Friendzone [1]

12.7K 646 6
                                    

Friendzone [1]

Aliando dan Prilly.

"ALI!!! BANGUN!!!" Seru seorang gadis mungil sambil menarik-narik tangan laki-laki yang di panggil 'Ali' itu.

Ali hanya bergumam dan mengubah posisi menjadi membelakangi gadis mungil tersebut.

Aliando Pradiptya adalah laki-laki berumur 18 tahun. Ini adalah tahun terakhirnya di SMA. Tapi, semakin bertumbuh dewasa, ia semakin malas untuk masuk sekolah.

Ibunya bahkan sudah kehabisan akal untuk membangunkannya. Laki-laki yang akrab di panggil 'Ali' itu sudah membanting jam waker sebanyak 70 kali. Setelah itu, Ibunya menyerah. Dan sekarang, ia sedang di bangunkan oleh jam waker yang profesional. Lebih profesional dari pacarnya sendiri.

Prilly Dwiana adalah gadis mungil berumur 17 tahun. Ia adalah sahabat Ali dari lahir. Walaupun memang, ia dan Ali lahir berbeda tahun. Tapi, mereka lahir sama bulan. Tidak tahu apa hubungannya, tapi mereka sudah di takdirkan untuk bersahabat. Dari kecil sampai sekarang ia satu kelas dengan Ali. Walaupun Prilly lebih muda darinya, tapi banyak yang seusia Prilly di kelasnya.

Ia dan Ali mengenal satu sama lain sejak Ibu mereka masing-masing sering ke taman di komplek rumahnya. Mereka makin akrab saat TK, berlanjut ke SD dan SMPlah puncak keakraban mereka.

Karena, saat SMP ternyata orangtua Prilly dan orangtua Ali saling mengenal dari dahulu. Lebih tepatnya bersahabat. Bahkan, saat lahiran Prilly, orangtua Ali datang untuk menjenguk sahabatnya itu. Pastinya, orangtua Ali membawa Ali. Dan itulah yang menyimpulkan bahwa mereka sudah bersahabat dari lahir.

Prilly berkacak pinggang dan berdecak. "Lo tuh dari kecil beneran kayak kebo ya! Li, coba lo liat jam deh!"

Ali kembali bergumam dan meneruskan tidurnya.

Kesabaran Prilly sudah mulai habis. Sudah 15 menit ia membangunkan sahabatnya itu, tapi Ali terus melanjutkan tidurnya dan mengabaikan celotehan Prilly.

Prilly tidak menyerah. Ia memutari kasur dan berhenti tepat di mana kaki Ali di istirahatkan. Prilly melepaskan jas seragamnya dan menggulung lengan kemeja sampai pundaknya. Prilly menghela nafas panjang dan menarik kaki Ali sekuat tenaga.

Ali yang sudah masuk alam mimpi, kaget dengan kelakuan sahabatnya itu. Biasanya cara Prilly membangunkannya hanya dengan menarik tangannya sampai bangun, mengguyurnya dengan air atau menamparnya kuat-kuat.

Tapi, cara tersebut sudah Prilly pakai barusan. Namun nihil. Ali masih tak bangun. Dan cara terbaru adalah: menjatuhkan Ali dari kasurnya sampai kejedot lantai.

Dan berhasil.

Kepala belakang Ali sukses mencium lantai.

Ali meringis sambil masih memejamkan matanya. "Aduh Prill, geger otak nih gue!"

Prilly berdecak dan kembali memakai jas sekolahnya. "Kalau lo geger otak, lo gak akan inget gue." Prilly menendang kaki Ali. "Cepetan mandi! Gue gak ada yang anter nih! Lo telat, gue juga telat, tau!"

Dengan malas, Ali duduk dan menatap Prilly tajam. "Lo tau gak sih gue tadi malem tidur jam berapa?"

Prilly mulai melangkah ke sofa di ujung kamar Ali dan duduk. "Gak tau dan gak mau tau."

"Kemaren gue berga-"

"Gue udah bilang. Jangan bergadang!"

Ali berdiri dan menatap Prilly tajam. "Gue kemaren malem ngerja-"

"Hari ini gak ada peer yang harus di kumpulin, tuh!"

Alibinya sudah sering ia pakai. Memang susah jika mempunyai sahabat yang sangat mengetahuimu luar-dalam.

Friendzone✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang