Prolog

2.1K 114 5
                                          

Di tengah malam, teriakan itu menggema.

Bagai berada di dimensi lain, sama sekali tidak ada yang menjawab jeritan itu. Tidak ada marsose [1] yang datang menolong, pun tidak ada orang melintas yang di jalanan malam itu yang dapat dimintai pertolongan. Gadis malang itu sendirian. Dia hanya bisa terus berlari di antara rumah-rumah kota Batavia[2] yang jendela dan pintu-pintunya sudah tertutup rapat. Bulan yang menggantung di atas kepalanya hanya diam mennton, seolah senang menyaksikan ketakutan sang gadis yang terus berlari ketakutan daei seauatu entah apa tanpa ada yang menolong di tengah malam. Tidak ada satu binatang pun yang bersuara malam itu, semua seolah bersembunyi, takut untuk keluar menampakkan diri.

Angin malam semakin kencang berembus seiring dengan langkah larinya yang semakin cepat. Topi lebarnya terlepas dari kepala, membuat rambut pirang gadis itu bersentuhan dengan angin malam yang bsdtiup. Saat itu juga, sebuah tangan terulur dan menjambak segenggam rambut sang gadis. Tarikannya demikian keras hingga semua jepit rambut yang menjaga sanggul rambutnya tetap rapi dan tertata layaknya bangsawan, lepas berjatuhan ke aspal. Tangan itu menarik rambut beserta kepala sang gadis tanpa ampun, menyeretnya menjauh dari lampu jalanan, menuju bayangan gelap gedung-gedung tinggi Batavia yang diam membisu menyaksikan semuanya dari dekat tanpa bisa melakukan apapun. Tubuh gadis itu terseret dengan mudahnya. Ia meronta tapi segala pemberontakannya tidak berdampak sama sekali pada sang penarik rambutnya. Sosok itu tetap saja menarik rambutnya. Ketika mulut gadis itu terbuka, satu tangan lain menutup mulutnya, membekap mulut dan menghalangi jalan napasnya. Segala jerit dan permohonan tolong gadis itu teredam seketika.

Ketika tubuh gadis itu sudah masuk seutuhnya ke dalam bayangan, sosok itu menarik rambut sang gadis tinggi-tinggi, membiarkan lehernya yang berhiaskan kalung berlian indah terekspos dengan jelas tersapu angin malam yang kini terasa kian menusuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ketika tubuh gadis itu sudah masuk seutuhnya ke dalam bayangan, sosok itu menarik rambut sang gadis tinggi-tinggi, membiarkan lehernya yang berhiaskan kalung berlian indah terekspos dengan jelas tersapu angin malam yang kini terasa kian menusuk. Sosok yang membekap sang gadis menyeringai dalam bayangan, menampakkan sepasang taring panjang yang membuat mata gadis Belanda itu terbelalak semakin lebar. Rontaannya semakin menjadi dan jeritan tertahan dari mulutnya terdengar semakin mendesak. Sayangnya peningkatan perlawanannya tidak memberikan perubahan apapun. Penyerangnya masih saja bergeming. Sosok itu malah semakin mendekat ke leher sang gadis. Wanita belia itu sudah dapat merasakan helaan napas dingin di lehernya, membuat jantungnya berdetak semakin cepat dalam ketakutan.

Seluruh otaknya menjerit bahwa akan ada hal buruk yang akan terjadi jika sedetik lagi ia tak sanggup lari dari siapapun sosok ini.

"Bunyi detak jantung yang indah..." gumam sosok itu dalam suara bariton. Suara laki-laki. Dia bicara dalam bahasa Belanda dengan aksen asing yang kedengaran berasal dari masa yang lain. "Hei, berbunyilah lagi. Lebih cepat dan lebih cepat untukku..."

Dipalingkannya wajah sang gadis dan mereka pun saling bertatapan. Ketakutan semakin terlihat di wajah sang gadis tatkala bertatapan dengan sepasang mata merah yang menyala dalam gelap itu. Mata itu mendelik lapar padanya. Gadis itu pernah berhadapan dengan seekor anjing hutan yang ingin memangsanya, jadi ia tahu sorot predator terhadap mangsa mereka. Mata merah dalam gelap itu punya sorot mata yang sama dengan anjing hutan yang hampir menggigit lehernya waktu itu: sorot seekor predator yang menemukan buruannya.

