For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

6. Perpisahan

37.2K 3K 136

Judulnya aja udah pisah, jadi udah tahu isinya, kan?

Tenang aja, pisahnya ga lama kok, ga sampe berbab-bab.

Ditunggu VOMEN nya ya.

Tiap chapter, akan di dedikasikan untuk reader yang setia mengikuti.

Happy reading, gengs

=====

Beberapa hari ini Christian nampak berpikir tentang permintaan Katherine. Sebenarnya ia tidak peduli dengan perusahaan ayah tirinya, ia hanya ingin membuat Katherine bahagia. Sayangnya kebahagiaan itu adalah dengan membantu Smith menangani masalah yang sedang melanda perusahaan cabangnya yang hampir pailit.

Ia tidak mau berjauhan lagi dengan Katherine. Tapi jika ia tidak memenuhi permintaan gadis kecil itu, mungkin akan membuat Katherine membencinya dan ia tidak mau hal itu sampai terjadi.

Christian kembali teringat perkataan Emily yang tak sengaja ia dengar.

Tidak, ia tidak akan meninggalkan gadisnya sendiri di sini. Ia tidak mau seorang pun menyakiti Katherine lagi. Ia tidak tahu yang dilakukan Emily terhadap kesayangannya selama ini, tapi ia yakin Emily sanggup melakukan apapun agar keinginannya terpenuhi. Christian cukup mengenal karakter adiknya.

Beranjak dari tempat tidur, ia mengganti baju kaosnya dengan pakaian yang sedikit formal. Lalu mengambil kunci mobil di atas nakas.

Saat menuruni anak tangga ia bertemu Katherine. "Mau ke mana, Chris?" Tanyanya dengan segelas cokelat hangat di tangannya. Ia menyesap minuman itu pelan-pelan.

Christian tersenyum lalu mengusap lembut kepalanya. "Aku sudah membuat keputusan," ujarnya lalu mengecup pipi kanan Katherine dan meninggalkan gadis kecilnya yang masih tampak bingung.

*****

Christian menatap bangunan di hadapannya. Harusnya ia belum menginjakkan kakinya di tempat ini. Harusnya ia belum melibatkan dirinya dengan perusahaan milik keluarga—milik keluarga Beck lebih tepatnya.

Menghela nafas, Christian melangkah masuk ke dalam gedung Smith Company dengan wajah tegas.

Sejak ia memasuki gedung milik Smith, semua mata tertuju padanya—terutama kaum hawa. Christian mengabaikannya, merasa tidak nyaman.

Berdecak pelan ketika mengingat kalau ia tidak tahu di lantai mana ruangan Smith berada. Dengan langkah malas ia mendekati meja resepsionis, "Saya ingin bertemu dengan Da... pemilik perusahaan! Ada di lantai berapa?" Tanyanya tanpa basa-basi.

Ia juga menyadari dua wanita di depannya ini sudah memerhatikannya sejak ia menapakkan kakinya. Selama ini Christian memang tidak begitu ambil pusing dengan perusahaan milik Smith. Bahkan ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di perusahaan tersebut dan bodohnya ia tidak menghubungi Smith untuk menanyakan di lantai mana ruangan Smith berada.

"An – anda ingin bertemu dengan Tuan Smith? Ap – apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya resepsionis itu salah tingkah.

"Bilang saja Christian mau bertemu," ujarnya tegas dengan sorot mata dingin. Tak peduli mau secantik apa wanita yang berdiri di depannya ini. Ia mengedarkan pandangannya, memerhatikan keadaan sekitar.

Pihak resepsionis langsung menghubungkan teleponnya ke saluran atas. Setelah berbicara dengan sekretaris atasannya, ia langsung menutup telepon.

"Maaf Tuan. Saya tidak tahu kalau anda putra Tuan Smith. Si – silahkan ke lantai dua puluh lima. Di sana ruangan Tuan Smith berada." Tanpa mengucapkan terima kasih, Christian langsung berbalik menuju lift.

Obsession of Love (SELESAI)Baca cerita ini secara GRATIS!