Prolog

13K 469 11

Prolog

Di sore yang dingin dengan rintik-rintik air hujan yang membasahi bumi. Terlihat dua orang lelaki tengah duduk menghangatkan tubuh mereka di dalam Kafe. Ditemani dengan secangkir kopi dan obrolan ringan di antara mereka.

Menikmati pandangan memuja dari para pengunjung Kafe dan membuat mereka merasa bangga karena mempunyai wajah dengan ketampanan di atas rata-rata. Berterima kasihlah pada orangtua mereka karena telah memberikan gen terbaiknya.

"Kapan Noah balik dari Irlandia?" Tanya seorang lelaki dengan manik hazel serupa dengan Ayahnya.

Lelaki yang ada di hadapannya hanya mengangkat bahunya, menyesap kopinya dengan pelan dan kembali memandang sahabatnya dengan tatapan datar.

"Seminggu lagi mungkin, dia nggak pernah jelas ngasih tahunya."

Lalu lelaki dengan manik hazel itu mengangguk mengerti. Keduanya terdiam, enggan untuk mengeluarkan sepatah katapun dari mulut mereka, terlebih lagi tidak ada hal yang mau mereka bicarakan. Jadinya mereka hanya diam, menikmati keheningan yang tiba-tiba saja mendominasi mereka.

"Lo masih ngejar Bintang, Arka?" Tanya lelaki bermanik hazel pada Arka.

Arka mengangkat kepalanya, mengalihkan perhatiannya dari luar jendela dan menatap langsung ke dalam iris hazel itu. Kemudian Arka menganggukan kepalanya, wajahnya terlihat lesu.

"Tentu, selama Bintang ngasih gue kesempatan. Gue nggak bakal sia-sia in."

"Jika Bintang nolak?" Tanya lelaki itu seraya mengangkat alisnya menantang.

Arka terdiam, tampak berpikir. "Gue nyerah, cinta nggak bisa dipaksain, Hariz. Jika Bintang nolak gue, maka gue bakal pergi dari hidupnya." Terselip nada sedih di penghujung kalimat yang diucapkan oleh Arka membuat Hariz mengerti.

"Tapi untuk sekarang gue bakal terus mengejarnya, sampai Bintang nerima gue." Imbuh Arka dengan percaya diri.

Hariz terkekeh pelan, melempar kertas koran ke wajah tampan Arka. "Terserah lo, gue do'a in semoga lo dapat cewek yang baik."

"Amiin."

Kedua sahabat itu terhanyut pada obrolan ringan tentang keluarga dan pekerjaan masing-masing. Melupakan waktu yang terasa begitu singkat bagi mereka jika menyangkut pekerjaan.

"Haha, tak terasa kalau sudah maghrib. Kalau ada Noah, pasti dia marah-marah dan bilang 'kalian membosankan' tapi sayang dia lagi ada di Irlandia."

Arka ikut tertawa bersama Hariz, kepalanya mengangguk. Tahu betul dengan sikap Noah yang memang sangat tidak menyukai pekerjaan kantor. Saudara angkatnya itu lebih suka menyiksa orang-orang.

"Haha, lo benar, Riz. Bagus dia ada di Irlandia. Jadi dia nggak bisa ganggu waktu santai dan membahas pekerjaan."

Keduanya serempak memandang jam tangan Rolex yang melingakar di pergelangan tangan mereka.

"Gue nggak bisa lama-lama. Udah maghrib juga, mau nebeng sama gue atau sama Fariz?"

Hariz tersenyum menggelengkan kepalanya. "Sama Abang gue aja. Kebetulan gue masih harus ketemu klien satu jam lagi, jadi lebih baik gue nebeng sama Bang Fariz saja."

"Ok kalau gitu. Gue balik duluan, ya."

Setelah berpamitan dengan Hariz. Arka berjalan ke luar Kafe, masih dengan rintik-rintik air hujan yang membasahi bumi. Arka membuka pintu Kafe dan menimbulkan suara lonceng di atas. Dia berjalan di bawah rintik-rintik hujan yang sudah mulai berubah menjadi agak deras.

