Part 3

15.1K 321 1

Setelah kejadian itu aku menangis. Tak henti-henti nya aku menangis.. Air mata terus mengalir membasahi pipiku, ku coba untuk tidak menangis, tapi aku tak sanggup. Memang penyesalan selalu datang belakangan..
Fariz sangat beruntung telah mendapatkan keperawan ku, aku sangat menyesal telah memberikan nya, aku sangat mencintai nya, aku takut sikap fariz akan berubah kepada ku.

Keesekon hari nya, dengan perasaan gundah aku berangkat ke kampus.. Pikiran ku kacau, aku seperti tidak bisa berpikir apapun, yang ku pikirkan hanyalah fariz. Oohh, Tuhan apakah aku harus ke kampus dan melihat nya bersama sabrina lagi,?? Itu membuat hati ku tambah sakit...

Aku melihat, wanita separuh baya menghampiri ku, ia pun mengatakan sesuatu padaku.

"Hai gadis manis, nasibmu akan berubah. Tapi hidup mu akan penuh dengan rintangan. Hehehehe" ucap nenek itu dengan ketawa seperti nenek lampir...

Aku terdiam setelah mendengarkan ucapan nenek itu, ketika aku menoleh kebelakang dan ingin berbicara dengan nenek itu, beliau seketika menghilang entah kemana. Seketika bulu kuduk ku merinding, dengan cepat nya aku berlari menuju kampus..

Sesampainya aku di kampus. Aku di senggol oleh seorang wanita,, wanita itu adalah sabrina gadis manja yang sombong.

"Ups sorry sengaja.. hahhahaa.. dasar cewek kampung, penampilan aja selalu seperti gembel." Ucap sabrina angkuh.
"Iya na, dia itu cocok nya di panggil cewek kampung gembel, hahahhaa, sambung teman nya yang bernama Reni.
"Udah, kita pergi aja, jangan di kerjain lagi anak nya, kalian selalu mengerjai nya," ucap salah satu teman nya juga yang bernama Karin, dia adalah teman sabrina yang berbeda dari teman-teman nya yang lain, ia gadis yang sopan dan ia mempunyai hubungan keluarga dengan sabrina. Yaah bisa di bilang dia sepupu dari sabrina.
"Ngapain kamu belain cewek kampung ini, cewek ini gak pantes dapet belaan dari siapa pun di kampus ini." Tegas sabrina penuh benci..

Aku tak merasakan sakit di hati ketika sabrina dan teman nya menghinaku karena aku terbiasa di perlakukan seperti itu.
Aku berjalan dan melihat keseluruh kampus, tapi aku tak melihat fariz. "Dimana dia".?? Ucap ku dalam hati.

Terlihat dari arah menuju kantin, aku melihat sabrina sedang menggandeng pria. Pria itu adalah fariz, mereka sangat mesra, fariz pun mencium sabrina dengan penuh kasih sayang.

Deeg..deegg.. Jantung ku berdetak begitu kencang nya.
Inikah yang aku takutkan, aku bagaikan habis manis sepah di buang, itukah sebutan yang pantas untuk ku..
Aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa bagi fariz.
Hatiku begitu sakit, fariz tak memperdulikan ku, dia mencampakkan ku, dia melupakan kejadian kemaren.

Setelah kejadian itu aku tak kuasa menahan kesedihan ku, aku tak konsen dengan semua mata kuliah ku. Hingga akhir aku di panggil oleh dosen pembimbing ku,.

"Jessi, kamu ini kenapa? Nilai mu mendadak turun, apa kamu sedang ada masalah?" Tanya dosen ku.

"Tidak ada apa-apa kok pak, saya hanya tidak enak badan saja." Ucap ku dengan kepalsuan.

"Kalau kamu sakit mendingan kamu ijin istirhat dulu, tenangin pikiran mu." Ujar dosen ku.

Aku bingung dengan sikap ku. Tak henti-henti nya aku memikirkan fariz.
Saat aku sedang termenung ayah menelpon ku.

Kriing,,kringg.. panggillan dari ayah.

"Kenapa yah?. "

"Jessi, ibu masuk rumah sakit, dan sekarang di opname. Kata dokter ibu terkena sakit jantung. Kamu cepat kesini ya.. Rumah sakit dekat rumah kita. Ibu di rawat di ruangan kamar nomer 50.". Jawab ayah dengan panik nya..

"Apa ibu masuk rumah sakit? Baik ayah, aku akan segera kesana."

Aku merasa sakit, hatiku tak tenang, sekejap aku termenung, aku menagis, tak henti-henti nya aku menagis.
Kaki ku terasa berat untuk berjalan, sekujur tubuhku terasa kaku, pikiran ku melayang. "Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini, nilai ku hancur dikampus, aku telah di campakkan oleh fariz, sekarang ibuku masuk rumah sakit, kenapa seberat ini cobaan ku Tuhan."

Aku menangis dan aku mempercepat jalan ku hingga berlari, aku tak tau harus berbuat apa. Mata ku sampai kubil karena terus saja menangis. Dari aku berangkat kuliah sampai sekarang pun aku selalu menangis. "Apakah hidup ku hanya untuk menangis." Ucap ku dalam hati dengan penuh kesedihan.

Love You FarizBaca cerita ini secara GRATIS!