Prolog

37.2K 960 36

"Ups, sengaja!" seru seorang gadis. Dengan wajah cantik ditunjang kemulusan kulit putih dan tinggi badannya yang pas membuat ia terlihat sempurna saat tersenyum dengan genit, menggoda laki-laki yang mengenakan seragam SMA yang sengaja dibuat urakan.

Laki-laki itu menatap tajam sang gadis yang masih menyunggingkan senyum manis andalannya seperti saat ia tebar pesona kepada para kaum Adam lainnya. Berbeda dengan sang gadis, sang laki-laki tidak sedikit pun terpengaruh maupun terpesona dengan kecantikan gadis itu. Sebaliknya ia merasa muak untuk bertemu gadis centil yang mengagumi ketampanannya, mau cantik atau jelek dia tidak perduli karna dia benar-benar muak. Yang paling parah sehingga membuat ia semakin ingin muntah, gadis itu baru saja dengan sengaja menumpahkan jus ke seragamnya.

"Lo!" tunjuk laki-laki itu dengan gigi bergemeletuk menahan amarah. "Untung lo perempuan!" Laki-laki itu menurunkan telunjuknya, ia bergegas meninggalkan kantin yang baru saja membuatnya mengalami kesialan di istirahat jam pertama hari ini.

"Eh, nama lo siapa?" tak disangka gadis itu menarik tangan sang laki-laki tanpa merasa bersalah sedikitpun atas perbuatannya yang disengaja.

Laki-laki itu pun berbalik akibat tangannya ditahan sang gadis. Ia menatap tajam sang gadis tapi sang gadis tanpa perduli tetap memegang tangan laki-laki itu. "Lepasin tangan gue!", desisnya tajam. Beberapa penghuni kantin mulai berbisik-bisik memperhatikan sepasang anak Adam dan Hawa ini.

"Eh maaf sengaja," godanya tanpa ada rasa malu.

"Ck," decak laki-laki itu. "Lo gak tau nama gue? Gak bisa baca?!" Ia menunjuk name tag yang tersemat di seragamnya.

"Gak bisa!" Gadis itu menyeringai. "Bacain dong," ejeknya dengan bibir yang dimanyunkan. Kalau lelaki lain yang melihatnya akan berkata 'imut', laki-laki yang berada di hadapannya akan berkata 'amit'.

Terbukti, saat ini laki-laki itu hanya menatapnya dengan wajah tak berminat. Mendapat respon seperti itu, sama sekali tak membuat gadis itu kehabisan akal dan menyerah sebelum berperang.

"Well, gue tau nama lo kok. Gue Cuma mau kenalan aja dengan Defino Werzagio. Kalo gitu kenalin," ia mengulurkan tangannya. "Nama gue Zirana Geraldan. Kakak kelas lo."

"Siapa ya Kak?" tanyanya dingin.

"Zirana Geraldan."

"YANG TA-NYA!" lanjutnya yang sebelumnya terhenti dengan sengaja. Fino berbalik dan kembali bergegas meninggalkan kantin dan seisinya.

"Haha ... shit! Anak kecil, sok jual mahal. Nakal ya?" Zira tersenyum miring melihat kepergian Fino.

"Zir, are you okay?" Rina teman Zira sedari tadi memperhatikan kejadian yang terjadi dari kejauhan.

"Yes, I'm okay."

"Gak maksud gue, lo yakin suka sama tuh anak? Lo baru aja di tolak."

"Jangan panggil gue Zirana Geraldan kalau gue gak bisa naklukin dia Rin," sumpahnya dengan mata menyala yang masih memandang kepergian Fino.

Rina menggeleng tak percaya. "Belum ada yang bisa naklukin dia. Kecuali ...," ucapnya gantung. Zira menaikkan sebelah alisnya sembari melirik ke arah Rina, meminta gadis itu untuk melanjutkan kalimatnya yang terputus.

"Kecuali ...."

"Apa sih Rin? Ngomong putus-putus hilang sinyal lo?"

"Kecuali lo juga laki-laki," bisiknya yang berhasil membuat dahi Zira berkerut sejenak.

"Kalo gitu gue bakal buktiin kalau perempuan juga bisa jadi pengecualiannya, gimana?"

"Lo gila Zir cowok gak normal masih aja lo kejar? Mau lo ajak kenalan ala-ala FTV dengan pura-pura nabrak kek atau mau lo jebak kebobolan ala pertandingan bola dunia kek, namanya gak normal ya gak normal kali Zir. Kalo gue mah ogah mending masukin gigi R  terus lepas rem udah deh mundur teratur."

Salah CintaBaca cerita ini secara GRATIS!