1 - Can Everything Will Be Allright?

335 13 1

Aku menginjakan kakiku di bandara dengan tenang. Oh, lebih tepatnya mencoba untuk tenang. Aku sudah berada di Jakarta lagi semenjak beberapa hari lalu berada di Jogja.

Awalnya aku memang tinggal di Jakarta, hanya saja beberapa bulan yang lalu aku harus pergi meninggalkan kota kelahiranku untuk menimba ilmu di Jogja.

Umurku baru saja delapan belas tahun, beberapa hari lagi. Ceritaku dimulai saat aku kembali ke Jakarta untuk merayakan malam Natal sekitar satu minggu yang lalu. Semua diluar kendaliku, ada beberapa hal yang membuatku harus kembali menetap di Jakarta dan meninggalkan Jogja.

Jadi beberapa hari yang lalu, Kak Aurel menemaniku dan membantuku mengemas barang yang berada di Jogja untuk segera membawanya pulang ke Jakarta.

Ada rasa bahagia yang ada di dalam hatiku, namun bukankah sedih dan bahagia itu datangnya satu paket? Ya, ada hal menyedihkan juga yang harus aku terima. Berpisah dari teman-teman yand sudah beberapa bulan ini mengisi hari-hariku bukanlah perkara mudah.

Entahlah. Intinya aku ingin kembali menata hidupku, dan aku ingin bangun dari kondisi zombieku. Zombie, satu kata yang patut disebutkan untuk kondisiku saat beberapa bulan lalu di Jogja.

Ada hal buruk yang menyebabkan aku hampir mati, ada hal buruk yang menyebabkan aku tak semangat kuliah, dan juga hal buruk itu membuatku layaknya berada di lautan kebimbangan.

Namun, sekarang semuanya telah jelas. Yang harus aku lakukan sekarang adalah, menata hidup yang baru.

Aku berjalan sambil menuntun koperku mengikuti Kak Aurel menuju mobil Ayahnya yang menjemput kami.

"Tuh, Sis. Mobil Papa sudah datang." Ujar Kak Aurel sumringah.

"Ya..." Sahutku.

"Hai kalian, bagaimana Jogja?" tanya Om Anton, Ayah Kak Aurel saat ia keluar dari mobilnya untuk membantu kami menaiki koper ke dalam mobil.

"Good." Jawab Kak Aurel singkat.

"Not good enough." Sahutku asal.

"Kenapa?" tanya Om Anton.

"Aku kan juga sudah beradaptasi di sana, Om. Meninggalkan Jogja tidak terlalu mudah dan ternyata tidak semenyenangkan itu." Jawabku.

"Ya, Om tahu. Tapi kamu tetap harus melanjutkan rencana Alex, yang juga adalah cita-citamu." Om Anton kini membelai kepalaku lembut.

Aku tidak menjawab perkataan dari orang yang sudah kuanggap sebagai ayah itu. Aku hanya tersenyum dan dalam hati mengangguk pasti dengan apa yang harus aku jalani.

"Pa, ayo cepetan jalan aku pingin ketemu kasur di rumah terus berbaring cantik di atasnya." Rengek Kak Aurel.

Dan pada saat itu juga mobil melesat menuju kediaman Om Anton sekeluarga.

***

"Hai, Sis." Sapa Kak Alvin. Ia adalah kakaknya Kak Aurel.

"Halo juga, Kak." Balasku.

"Enjoy your new house." Katanya.

"Ofcourse." Sahutku lagi.

"Sisca! Sudah sampai kamu, nak?" tanya Tante Mira yang baru saja keluar dari kamarnya.

Tante Mira, Mama Kak Aurel dan Kak Alvin. Ia berlari kecil menghampiriku dan ketika sudah berada di hadapanku, ia memelukku erat.

"Sis, mulai Sekarang panggil kami Mama Mira, dan Papa Anton, ya? Sengaja pakai nama di belakangnya agar tidak tertukar dengan kedua orangtuamu." Perintah Tante Mira membuatku hanya menganggukan kepala.

Aku masih memiliki dua orangtua hidup. Dan aku yakin sebenarnya aku masih bisa tinggal bersama orangtuaku sendiri. Toh, orangtuaku bukanlah orangtua miskin yang tidak mampu menghidupi anaknya yang cuma seorang ini.

Orangtuaku dan keluarga Om Anton ini menjalin ikatan bisnis yang aku tidak mengerti, tapi aku mengerti benar bahwa sebenernya aku masih bisa tinggal dengan orangtua kandungku.

Tapi, ya... Ini adalah bagian dari rencana Alex. Suatu saat, aku memang boleh, berhak, bahkan harus keluar dari rumah ini. Namun tidak sekarang. Setidaknya, aku harus menepati janjiku untuk melakukan semua hal yang Alex rencanakan. Ya, itu saja.

Walaupun aku tidak yakin itu memakan waktu sebentar, setidaknya aku harus mencoba dan membuatnya berjalan dengan baik. Everything must be allright.

***
T

bc...

I'm Sorry Because I Love HimBaca cerita ini secara GRATIS!