Dimabuk Asmara, Dilanda Badai Cinta

19.3K 2.3K 359
                                    

Author's Note :D

Update ini dulu aja. Selamat menikmati! :)

________________________________________________

"Hei, Bi. Dungaren wis teko? Onok kuliah isuk ta?" Malik menghempaskan badannya di samping Abi yang sedang duduk merenung di amben. Jam 06.39 pagi. Wajar Malik bertanya, datang pagi bukan kebiasaan Abi.

"Nggak. Aku butuh panggon gawe mikir..." ujar Abi sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Ck. Isuk-isuk wis nggarai polusi, Bi. Mikir opo se? Masalahmu lho opo. Pol-polan paling perkoro gak disangoni karo Mamamu..." Malik terkekeh. Abi merengut. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Abi. Malik!

"Lik!" Abi berteriak, girang. Malik yang bersiap memejamkan mata, tergeragap kaget.

"Jancuk! Ngageti ae koen iku!" omel Malik.

"Malik! Astaga, Malik! Kok aku lali thoooo! Kamu orang yang tepat!" teriak Abi sambil tersenyum lebar. Malik mengernyit jijik.

"Aku ndak doyan batangan, Bi. Ojo naksir aku," Malik menggeser duduknya, ngeri melihat tingkah aneh Abi. Abi memukul pundak Malik keras.

"Nguawur, cuk! Heh, aku arepe takon. Kamu sik pacaran sama Mbak Adinda kan?" tanya Abi. Wajah Malik keruh seketika.

"Mmm. Lapo takon? Yooo, isik sih. Tapi yo ngono..." ujar Malik pelan.

"Waduh, ajur yo sawangane? Hmmm. Dadi ngene, Lik, ceritane. Aku ki... Suka sama seseorang. Tapi... Dia lebih tua. Sekitar 7 tahun lah. Yo koyo kamu sama Mbak Adinda ngono. Eh, kamu sama Mbak Adinda beda berapa tahun?" curhat Abi pelan. Malik menegakkan duduknya.

"Golek liyane ae," tegas Malik.

"Hyah, saranmu ora memotivasi blas," gerutu Abi.

"Aku iki serius, Bi. Cari yang lain. Pacaran sama perempuan yang lebih tua itu, nggak gampang. Uwangel, Bi. Aku sama Adinda beda 5 tahun. Itupun sudah berat, Bi. Apalagi beda 7 tahun. Aku yakin, perempuan itu pasti sudah lebih segalanya dari kamu, tho? Ya pendidikannya, tingkat kedewasaannya, duitnya..." Malik menatap Abi tajam.

"Mmm, pendidikan sama duit sih iya. Tapi dewasa, aku nggak yakin..." Abi meringis.

"Berat, Bi. Lek saranku sih, cari cewek lain aja. Dengan tampang boyband-mu itu, aku yakin bakalan banyak cewek yang antri..."

"Jancuk!" Abi misuh-misuh. Lalu ia terdiam. Lama. Membiarkan kata-kata Malik meresap ke dalam benaknya. Malik menatapnya.

"Emang siapa sih, yang kamu taksir? Koncone Mbak Anggani?" tanya Malik. Abi hanya tersenyum pahit.

"Kalau misalnya, aku pengen tetep ngejar, menurutmu?"

"Yooo, sakkarep sih. Urip, uripmu. Ajur yo awakmu, duduk aku. Cuma lek engko patah hati, ojok ngejak aku mabuk!" Malik terkekeh.

"Iyo. Aku tak ngejak Bono ae. Njaluk dibayari sisan," ujar Abi. Malik tergelak. Banci satu itu memang yang paling setia kawan, sekaligus yang paling bergelimang uang.

"Sakjane sopo, Bi? Ayu temenan tah? Sampe awakmu rela menempuh segala risiko?" tanya Malik kepo. Jarang-jarang Abi tampak begitu kesengsem seperti ini. Biasanya cewek-cewek yang mengitarinya seperti lalat mengitari sebakul nasi.

"Menempuh risiko seperti apapun tampaknya sebanding dengan memiliki senyumnya, Lik..." mata Abi menerawang. Malik melemparnya dengan tas.

"Guayamu, cuk! Sopo seh? Pengen eruh aku, arek wedok sing nggarai rupamu njijik'i ngono!"

"Engkok lak awakmu eruh dewe..." Abi menata tasnya di amben, lalu membaringkan badan. Membayar utang tidur yang tertunda semalaman.

***

KENANGA (n)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang