Chapter 13

3.7K 384 44

Note: Beberapa bagian dari chapter ini sama seperti chapter sebelumnya, cuma bedanya yang ini pake POV-nya Mike.

***
Mike's Pov

"Mike, kamu di kampus harus bersikap baik sama Claudya. Kalau engga, mami akan menyita mobil, motor, dan hp kamu itu."

"Yah mami, kenapa gitu? Terus aku ke kampus gimana?"

"Bodo amat. Mau jalan kaki kek, mau naik bajaj kek, terserah. Clau itu suka sama kamu. Mami juga sreg kok sama dia. Mami hanya akan merestui kamu dengan Claudya. Ya udah sana pergi. Awas aja kamu sampai berani ngelanggar perintah mami. Burung kamu mami sunat empat kali!"

Astaga, kenapa aku sampai punya mami seperti dia? Aku-nya ngga suka sama Clau, malah dipaksa. Bahkan, diancem. Apes. Ga bisa cari cogan deh, secara kan mami punya banyak mata-mata. Mau ga mau, aku harus menuruti perintah mami.

Ini semua karena mami. Claudya ganjen parah. Kemana-kemana dia ngintilin aku mulu. Mentang-mentang mami membelanya, dia malah menjadi besar kepala. Mana anak-anak lain pada merhatiin lagi. Image aku as a hottest gay jadi hancur. Kalau ngga inget ancaman mami tadi, mungkin udah aku tendang dia.

Saat kami--aku dan Claudya-- ingin pergi ke kantin, eh malah ada cewek aneh dan temannya satu lagi yang ga kalah anehnya juga. Kenapa aku sangat sial hari ini? Jujur, aku sangat membenci Tessya untuk saat ini. Mengapa? Aku sendiri tidak tau apa alasannya. Tetapi, kata pepatah, jangan terlalu membenci seseorang kalau tidak mau jatuh terlalu dalam.

Aku tidak terlalu memedulikanku. Feelingku mengatakan kalau Tessya tau jika aku membenci dirinya. Tapi, aku ngga tau dan ngga bisa menebak bagaimana perasaannya padaku? Habisnya, Tessya selalu membawa tatapan kosong mulu sih. Ah, ya, aku juga baru menyadari ini. Mengapa Rhoby tiba-tiba menghilang, ya? Setelah putus dariku, dia tidak pernah menampakkan wujudnya lagi. Masa bodo, deh. Rhoby juga sudah berstatus sebagai my ex.

Ketika Claudya sedang dalam masa modus-modusnya padaku, Gladys tiba-tiba bangun."Clau, gue sama Tessya ke toilet, ya. Kami ga mau MENGGANGGU kalian. Apalagi jadi obat nyamuk di sini. Bye." Lah apa-apaan coba si Gladys?

Setelah duo aneh--Tessya dan Gladys-- pergi ke toilet, Claudya berbicara padaku. "Lo ga ada hubungan apa-apa kan sama Tessya? Ati-ati loh, ntar dari benci jadi suka. Awas aja kalau lo sampai suka beneran sama Tessya. Gue ga akan tinggal diem. Lo ga tau gimana kejamnya gue kalau ditikung temen sendiri," ancam Claudya.

"Gue ga akan jatuh cinta sama si cewek aneh itu. Sama lo aja gue ogah, apalagi sama dia," jawabku seadanya. Yah, memang faktanya begitu, bukan?

"Lo inget, ya. Satu-satunya cewek yang berhak milikin lo itu cuma gue. Bukan yang lain."

Aku semakin lama semakin yakin, Clau itu tidak waras.

***

Tessya's Pov

Lama banget sih supirku, ngaret mulu kerjaannya. Coba aja Kessya ga pergi, pasti dia menjemputku tepat waktu. Mana sepi banget, udah gitu ini malam Selasa lagi, eh sore Selasa maksudnya. Biasanya sebentar lagi komunitas orang-orang taken pada ngumpul.

Mampus deh aku yang jomblo. Mamam tuh ngenes. Aneh? Mau protes? Suka-suka aku dong. Ini ceritaku, ini kisahku. Lagi pula, aku males banget sama malem Minggu, hari keramat paling maut bagi para jones. Authornya jones sih. Jadi, untuk menghormati author, aku ganti deh, hehe.

"Hai, lo Tessya anak bahasa, kan?" Tanya seorang cowok secara tiba-tiba.

Ganteng ya Tuhan. Apalagi lesung pipinya. Ya ampun, astaga Tuhan, demi korban segitiga bermuda. Indah sekali makhluk ciptaan-Mu di depan hamba, Tuhan. Kenapa aku tak sadar sih, kalau kampus ini produksi banyak cogan. Tapi, menurutku tetap saja Mike lebih tampan. Ups.

Fakers Gonna Fake Baca cerita ini secara GRATIS!