"Ya, ekspresi seperti itulah yang aku inginkan..." desis laki-laki itu. Tangannya menarik rambut sang gadis semakin kuat. Gadis itu mulai mencakar-cakar lengan sang laki-laki, namun percuma. Semua luka cakaran itu sembuh dalam sekejap mata. Gadis itu semakin terbelalak. Ia kehilangan kata-kata. Logika di kepalanya dan segala rencana cadangan jika sosok ini memang berniat buruk hancur lebur. Jelas apapun laki-laki ini, dia bukan manusia: tenaganya luar biasa kuat, matanya merah, dan dia memiliki taring. Semua itu jelas bukan milik manusia.

Kalau bukan manusia, lantas makhluk apa dia sebenarnya?

Sang gadis dapat mendengar degup jantung yang menggebu di dalam telinganya ketika lengan laki-laki itu mendekap pinggangnya, menarik serta kedua lengannya ketika dirinya sedang lengah karena terlalu kaget hingga ia tak lagi berkutik, lalu merapatkan tubuh mereka hingga tak ada jarak tersisa. Dekapan laki-laki itu tidak terasa lembut sama sekali, justru mencekik. Lengannya melingkari pinggang sang gadis, membuat gadis itu kini sepenuhnya tak berdaya dan berada sepsnuhnya dalam belas kasihan laki-laki itu.

"Ampun... tolong jangan sakiti aku..."

Terdsngar suara tawa samar dalam kegelapan. Tawa laki-laki itu. "Teruslah ketakutan seperti itu..." bisiknya kejam. Dengan beraninya ia menggosok-gosokkan hidungnya ke lekukan leher sang gadis, mengendus bau parfum gadis Belanda itu yang harum lembut bebungaan. Sosok itu lantas menyeringai keji. "Aku akan sangat menikmati ini..."

Tanpa ragu laki-laki itu menancapkan taringnya ke leher sang gadis. Ia menenggelamkan kepalanya ke lekukan leher itu, mengabaikan darah yang memancar deras dari sana ketika taring tajamnya mengoyak nadi beserta kulit sang gadis hingga tubuh itu terkulai lemah. Tak lagi bergerak.

***

Ket:

[1] Pasukan Keamanan Bentukan Belanda

[2] Jakarta

-

Catatan Pengarang:

Maaf mendadak posting cerita baru! *membungkuk dalam berkali-kali* Maaf banget!

Bukan berarti saya membuang Blood and Faith, hanya saja cerita ini tidak berhenti menggebuk-gebuk kepala saya tengah malam kemarin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bukan berarti saya membuang Blood and Faith, hanya saja cerita ini tidak berhenti menggebuk-gebuk kepala saya tengah malam kemarin. Jadi saya tuliskan sekarang. Masalahnya cerita ini pendek banget jadi tidak akan banyak makan waktu, makanya saya jadi tergoda membuatnya.

Sekali lagi maaf.

Adegan Blood and Faith yang selanjutnya agak sulit, jadi dimohon bersabar ya. Baca saja cerita ini selagi menunggu.

Oh ya apa ada yang tahu siapa yang jadi center di sini? Yep, dari sinopsis kalian juga sudah tahu kan?

Yay, dialah Zen kita yang super misterius! Ini adalah konfirmasi dari saya bahwa Zen memang menjalin hubungan dengan seorang wanita manusia. Perhatikan timeline ceritanya ya. Di aruna series diceritakan aruna muncul pertama kali tahun 1970-an kan? Kenapa Zen sudah ada di zaman kolonial ya? Itu akan dijelaskan nanti. Oh dan di sini belum ada istilah aruna lho.

Apa kalian punya dugaan siapa aruna yang menyerang  di prolog ini? Apa kalian punya dugaan siapa yang akan jadi conflict center di sini? Tunggu saja ya. Di cerita ini banyak sekali hubungannya dengan cerita utama aruna series, nantikan saja ya.

Blood and RoseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang