Part 4

11.9K 268 0

Sesampai nya aku di rumah sakit. Aku bertemu ayah ku yang sedang menangis. Baru pertama kali ini aku melihat ayah menangis seperti itu..

"Ayah bagaimana keadaan ibu? Apakah ibu baik-baik saja.?"

"Ibumu dalam keadaan kritis nak, dokter bilang ibumu harus di operasi, tapi ayah tidak punya uang untuk operasi ibumu." Jawab ayah sambil memegang tangan ku dan menangis.

Aku sangat sedih melihat ayah seperti ini, dan terlebih lagi aku tidak bisa melihat ibuku yang terbaring lemas di tempat tidur.

"Oohh Tuhan, apakah aku harus menerima cobaan seberat ini darimu.?" Ucap ku dalam hati sambil menangis melihat ibuku.

Aku selalu di kerjain teman-teman kampus ku, dan aku pun tidak memiliki teman. Tapi aku bahagia memiliki keluarga seperti ayah dan ibuku. Mereka selalu mensuport ku dalam keadaan suka maupun duka. Dan sekarang hidupku seakan hancur melihat ibuku jatuh sakit dan ayah ku yang stres memikirkan biaya pengobatan ibuku..
Aku sebagai anak, sungguh tak berguna. Kalau sampai ayah ku tau nilai ku di kampus menurun, hati nya pasti tambah sedih..

Aku tak tahan berada di sana. Aku pun pergi dan menenangkan pikiran ku, aku berjalan tiada tujuan. Entah aku mau kemana. Ingin rasa nya aku mengakhiri hidup ku.
Harga diri ku sebagai wanita di renggut oleh fariz, dan kini aku melihat kedua orang tua ku menderita.

Ketika aku terduduk di pinggir jalan, aku melihat fariz sendirian sedang memasuki sebuah toko. Aku pun menemui nya.

"Fariz, aku mencari mu, apa kau melupakan ku? Kenapa kau menjauhi ku?." Tanya ku dengan memegang tangan kanan nya.

"Lepaskan aku, jangan temui aku lagi. Aku mau pergi menemui sabrina kekasih ku." Jawab fariz dengan dingin.

"Apa kau lupa dengan kejadian di rumah mu, kau bilang jika aku bersedia menjadi kekasih mu, kau akan putuskan hubungan mu dengan sabrina."

"Kau hanya permainan ku saja." Ucap fariz dengan senyum sinis nya dan dia berubah menjadi pria yang super dingin.

Aku terdiam, pikiran ku kosong. Fariz meninggalkan ku dengan berjalan tanpa menoleh ku di belakang nya. Hati ku terasa remuk dengan ucapan nya yang sadis.
Kini aku sadar kalo fariz bukan pria yang baik.
Aku sangat bodoh dengan memberikan keperawan ku dengan nya.
Yang seharus nya aku berikan pada suami ku kelak, malah aku berikan pada pria yang jahat seperti nya.
Tapi mengapa aku masih mencintai nya.
Padahal dia sudah menyakiti hati ku, dengan perkataan nya.

"Apakah ini kehidupan yang kau berikan untuk ku Tuhan.? Haruskah aku di perlakukan seperti ini kepada pria yang aku cintai." Aku menangis hingga tersedu-sedu.

Love You FarizBaca cerita ini secara GRATIS!