Part 14 - Suddenly...

1.1K 36 0

-Cloudy POV-

Sejak tadi, aku diam-diam memperhatikan Adrian yang duduk dihadapanku. Lelaki itu hanya menopang dagunya sambil melihat pemandangan di luar jendela. Wajahnya datar tanpa ekspresi, bahkan ketika teman-temannya yang lain asyik bergurau, ia diam saja seperti tak terjadi apa-apa.

Saat ini, aku, Aubrey, Adrian, Nicho dan Kevin sedang berada di salah satu restoran Jepang. Usai mengantar Ben tadi, kami serempak memutuskan untuk makan malam bersama, dan restoran inilah yang menjadi pilihan kami berlima, hmm.. berempat tepatnya karena Adrian hanya menuruti kami saja.

Sudah lebih dari 30 menit kami menunggu, namun makanan yang kami pesan belum juga datang. Wajar saja, saat jam makan malam, restoran ini memang padat pengunjung. Padahal sejujurnya aku sudah sangat lapar, mungkin teman-temanku yang lain juga merasakan hal yang sama. Aku pun mulai sedikit bosan.

"Eh Dy, ceritain dong tentang persahabatan lo sama Reuben!" pinta Nicho tiba-tiba yang diikuti anggukan dari Kevin. Sepertinya mereka berdua masih penasaran.

"Waktu kecil, gue sama Ben sahabatan selama kurang lebih 2 tahun, tapi gak lama kemudian Ben pindah, dan pas Ben balik lagi kesini, eh.. gue yang pindah rumah." Jawabku singkat.

"Terus kenapa lo baru sadar kalo ternyata Ben itu sahabat kecil lo?" tanya Kevin.

Aku menghembuskan nafas berat, mataku pun kembali menerawang jauh. "Kita udah bertahun-tahun nggak ketemu dan kita juga udah nggak pernah berkomunikasi lagi semenjak kepindahan gue. Parahnya, gue nggak pernah tau nama panjangnya Ben, jadi gue nggak bisa cari informasi tentang dia."

Kedua lelaki itu mengangguk. Sementara Adrian masih diam menghadap jendela, ia tak menghiraukan pembicaraan kami.

"Oh ya, Dy." Sepertinya Nicho masih belum puas dengan ceritaku. "Tadi Ben bisikin apa? Terus kenapa dia cium lo? Lo berdua jadian kan? Hayo ngaku!"

Aku tersenyum geli mendengar deretan pertanyaan yang diajukan Nicho, ia terlihat lucu sekali dengan wajah penasarannya itu.

"Nggak kok, kita nggak jadian." Jawabku lembut.

Kali ini, Adrian membalikan pandangannya, ia terlihat tak semuram tadi. Anehnya, ia terlihat ikut antusias mendengar ceritaku.

"Terus Ben bisikin apa tadi?" timpal Kevin.

Aku menatap wajah teman-temanku satu per satu dengan ragu. Jantungku pun kembali berdebar, dan seketika ucapan Ben tadi kembali terngiang di telingaku.

Adrian likes you... a lot.

Duh, bagaimana ini? Aku tak mungkin memberitahu hal itu kepada mereka, terlebih lagi kepada Adrian.

"Hmm.. kalo itu.." Tatapan mereka seperti mendesakku untuk bercerita, aku pun semakin terpaku di tempat.

Aku menghindari tatapan itu sambil berusaha untuk mengalihkan pandangan mereka, dan mataku pun tertuju pada pelayan yang sedang menghampiri meja kami.

"Eh itu makanan kita udah dateng!"

Akhirnya, aku berhasil mengalihkan perhatian mereka.

Fiuh. Leganya.

-----

Setelah makan malam bersama teman-teman Adrian dan mengantar Aubrey pulang, aku pun segera bergegas pulang. Aku berjalan pelan menyusuri lorong apartemen sambil merenggangkan otot-ototku yang terasa kaku. Walaupun tidak banyak aktivitas yang aku lakukan pada hari ini, namun entah kenapa rasanya tubuhku lelah sekali.

Dddrrrtttt

Ponselku bergetar. Dengan malas aku mengambil ponsel dari kantong celanaku. Layar ponselku menunjukan bahwa aku baru saja mendapatkan sebuah sms dari nomor tak ku kenal, aku pun segera membuka sms tersebut.

Only One [Completed]Baca cerita ini secara GRATIS!