Di kawasan militer Angkatan Darat, sebuah mobil datang. Berita mengenai kepulangan lima pasukan Kopassus, dalam misi penyelamatan Pengurus PBB di Afganistan selesai. Tiga di antara mereka mendapatkan luka tembak di bagian bahunya, dua di orang mengalami fraktur di telapak tangannya, satu orang mengalami keduanya dan di tambah tembakan di perut, serta tulang rusuk patah.

"Lapor! Kapten Mahesa Billy Aryapradana kembali dari misi penyelamatan Pengurus PBB di Afganistan bersama 4 tentara lain dengan selamat."

Letjen Hardi mengangguk di belakang mejanya. Dia mengamati lima personel tentara angkatan daratnya yang sudah terdaftar sebagai Kopassus, dan tentara helm biru itu. "Apa ada yang terluka?"

"Tidak ada!" Balas Billy cepat dan lantang.

Letjen pun mengambil kertas laporan yang berisi laporan kesehatan dari ketiga tentaranya.

"Letnan II Rendy, tembakan bahu dan fraktur telapak tangan. Sersan Mayor Nikolas, tembakan bahu. Pembantu Letnan I Galuh dan Sersan Mayor Ivan, tidak tertulis, tapi menurut laporan medis di klinik, tercatat kehilangan darah yang banyak saat misi. Dan kau, Kapten Billy!"

"Ya!"

"Kau terkena tembakan di bahu dan perut, juga fraktur telapak tangan dan patah tulang rusuk. Apa ini yang kau bilang tidak terluka?!"

"Ya!"

Letjen Hardi memutuskan hal ini setelah berpikir matang-matang. "Kalian mendapat cuti enam bulan. Kalian di bebas tugaskan. Pulihkan kesehatan kalian, dan temui pacar-pacar kalian. Ini perintah!"

Kelima personel itu pun membalas. "Siap laksanakan!"

Di luar ruangan Letjen, mereka berlima bergegas menuju kamar asrama mereka. Iya, kamar asrama mereka, karena mereka berlima satu kamar.

"Billy!"

"Kalian duluan saja," kata Billy pada empat bawahannya. Billy mendengar namanya di panggil oleh seseorang maka dia melihat kepada arah sumber suaranya. "Pagi Letkol Ferdi!" Sambil memberikan hormat terbaiknya yang membentuk sudut 45° sikunya.

"Pagi!" Balas Ferdi. "Senang sekali melihatmu pulang dengan keadaan hidup."

Billy tertawa renyah, "Aku pulang sebagai pahlawan akan jauh lebih di sanjung oleh seluruh anggota TNI bukan?"

"Orangtuamu khawatir dengan keadaanmu selama di Afganistan. Katanya mereka tidak bisa tidur, apalagi saat mendengar semua anggotamu terkena setidaknya satu luka."

"Jangan terlalu di heboh-hebohkan. Aku baik-baik saja. Hanya ada luka di bahu, perut, telapak tangan dan," menunjuk pada bagian rusuknya, "Patah dua tulang."

Ferdi mendengus. "Prajurit sejati, dan kapten sejati. Apa kau tidak takut mati?"

"Apa tentara dididik untuk membiarkan penduduk sipil mati duluan dalam keadaan bahaya apapun?"

"Bahkan aku lupa kalau kau pernah kuliah hukum satu tahun sebelum masuk Akmil. Baiklah, aku pergi dulu," kata Ferdi.

Billy memberi hormatnya lalu pergi. Sebelum menuju kamar asramanya, Billy sengaja mampir ke klinik terlebih dulu. Dia tahu kalau Mira yang ada di dalam klinik itu akan memeriksanya. "Mir, tolong buka jahitan di bahuku, dan ganti perban di perutku. Oh ya, juga cek sekalian fraktur di tanganku."

"Hei! Kau pikir aku ini babumu, Kapten?!"

"Tidak, kau sahabatku. Tapi karena barusan kau memanggilku 'Kapten,' jadi aku adalah atasanmu disini."

Mira mendengus. "Aku hanya akan membuka jahitan di bahu dan mengganti perbanmu. Kau bisa ke rumah sakit untuk melihat fraktur di tanganmu, biar aku tulis rujukannya."

Your ChaserBaca cerita ini secara GRATIS!