Tiberon Liza Ferrenoca mendapat gelar PS SMA Nusa Bangsa ....

Aku menegakkan posisi duduk. Mengusap kedua mata. Menarik kursi lebih dekat pada meja komputer. Menggeserkan kursor ke arah kata-kata tadi.

Tiberon Liza Ferrenoca mendapat gelar PS SMA Nusa Bangsa ....

  "Ini kenyataan!" teriakku histeris.

Tapi langsung disambut suara 'sssht' orang-orang di perpustakaan. Ah, orang membosankan seperti mereka tidak tahu betapa senangnya aku hari ini.

Satu minggu yang lalu, antar sekolah mengadakan semacam test studi. Aku iseng ikut. Meski malamnya sama sekali tidak belajar. Aku malah bermain petasan bersama anak-anak di pekarangan rumah mereka. Lalu, paginya, aku telat mengikuti test empat puluh empat menit . At least, karena panik, aku menggunakan jurus 'dal-dil-dul-siapa-yang-beruntung ... A!'

Tapi sekarang, di depan komputer pada jam dua lewat tiga menit dua puluh tujuh detik (ini hari bersejarah, mana bisa aku melupakan detailnya!). Aku terbukti mengalahkan tiga puluh sekolah yang juga mengikuti test. Dengan jurus dal-dil-dul!

Omaigad.

Aku langsung berlari keluar perpustakaan sambil berdadah-dadah dengan penghuninya yang balas mendelik. Mereka pasti tidak suka karena 'kecupuan'nya terganggu oleh teriakanku tadi.

Haha! Sekarang aku akan hengkang pada dunia membosankan ini dan say hello pada kehidupan baru! Aku yakin di SMA Nusa Bangsa semuanya bisa berjalan lancar.

  "DE!" Teriakku toa begitu melihat sosok Dea sedang berjalan menuju kantin sambil membaca buku.

Jangan langsung menilai dia cupu. Dea pasti sedang baca novel, ia selalu membawa sekitar tujuh buku untuk dibaca di sekolah tiap harinya. Bisa dikatakan, cewek bernama Dea seorang novelholic.

  "Apa?" Dea menandai novelnya dan berjalan ke arahku.

  "Lo tau gak?!" tanyaku histeris hingga membuat beberapa orang langsung berjengit.

Tapi aku tidak peduli. Ini hari bersejarahku, tahu!

  Dea mengerutkan dahinya, "enggak, kan lo belom ngasih tau apaan."

  "Ih, gitu banget lo," kataku pura-pura marah.

  Dea langsung tertawa, kadang sahabatku ini bisa menyebalkan akut. "Iya-iya. Apa?"

  "Gue. Pindah. Ke. SMA. Nusa. Bangsa."

Seorang Dea langsung tersungkur ke depan begitu enam kata itu meluncur dari mulut unyuku. Dia menatapku seakan berkata 'Lo-becanda-jangan-kelewatan.'

  "Iiih, ini tuh beneran," kataku yakin, menggoyang tubuh Dea yang tiba-tiba membeku.

  "Serius lo?" tanya Dea sambil merapikan roknya yang kotor sehabis tersungkur.

Ih! Meskipun aku lolos karena kekuatan Tuhan dan jurus dal-dil-dul, tapi aku gak sebego itu. Dulu, waktu TK aku pernah juara harapan ketiga lomba memasukan pensil ke dalam botol!

  Aku berdecak sebal, "ini tu serius tauk."

Dea terdiam sesaat. Sementara aku sudah memikirkan kehidupan membahagiakan yang kudapat jika berada di SMA Nusa Bangsa.

Secara, SMA Nusa Bangsa adalah sekolah terbagus nasional yang ada di ibukota. Fasilitas paling memadai. Anak-anak pinter tanpa ada label berandal sama sekali. Sopan santun dijunjung tinggi.

Dan besok, aku ada di antara mereka! How wonderful!!!

  "Tapi bukannya gelar PS cuman disandang selama satu tahun ajaran baru?" gumam Dea di sela-sela khayalan selangitku.

ST [4] - Tibby's JournalBaca cerita ini secara GRATIS!