Bugh

Arka mendengar suara ringisan pelan yang berasal dari seseorang yang telah menubruk tubuh kekarnya. Mata hijau gelapnya memandang seorang gadis dengan manik cokelat kayu yang tampak kosong tapi terlihat sangat indah di waktu bersamaan.

"Kamu tidak apa-apa, Nona?" Tanya Arka basa-basi. Sesungguhnya, ia segera ingin pergi dari tempat ini.

Kerutan di kening Arka terlihat jelas ketika melihat wajah ketakutan yang diperlihatkan oleh gadis itu. Membuat Arka yakin kalau gadis yang telah menubruknya itu terkena masalah.

"Maaf, maafkan saya, Mas. Saya tidak sengaja. Mas, tidak apa-apa 'kan?" Tanya gadis itu berusaha melihat ke arah Arka.

"Aku baik-baik saja. Tapi aku lihat, lutut sama tangan kamu terluka. Boleh aku obatin? Bagaimanapun juga itu adalah kesalahan ku." Tawar Arka yang segera dibalas gelengan kepala oleh sang gadis.

"Tidak ... Tidak ... Tidak apa-apa. Maaf saya harus segera pergi."

Gadis itu berlari sangat terburu-buru membuat Arka melongo di tempatnya. Gadis itu berlari meninggalkan embusan angin yang tercium wangi oleh hidung Arka. Lelaki itu masih di sana, memandang sosok gadis aneh yang terlihat mengecil seiring lariannya yang begitu kencang.

"Maaf, apa anda lihat gadis aneh lewat sini?" Tanya seseorang dengan pakaian serba hitam. Yang bisa Arka tebak kalau lelaki itu adalah seorang bodyguard.

Arka mengerut bingung. Jika orang yang dimaksud oleh bodyguard ini adalah gadis yang ditabraknya, maka dia akan menunjukan arah lari sang gadis. Lalu Arka menggelengkan kepalanya.

"Oh, gadis itu." Sahut Arka tampak berpikir. Tangannya terulur ke samping, menunjuk ke arah kanan. "Gadis bergaun putih? Tadi dia lari ke sana." Imbuh Arka meyakinkan sang Bodyguard.

Bodyguard itu tersenyum berterima kasih lalu pergi mengikuti arah yang ditunjuk Arka.

Setelah kepergian Bodyguard itu Arka tertawa kencang. Kali ini dia sudah mengelabuhi Bodyguard bodoh itu. Arka tidak menunjuk arah ke mana gadis itu pergi melainkan ia menunjuk ke arah kantor Polisi.

"Haha, sykur-syukur jika lo masuk penjara." Gumam Arka senang.

Arka melangkahkan kakinya. Tapi kembali dia menghentikan langkahnya ketika kakinya tak sengaja menubruk sesuatu.

Sebuah flatshoes usang.

Arka menelengkan kepalanya bingung. Mengamati flatshoes yang hanya ada satu, lebih tepatnya flatshoes sebelah kanan. Arka berpikir keras, lalu pandangannya berputar berharap dia melihat seorang wanita yang mencari pasangan flatshoesnya.

Tapi tidak ada. Lalu ingatannya mengembara pada peristiwa tabrakannya dengan gadis aneh itu setengah jam yang lalu. "Apa ini milik gadis itu?" Tanya Arka pada dirinya sendiri.

Kepalanya terangkat. Jika gadis itu kehilangan pasangan flatshoesnya, maka gadis aneh itu lari tanpa memakai alas kaki sebelah. Arka melongo, baru menyadarinya sekarang.

"Kasihan sekali, padahal dia sedang dikejar oleh Bodyguard 'oon itu. Bagus tadi gue masukin tuh Bodyguard ke kantor Polisi. Setidaknya, gadis aneh itu bisa lari dengan tenang."

Lalu Arka berjalan pergi menuju lapangan parkiran seraya menenteng pasangan sebelah flatshoes milik gadis aneh yang tak sengaja ditubruknya itu. Dan sejak saat itu kehidupan Arka Orlando Heyman, berubah drastis.

***

Big Hug

Nana RM

.

Cinderella 2016✔Baca cerita ini secara GRATIS!