00.

192K 7K 208


Kalau ada yang lebih memalukan ketimbang naik ojek dalam keadaan begitu, Cherry bakalan rela naik apapun itu asalkan ia bisa sampai di sekolah sebelum gerbang ditutup. Pasalnya hari ini adalah hari pertama MOS. Bisa mampus dia kalau telat dihari pertama! Tidak bikin salah saja bisa digencet oleh kakak-kakak senior osis yang memiliki dendam tersimpan sewaktu mereka di MOS dulu, apalagi kalau bikin salah! "Aduh mampus nih gue," Cherry menggerutu sepanjang perjalanan, sambil berusaha memegangi pita rambutnya yang tertiup oleh angin karena mang Adun tukang ojek komplek langganannya memutar gas dengan gila-gilaan. Setara Dani Pedrosa!

Mang Adun menginjak rem tepat tiga meter dekat gerbang sekolah SMA Bakti Siswa, sepertinya keberuntungan tidak sedang menyertai Cherry. Karena meskipun sudah mengambil resiko dengan menantang maut bersama Mang Adun dijalanan tadi, hasilnya tetaplah sama, ia terlambat! Pintu gerbang sudah ditutup pertanda bel sudah berbunyi. Selain terlambat dandanannya pun kini berantakan. Cherry berucap dalam hati, apa gak ada yang lebih sial daripada ini?

"Neng? Kok gak masuk?" tanya Mang Adun yang bingung karena Cherry tidak kunjung melangkah padahal jelas-jelas tadi gadis itu bilang ia sudah terlambat. "Engg aku takut mang!" Mang Adung mengernyit. "Mau mamang anterin terus ngomong ke satpamnya?" tawar Mang Adun penuh perhatian. Cherry meringis. "Gak usah deh mang, aku bisa sendiri kok" pria berumur separuh abad itu mengangguk mengerti lalu akhirnya pamit dan memutar motornya.

"Woy ngapain lo disitu?" Cherry hampir saja terjatuh kalau tidak berpegangan pada tembok disampingnya. Siapa sih yang ngebentak dia sampe kaget gitu? Cherry menoleh dan mendapati seorang murid cowok berseragam putih abu-abu berdiri dibelakangnya. Alisnya tertaut nampak heran namun matanya menyorot dingin.

Cherry kelabakan. Duh siapa nih? Jangan-jangan salah satu anak osis? Cherry menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Eh anu itu..."

Cowok itu langsung mengerti bahkan sebelum Cherry sempat menjelaskan. Lebih tepatnya cowok itu berasumsi sendiri. "Lo... kepengen sekolah disini tapi gak punya biaya ya?"

Gubrak! Cherry hampir saja menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Ini orang kenapa nebaknya sedrama itu sih? Udah kayak di film-film aja gitu, Cherry jadi kayak anak orang gak mampu yang kepengen banget sekolah lalu ikutan sekolah walaupun Cuma ngintip digerbang. Emangnya ini film!

"Ih bukan!"

Cowok itu lalu mengangguk lagi. "Oh berarti lo maling ya? Ngapain coba ngintip-ngintip gitu kalo bukan mau maling."

Cherry ingin sekali melempar tasnya yang terbuat dari kardus, salah satu properti MOS yang semalaman ia buat. "Bukan!" tandas Cherry lagi kini tanpa menutupi nada kesalnya.

"Jadi siapa dong?" Cowok itu akhirnya menyentuh dagunya sendiri dan mengusapnya, pose orang memperhitungkan.

"oooh pasti lo anak MOS yang kesiangan ya?" tanya cowok itu yang kini mendapatkan putaran bola mata dari Cherry. Dari tadi kali!

Cowok itu lalu melirik ke pagar sekolah. Dari sela pagar terlihat lapangan basket yang kini dipenuhi murid-murid berseragam putih biru lengkap dengan atribut MOS yang sedang apel dibimbing beberapa guru dan anak-anak OSIS. Cowok itu lalu menatap Cherry lagi.

"Parah juga ya lo telat di hari pertama MOS. Gue sih kalo jadi lo bakalan dateng sepagi mungkin. Lo pernah denger kabar gak sih kalo OSIS SMA Baksis itu setiap tahunnya selalu galak-galak?"

Cherry mengerut ketakutan. Ia memang sering dengar kabar tersebut sewaktu dirinya berniat masuk SMA itu dari teman-temannya tapi kualitas SMA itu yang bagus juga lokasinya yang mudah ditempuh dari rumahnya membuat Cherry memilih SMA itu begitu ia lulus SMP.

MeltedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang