"Panggil aku Ricky."
Aku mengingatnya. Lelaki muda menyenangkan yang selalu datang ke toko bunga milikku setiap pukul tiga sore, sejak seminggu terakhir ini.
Berwajah sendu. Dengan bola mata kecokelatan menyiratkan kesedihan. Pakaian kedodoran yang membaluti tubuh jangkungnya semakin membuatnya terlihat kurus.
"Seikat bunga krisan dengan pita putih, please?"
Sambil menunggu aku merangkaikan bunga, terkadang dia sedikit berkisah tentang dirinya.
Usianya dua puluh lima tahun saat ini. Pernah menikah dan sempat akan memiliki seorang anak. Kesepian sejak kematian istrinya empat puluh hari yang lalu.
"Bunga krisan adalah bunga kesukaannya."
Enggar, sang istri, adalah wanita yang menjadi cinta pertamanya. Meninggal dunia di usianya yang ke dua puluh empat saat melahirkan anak pertamanya. Terjadi komplikasi yang merenggut nyawa ibu-anak sekaligus.
"Istriku pernah berkata bahwa bunga krisan adalah lambang kepercayaan."
Lelaki itu pernah terjatuh dalam depresi yang cukup dalam, sebelum dia datang ke kota ini. Tentu saja, kehilangan dua orang yang sangat ia cintai dalam waktu hampir bersamaan, orang normal mana yang tidak terpuruk?
"Bunga krisan putih terakhir yang akan kuberikan padanya."
Kepercayaan, jawabnya saat aku menanyakan hal yang mengganggu hatiku. 'Mengapa tidak mencari wanita lain?'
"Kepercayaan yang kelak akan mempertemukan kami kembali. Seperti saat dia menungguku selama lebih dari sepuluh tahun dengan penuh rasa percaya."
Dan, seperti ucapannya, kepercayaan yang ia jaga untuk sang istri, telah membawa mereka bersatu kembali.
Pagi ini di depan toko bungaku, lelaki itu meregang nyawa saat seorang pengemudi mabuk menabrakkan mobilnya.
Bunga krisan terlempar. Senyum tercetak. Ah, apa yang bisa dilakukan seorang wanita tua sepertiku melihat kejadian itu selain tersenyum dan menangis bersamaan? Tersenyum karena pada akhirnya lelaki itu dapat bersatu dengan istri dan anaknya. Atau menangis karena merasa kehilangan lelaki muda pengagum bunga Krisan? Entahlah .... []
Magelang, 290715, 23:30
---
