Halo Altair,

Apa kabar? Baik? Aku harap kamu baik. Aku tau kamu pasti lagi senyum-senyum sendiri gara-gara dapet surat dari aku kan? Aku juga tau, kamu lagi duduk di sebelah jendela. Ngeliatin taman dan langit. Hayo ngaku.

Aku di sini baik-baik aja, Alta. Hari ini dingin banget. Aku nulis surat ini sampai gemeteran loh. Rasanya tanganku beku semua. Hahaha. Aku kangen Indonesia. Di sini aku gak bisa nemuin nasi Padang, sama es cincau. Yang ada cuma makanan cepat saji. Aku bosen, Ta. Aku kangen makan berdua sama kamu di warung sederhana. Aku kangen dengerin kamu ketawa, apalagi dengerin kamu buang ingus. Hehehe..

Rumah kamu masih yang itu kan ya, Ta? Kamu jangan pindah ya? Nanti aku bingung nyariin kamu kalau lagi liburan ke Indonesia. Kalau aku gak nemuin kamu, aku bakal dateng ke kantor walikota buat nanyain alamat baru kamu. Kalau Pak Walikota gamau ngasih tau, nanti aku semprotin air bekas cucian ke mukanya! Biar dia tau rasanya kangen sama seseorang tuh kaya gimana!

Udah ah basa-basinya. Hemat tinta pulpen. Langsung aja ke topik.

Liasha Altair. Nama kamu bagus banget. Altair. Bintang yang paling terang di Rasi Bintang Aquila. Jangan pernah malu sama nama kamu ya? Aku suka nama kamu. Nama kamu itu sesuai sama kepribadian kamu. Kamu bersinar. Terang. Orang-orang suka sama kamu. Tapi kamu jangan suka balik sama mereka ya? Nanti aku cemburu loh.

Kita tuh jodoh banget ya, Ta? Kamu bintang, aku planetnya. Sama-sama tinggal di luar angkasa. Ngambang di langit. Gaada di bumi. Berarti kita jauh dari makhluk-makhluk bumi, Ta. Gaada yang bisa ganggu kita. Sekalinya bisa, mereka butuh perjuangan yang amat sangat.

Aku tau. Kamu pasti baru aja protes sama yang aku bilang barusan.

...

Tes.

Air matanya menetes mengenai selembar kertas putih yang berada di genggamannya. Membentuk sungai kecil yang mengalir di kedua pipinya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke jendela. Belum sanggup membaca lagi surat itu. Ditatapnya gumpalan awan yang bergulung di langit sana. Sesekali burung gereja terbang melintas. Menambah indah pemandangan.

Tetapi semua keindahan di sini belum bisa membuat hati gadis itu menjadi indah pula. Hati itu masih sakit. Masih butuh perawatan. Bahkan hati itu tak henti-hentinya menangis. Terus berteriak memanggil sebuah nama. Nama yang bahkan tak pernah sekalipun mendengar panggilannya.

SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!