Part 8

9.1K 246 0

Di restaurant tempat aku bekerja. Terlihat seoarang wanita paruh baya yang duduk manis dan memanggil ku, entah tau dari mana wanita itu mengetahui nama ku.

"Jessi, kemarilah. Saya ingin memesan makanan yang enak di restaurant ini." Sahut wanita paruh baya itu.

Dengan ragu nya aku mendekati wanita itu. Tatapan nya penuh tajam. Aku jadi takut ni sama nenek ini..

"Tidak usah takut cucuku, aku tidak akan mencelakai mu, apakah kau masih ingat dengan ku.? Ucap nenek itu.

Seketika aku terdiam dan berpikir sesuatu,
"Haah, apa aku pernah berjumpa dengan nenek ini? Dan ia pun bisa membaca kata hati ku kalo aku sempat takut ketika mendekati nya." batin ku.

Aku berusaha untuk mengingat nya. Dan aku mengingat nya, yaah dia adalah nenek yang aku temui ketika berjalan menuju kampus dan aku pun ingat dengan perkataan nya yang ia lontarkan pada ku.

"Hai gadis manis, nasibmu akan berubah. Tapi hidup mu akan penuh dengan rintangan. Hehehehe."

"Ya nek aku ingat itu, nenek yang mendekatiku pada saat aku aku sedang berjalan menuju kampus..

"Kau benar sekali nak, hehehee,. Apa yang aku ucapkan pada mu akan segera terjadi dalam hidup mu,hehehehe" ucap nenek itu dengan ketawa mengerikan.

"Maksud nenek apa.?" Tanya aku dengan penasaran.

"Kembalilah ke kampus mu cucu ku sayang, hehehehehe."

"Aku hanya cutti setahun nek, dan aku akan kembali ke kampus itu lagi."

"Hehehehehehe, tidak sampai setahun kau cutti, kau akan kembali ke kampus itu. Tempat ini bukanlah tempat mu, tapi berada di kampus itu. Kau akan mencari nasib mu di sana."

"Tidak, nasib ku bukan di sana tapi di sini lah nasibku nek, di sini aku bisa mencari uang untuk pengobatan ibu ku." Tegas aku pada nenek itu.

"Hehehhehehhehe,,, liat saja cucuku, semua nya akan berubah. Dengan perubahan itu dirimu akan penuh dengan kesengsaraan. Karena itu takdir mu. Hehehehehehe."

"Memang nenek ini Tuhan yang mengetahui takdir orang lain. Jangan sok tau nek." Aku dengan lancang telah mengucapkan perkataan tersebut kepada nenek itu.

Dia tidak berbicara sepatah kata pun,, dan langsung pergi meninggalkan ku, ia hanya tertawa,tertawa, dan tertawa. Seperti nenek lampir, iiihhh serem...

Aku tidak memperdulikan omongan itu, terlintas aku melupakan semua perkataan nya.

fariz

"Jes, kau sudah pulang kerja.?" Tanya nya.

"Apa penting nya bagi mu.?" Jawab ku dengan masih mempunyai rasa dendam.

"Aku kesini ingin mengantarkan mu pulang."

"Maaf, aku bisa pulang sendiri. Tidak usah memperdulikan aku. Aku ini bukan siapa-siapa mu.."

Fariz dengan tatapan tajam memendangiku dan mendekatiku, aku termundur karena ia terus saja mendekatiku,

"Ka,,,uu,ka,,uu mau apa.? Jawab ku terbata-bata.

"Apa kau tidak merindukan kejadian pada saat kau di rumah ku." Ucap nya dengan berbisik di telinga ku.

Aku langsung mendorong nya dan pergi dari hadapan nya.
Ia tak menyerah begitu saja, pergelangan tangan ku langsung di erat oleh nya sampai memerah, dan ia menarik ku dan menyuruh ku masuk ke dalam mobil, sama persis yang ia lakukan terhadap ku dulu.

"Lepaskan aku riz, aku tidak mau ikut dengan mu,, kau mau membawa ku kemana?"

"Membawa mu pulang kerumah mu, bukan kerumah ku." Jawab nya dingin.

Entah apa yang aku rasakan terhadap nya saat ini, tapi jujur dari lubuk hati ku yang paling dalam bahwa aku masih sangat mencintai nya.
Tapi aku sungguh tak percaya dengan semua ucapan nya kalau dia mencintai ku. Aku sangat trauma dengan ucapan itu,. Takut hati ini akan tersakiti lagi.

Pada saat fariz mengendarai mobil nya. Wanita paruh baya itu berada tepat di depan mobil fariz... Wanita itu seperti nenek yang aku temui di restaurant tempat aku bekerja.

Love You FarizBaca cerita ini secara GRATIS!