"Selamat pagi. Siapkan kertas kalian" dorr! Dengan pasrah gadis itu melepas buku catatannya dan mengeluarkan secari kertas kosong beserta alat tulis menulis.

Rachel menatap pria tinggi berbadan tegap dengan postur yang bisa dikatakan sangat melebihi kata biasa saja. Rahang tegasnya mampu membuat kaum hawa berseru girang.

Rachel menyadari bahwa tatapannya terbalaskan, gadis itu langsung salting dan pura-pura sibuk. Namun ia sempat melihat dosennya itu tersenyum ke arahnya dan hanya dengan satu senyuman di pagi hari mampu membuatnya bersemangat untuk tiga jam kedepan.

"I forgot, sama sekali lupa kalau hari ini ada ujian" Rachel meneguk habis sekaleng cola dingin yang diberikan Baril. Lelaki yang duduk persis di depannya hanya bisa geleng-geleng kepala karena gemas dengan tingkah kekasihnya itu.

"Makanya kalau di kelas kamu harus fokus ke apa yang saya katakan, bukannya fokus ke muka saya" Rachel menggerutu tak jelas dengan wajah memerah karena jelas-jelas sudah tertangkap basah.

"Aku merhatiin wajah Mas Baril karena jidatnya Mas lebar banget" gurau Rachel, lebih baik mengelak dari pada mengaku dan membuat kekasihnya itu bertambah PD, pikirnya.

"Terserah kamu deh, tapi saya ini sudah berpengalaman menghadapi mahasiswa yang suka bohong. Tetapi untuk hari ini aku mengalah" kata Baril.

Mereka menghabiskan waktu makan siang di taman kota yang terletak tak jauh dari Kampus. Rachel terlihat sangat nyaman bersama Baril dan begitu juga sebaliknya.

Selama lima bulan belakangan ini hubungan mereka berjalan lancar. Baril yang jauh lebih dewasa sangat pengertian kepada Rachel yang berjarak sepuluh tahun di bawahnya. Selama ini tak ada banyak orang yang tahu tentang hubungan mereka, hanya beberapa sahabat Rachel dan Baril.

"Jadi malam ini kamu mau kan temani saya ke pembukaan hari pertama galerinya Dandi?" tanya Baril mencoba memastikan.

Rachel memang jarang keluar rumah di malam hari. Biasanya gadis itu hanya akan makan malam dan menonton serial komedi romantis, setelah jam sembilan malam ia akan masuk ke kamar dan langsung tidur.

"Yup. Aku sudah bilang ke orang rumah" Baril mengerutkan keningnya belum puas dengan jawaban yang diberikan Rachel. Namun ia tak akan bertanya lebih lanjut karena gadis itu menjauhkan kepalanya dari pundak Baril.

"Sudah jam satu, aku masih ada kelas" Baril mengerti dan langsung bediri dari kursi kayu itu. Ia lantas menggenggam tangan Rachel "Okay love, mau diantar naik mobil atau naik ke punggung?"

"Terbang" merekapun tertawa dengan gurauan masing-masing.

...

Mobil merah metalik dengan plat nomor yang dipesan khusus itu memanuver dengan cepat mencoba menerobos kemacetan kota Jakarta.

"Iya, saya sedang menuju kesana. Mungkin sekitar setengah jam lagi saya tiba. Jangan lupa bawakan laptop saya serta map biru yang ada di atas meja" kata Daryl di ujung telefon. Setelah sambungan telefon terputus, ia kembali memfokuskan diri untuk menyetir diiringi dengan lagu Omi 'Cheerleader'.

Setengah jam kemudian Daryl sudah berada di dalam bangunan yang kini disulap menjadi super mewah dengan berbagai lukisan yang dapat membolongi mata Daryl.

Pria itu tidak tahu menahu dengan yang namanya lukisan. Rasanya ia ingin kabur dari acara ini jika saja pemilik galeri ini bukanlah temannya.

"Ryl, red wine? aku jamin kamu gak akan teler malam ini kalau hanya segelas" Dandi menyodorkan gelas kaca ke hadapan Daryl. Ia lelaki cool yang sudah biasa keluar masuk kelab malam yang menyediakan minuman seperti ini dan selama ini dia berhasil pulang dengan selamat dengan fokus yang masih bisa dikatakan good.

"Thanks bro" Daryl meminum habis minumannya setelah itu memberikan kepada waitress yang menampung gelas-gelas kosong. Cukup lama ia berbincang-bincang dengan Dandi hingga sebuah suara yang dirasanya familier menyapa gendang telinganya.

"Seriously, look at what around you. They all look gorgeous and elegant. Dan aku gak pakai make up sama sekali karena gak sempat pulang rumah" pandangan Daryl teralihkan pada gadis berambut hitam panjang yang dibiarkan terurai dengan long dress berwarna putih satin yang dipadukan bunga-bunga berwarna hijau-kuning di ujungnya.

Ia tertegun sejenak memperhatikan gelagat gadis itu yang sebenarnya sedang berbisik pada seseorang yang berdiri di sebelahnya. Seketika Daryl tertawa saat melihat gadis itu berulang kali mengucapkan kata maaf karena suaranya yang terlalu keras.

"Baril!" lelaki yang berdiri di samping Rachelpun melarikan matanya ke sumber suara. Ia melemparkan senyum kearah Dandi yang melambai-lambaikan tangannya.

"Sorry aku datang terlambat, Jakarta macet.." Daryl menatap tajam gadis yang berdiri kaku dan gelisah tak jauh darinya. Gadis itu menundukkan kepalanya tak berani menatap Daryl yang siap melahapnya hidup atau mati.

"Kalian kenalan dulu dong" sadar akan tatapan Dandi dan Baril yang siap mengulurkan tangan, Daryl kembali memfokuskan diri kepada dua orang di depannya.

"Baril Bramaditia" ucap Baril sambil tersenyum berbeda 180 derajat dengan Daryl yang tidak tersenyum sama sekali, "Daryl Ricardson". Hening karena tak ada lagi yang berbicara, Dandi yang sadar akan kekakuan teman-temannya pun angkat suara "Ayo Rachel juga dong".

"Ra.. Rachelia Krasnerman" tangan gadis itu sampai berkeringat di dalam genggaman Daryl.

Cukup lama mereka berjabat tangan hingga sebuah dehaman yang disengaja terdengar. Daryl melirik kearah Baril yang menunjukkan wajah tak suka dan sekilas ia melihat sebuah tangan yang melingkar di pinggang Rachel dan itu cukup membuatnya sadar bahwa ada sesuatu di antara Baril dan Rachel, kemudian ia melepaskan jabatan tangannya dengan sukarela.

"Kamu pasti bukan orang Indonesia asli, mengingat nama belakangmu sangat tidak familier" Daryl mencoba membuka percakapan. Rachel terlihat tak senang dengan topik yang dibahas oleh mereka.

Rachel sudah berusaha menghindari topik ini dari teman-temannya bahkan keluarga angkatnya, namun malam ini ketenangannya berhasil dihancurkan oleh Daryl.

"Ya" kata Rachel. Walaupun di wajah gadis itu tetap tersungging senyuman, Daryl tahu bahwa gadis itu kini sedang memaki-makinya di dalam hati.

Baril yang sadar dengan gelagat gadisnya itu dan ikut angkat bicara "Nama belakangmu juga terdengar sedikit familier dan logatmu juga berbeda, kamu pasti juga bukan orang Indonesia asli?"

"Ya, ayah saya orang Jerman dan kami tinggal cukup lama disana" Daryl mencoba menjawab seadanya.

"Ah, saya juga sekolah disana dan well, hot chicks everywhere" kata Baril yang terlihat mulai antusias dengan percakapan mereka.

Daryl menatap sekilas ke arah Rachel, kemudian berkata dengan pelan "Yes. There's no escape"

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!