For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

A Love Playbook : Page 1

11.4K 633 60

2015

Zharfan tersenyum kecut, ia berdiri memunggungi pintu yang baru saja ia tutup. Hari ini patut dimasukan ke dalam daftar hari-hari pahit yang pernah dialaminya.

Ia sudah mengalami hari-hari pahit dalam hidupnya, salah satu hari yang pahit di daftar teratas hidupnya adalah saat ia harus memakamkan tiga orang terpenting dalam hidupnya. Yaitu memakamkan ayahnya yang pendiam namun selalu menebar kasih kepadanya, ibunya yang selalu memasakan udang saus padang dan kakak iparnya yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.

Dalam satu waktu bersamaan.

_________________

2008

          Saat itu bulan suci Ramadhan, Zharfan sudah lulus SMA dan sedang menikmati masa liburan. Setelah shalat subuh ia kembali memasuki alam mimpinya, baru setelah matahari sudah berada diatas kepalanya ia berdiri di teras hanya menggunakan celana pendek dan kaos barong lusuh. Matanya melihat seorang pria yang selalu ia hormati sedang memanaskan mobil dan wanita yang selalu disayangnya sedang mengecek tas jingjingnya.

         "Fan, di kulkas ada ayam. Udah ibu ungkeb, tinggal kamu goreng buat buka puasa," Ucap ibunya sambil memasukan handphone ke dalam tasnya.

          Zharfan mendekati Ibunya untuk mengecup punggung tanganya, lalu mengantar sampai masuk ke mobil.

          "Loh, ibu mau nginep di Cianjur?" Tanya  Zharfan.

           "Enggak, Ibu pulang pergi. Cuma takutnya ibu baru pulang pas Isya, soalnya pasti macet. Pokoknya kalo ada apa-apa telepon Ibu atau Mas Ari. "

           Zharfan hanya mengangguk lalu berdiri di sebelah pintu mobil, ia mengecup punggung tangan ayahnya lewat jendela yang terbuka lebar.

           "Kamu jangan lupa sholat jum'at nanti siang, Bapak gak mau kamu jadi orang yang suka jangan tinggalin shalat. Jagain mbakmu sama calon cucu Bapak. Kata ibu kamu udah mulai jatuh cinta? Awas ya Le' jangan mainin hati perempuan,"ujarnya.

           Zharfan yang masih mengantuk, tak berniat menjawab perkataan dari Bapaknya. Ia hanya mengangguk sambil melempar tatapan heran pada Bapaknya yang pendiam jarang sekali bicara, hanya hal-hal penting yang akan terlontar dari mulut Bapaknya.  Namun, entah pagi itu senyum damai menghiasi wajah  Bapak saat menasihatinya.

           Kakak iparnya, Mas Ari, baru saja keluar dari rumah bersama Mbak Isty yang cemberut. Tak biasanya Mbak Isty merajuk, tidak memperbolehkan Mas Ari pergi mengunjungi makam kedua orangtuanya di Cianjur. Padahal Mas Ari yang berkerja sebagai kontraktor sudah sering keluar kota.

            Mbak Isty tidak diperbolehkan Ibu untuk ikut, karena kakak perempuannya itu yang sedang hamil tua.

            Zharfan berjalan ke teras entah kenapa saat melihat Mas Ari sedang berlutut memberikan doa-doa tepat di depan  perut buncit Mbak Isty , membuat hati Zharfan terenyuh. Sekan itu adalah doa-doa terakhir yang diberikan Mas Ari kepada anaknya. Akhirnya dengan tidak rela Mbak Isty melepaskan Mas Ari untuk pergi setelah mengecup lembut perut besarnya.

           Mas Ari menepuk bahu Zharfan dan berkata, "Jagain Mbakmu ya Fan. Mas titip anak istri Mas sama kamu. Selama Mas gak ada, pokoknya kamu harus jagain Mbakmu dengan segenap hati kamu loh."

            Zharfan hanya membalas dengan mengerakan tangannya, seperti seorang prajurit sedang memberi hormat kepada seorang Jendral.

          Lambaian tangan dari Zharfan dan Mbak Isty mengantarkan mobil keluar dari pelataran rumah.

A Love Playbook Baca cerita ini secara GRATIS!