictedBaca cerita ini secara GRATIS!