Uchiha Sasuke

3K 173 7

Rambut biru dongkernya berdiri dengan angkuh melawan gravitasi. Mata selegam malam menghisap siapa pun yang melihatnya bagai black hole yang misterius.

Berjalan dengan kepercayaan tingkat tinggi warisan klannya.

Baju kemeja putih dengan blezer biru dongker sewarna dengan rambutnya tersemat dengan pas di tubuhnya yang proposional.

Tas ransel disampirkan di bahu kiri.

Jangan lupakan mawar merah yang selalu dalam genggaman tangan kanannya.

"Yamanaka-chan! Ohayoo!!" Sapanya dengan ramah.

"Uu..Uchiha-sa..san.." Yamanaka yang pemalu jadi salah tingkah karna mendapat sapaan selamat pagi dari si pangeran tak bermahkota.

Sasuke menyodorkan setangkai mawar merah pada gadis bersurai kuning berpribadian kalem itu.

Sang gadis tak kunjung mengambil bunga.

"Hei.. walaupun aku membelinya dari toko keluarga mu dan kau pasti memiliki bunga yang lebih indah.. terimalah.." ucapnya lembut.

Dengan malu-malu gadis bernama lengkap Yamanaka Ino itu mengambil bunga pemberian Sasuke.

Sasuke tersenyum lalu melambaikan tangan, berlalu pergi.

"Matsuri-chan!!!!" Panggilnya. Menghampiri gadis berambut pendek berwarna coklat.

"Sasuke-senpai!" Balasnya senang.

"Ohayoo!" Sapa Sasuke. Mengeluarkan bunga mawar merah dan memberikannya pada Matsuri. Matsuri menerimanya dengan senang hati.

"Matsuri!" Suara menginterupsi. Gadis disamping Matsuri merasa terabaikan.

Sasuke yang mendengar suara itu menyadari keberadaannya dari tadi. Hanya saja. Dia ingin menggoda gadis itu juga.

"Ne.. Temari-senpai.. jangan cemberut seperti itu.. aku juga punya mawar merah untuk mu." Kali ini Sasuke mengambil satu kuntum mawar dari dalam tasnya.

"Yey!!" Temari berseru senang. Giliran Matsuri yang terlihat tak suka karna disaingi.

Hey.. lihatlah bukan hanya kalian berdua yang mendapatkan setangkai mawar merah.

Kemana pun Uchiha Sasuke pergi ia selalu menebar pesona berserta setangkai mawar merahnya sebagai pelengkap jurus jitu menarik perhatian kaum hawa.

Bahkan ketika kakinya melangkah memasuki lobi akademi teriakan fangirl telah menggema. Menantikan kedatangan si pangeran mawar merah.

"Kya! Sasuke-kun!!!"

"Sasuke-senpai!!

"Kya!!"

Pita suara mereka tidak pernah sakit walaupun berteriak dengan histeris seperti itu.

"Tenang-tenang.. kalian akan mendapatkan mawar merah dari ku." Sasuke mengeluarkan sebuket mawar dari dalam tasnya. Melepas tangkai demi tangkai dan membagikannya pada setiap gadis yang berada disekelilingnya.

Mereka kembali berteriak histeris.

Siapa yang tak tau Uchiha Sasuke. Pemuda gagah dengan kepribadian yang ramah dan mempesona.

Menebar senyum tanpa pamrih. Menggoda setiap mahluk bergender perempuan.

Dan yang perlu digaris bawahi. Ia tak mementingkan umur.

Jika kita flashback ke beberapa jam yang lalu, wanita pertama yang mendapatkan bunga darinya adalah wanita bersurai sama dengannya yang sedang sibuk membuatkan sarapan.

Ibu tercintanya.

Dan sepanjang ia pergi ke akademi. Nenek penjual roti melon juga telah memperoleh sapaan mawar merah dari si Uchiha bungsu.

Yang termuda, anak tetangganya yang masih sekolah di taman kanak-kanak.

Ini bukan hari pembagian bunga nasional. Bukan hari khusus untuk si bungsu Uchiha menebar bunga.

Bukan.

Dia melakukannya hampir setiap hari. Menjadi pelanggan tetap toko bunga Yamanaka. Menyediakan buket bunga mawar yang pasti akan diambil oleh Sasuke.

'Kring!' Suara bel penanda kelas akan dimulai.

Mengharuskan segerombolan fanmeeting yang dilakukan setiap saat itu harus bubar.

Sasuke memasuki kelas dengan santai setelah terlambat lima menit. Dengan kerlingan gratis yang mematikan dan sepucuk bunga mawar tersisa, ia bahkan berhasil menggoda Kurenai-sensei yang killer untuk memaafkannya.

Mengikuti pelajaran dengan hitmat walapun ia masih sempat-sempatnya menggoda teman yang duduk dibelakangnya dan membuat orang tersebut berdebar tak karuan.

'Srak!' Pintu geser ruang kelas dibuka dengan kasar.

'Hosh..Hosh..Hosh..' tarikan nafas terdengar berat.

Semua mata menuju kearah orang yang mengganggu jalannya pelajaran yang telah berlangsung satu jam itu.

"Masih sempat.." suara itu terdengar disela ia mengatur nafas.

"Apanya yang sempat Hyuga Hinata!! Kau terlambat satu jam pelajaran ku!!" Kurenai-sensei marah.

"Hey!! Kau!" Menunjuk bagian absensi manual kelas tiap mata pelajaran.

Yang dipanggil tersikap takut.

"Pastikan aku tidak alfa di dalam buku absensi."ujarnya.

Hyuga Hinata bahkan tak menghiraukan guru yang telah membara di depan kelas.

"Hyuga Hinata!" Panggil sang Sensei.

"Ya!" Jawab Hinata santai tanpa dosa.

"Keluar dari kelas ku!" Teriak Kurenai.

"Dengan senang hati" balasnya lagi.

Berlalu pergi tanpa menutup kembali pintu yang dibukanya.

"Arg!!!" Kurenai jengkel sendiri.

Apa yang kau harapkan sensei?

Hyuga Hinata memohon belas kasihan agar bisa mengikuti jam pelajaran mu?

Atau..

Hyuga Hinata yang menangis karna kau bentak??

Lalala...

Pokoknya semua Out of Character!!

Next Chapter??

Road To SasuHinaBaca cerita ini secara GRATIS!