Part 7

10.1K 267 0

"Jessi, kenapa jam segini baru pulang nak?. Kemana saja kamu sayang.?" Tanya ayah penuh kekhawatiran,

"Maaf yah, jessi habis dari rumah teman." jawab ku berbohong pada ayah.

"Ya sudah lebih baik kamu mandi, setelah itu istirhat, besok kan kamu kuliah."

Mendengar ayah mengucapkan kata kuliah, aku selalu sedih, hidup ku terasa tak bersemangat.
Bertemu dengan fariz yang sudah membuat hati ku terlalu sakit seperti di iris pisau yang sangat tajam.
Semudah itu ia mengucapkan kata cinta padaku, memang aku ini di anggap apa di mata nya.

"Jessi, kau belum juga mandi nak?" Tanya ayah dari luar kamar ku.

"Iya yah, sekarang jessi mau mandi."

"Jessi ada yang mencari mu, dia menunggu mu di luar, ketika ayah suruh masuk, dia tidak mau. Kata nya kalo kamu mengijinkan dia masuk dia akan masuk. Coba kamu keluar sebentar."  ucap ayah dari luar.

Mendengar ucapan ayah, aku langsung saja keluar rumah. Dan aku melihat fariz yang sedang berdiri tegap di depan rumah ku.

"Kenapa kamu menemui ku lagi.? Dan dari mana kamu tau alamat rumah ku.?" Tanya aku penuh kesal.

"Aku mengikuti mu. Dan aku tidak akan pernah berhenti menemui mu untuk mendapatkan maaf darimu." Ucap fariz dengan mengeluarkan air mata nya dan untuk yang kedua kali nya aku melihat fariz menetesekan air mata nya untuk ku.

"Kau pernah bilang padaku, kalo aku ini hanya mainan mu saja, tapi kenapa kau malah mengejar ku seperti ini di saat aku mulai melupakan mu, dan melupakan semua yang telah kau lakukan padaku di rumah mu.." ucap ku dengan tangisan.

"Terus lah kau menyalahkan ku,, terus lah kau memarahi aku. Aku memang pantas menerima perlakuan mu seperti ini. Aku harus bagaimana agar kau mau memaafkan ku."

"Lebih baik kamu pulang, jangan pernah temui aku lagi. Lupakan aku. Anggap aku ini hanya angin lewat dalam kehidupan mu. Pikirkan saja sabrina, wanita yang saat ini menemani mu."

"Aku tidak mencintai nya, aku hanya mencintai mu jessi." Ucap fariz dengan menangis tersedu-sedu.

"Aku bilang pergi,, pergi dari rumah ku, dan pergi dari kehidupan ku. Aku mohon jangan mengganggu ku lagi. Aku sudah cukup bahagia dengan hidup ku yang sekarang. AKU BILANG PERGI...." tegas ku dengan amarah memuncak.

"Baiklah kalo itu mau mu, aku akan pergi." Ucap fariz dengan raut wajah sedih.

*Rumah karin*

"Fariz, apa yang kau lakukan malam-malam begini.? Dan kenapa kau menangis.?" Tanya karin.

"Bantu aku rin. Aku saat ini terkena karma, apa yang kau katakan dulu, itu semua terjadi padaku. Aku sangat mencintai jessi, aku tak ingin melepas nya, aku ingin bersama nya. Aku sadar selama ini aku telah mencampakkan jessi, aku telah membuang nya bagaikan sampah. Dulu pada saat aku mengajak nya kerumah ku, aku mengatakan kata-kata manis pada nya, hingga akhir nya ia bersedia untuk bercinta dengan ku. Aku sangat menyesal rin menyia-nyiakan wanita seperti jessi dan jessi tidak mau memaafkan ku." Fariz yang terlihat menyesali perbuatan nya.

"Baiklah aku akan membantu mu untuk bisa bersama jessi, tapi bagaimana dengan sabrina.?" Tanya karin.

"Aku tidak mencintai nya rin, yang ada di hati ku hanyalah jessi bukan sabrina." Ucap fariz.

"Sekarang kau pulang lah, tenangkan pikiran mu." Ujar karin.

Pagi itu aku bersiap-siap untuk bekerja, aku melihat karin berdiri di depan rumah ku. Mata nya menatap ku dengan penuh kesedihan.
"Apa yang kau lakukan di rumah ku pagi-pagi begini..?" Sahut ku.
"Jessi aku ingin berbicara pada mu, apa kamu ada waktu.?" Jawab karin.
"Maaf rin aku sibuk, aku akan bekerja. Lain kali aja kamu berbicara padaku." Ucap ku dengan penuh amarah.

"Tenagkan pikiran mu jes, aku tau saat ini kau sedang marah." Karin yang mencoba menenangkan ku.
"Apa siih mau rin.?" Jangan bilang kau kesini karena fariz. Iya kan?." Ucap ku kesal.

"Iya aku kesini memang karena dia... Jes, aku mohon maafkan dia,. Aku sangat mengerti perasaan mu. Karena aku pun juga perempuan. Tapi fariz sudah mengakui kesalahan nya, kemarin malam, dia menemui ku. Dia menangis jes, baru kali ini aku melihat fariz menangisi seorang wanita. Aku ini sepupu nya sabrina, tapi aku bersahabat dengan fariz dari sejak kecil, dan aku lah yang menjodohkan dia dengan sabrina. Aku yang lebih tau tentang fariz. Dia itu adalah seorang pria kesepian yang selalu di tinggal pergi oleh kedua orang tua nya bertugas keluar negeri dia bersikap seperti itu pada mu dulu karena dia khilaf." ucap karin dan berusaha meyakinkan ku.

"Maaf rin, aku belum bisa untuk memaafkan nya. Beri aku waktu untuk memikirkan nya. Hati ku sudah terlanjur sakit karena nya. Gak semudah itu aku memaafkan nya." Tegas ku pada karin.

"Baiklah jes, kalo itu mau mu, aku tidak bisa berbuat apa. Yang jelas aku kesini hanya untuk memberitaukan mu bahwa fariz sangat mencintai mu." Ucap karin.

Love You FarizBaca cerita ini secara GRATIS!