Prolog

21.9K 936 54

Author

Beberapa orang tampak duduk cemas di ruang tunggu instalasi bedah sebuah rumah sakit. Sepasang suami istri saling berpelukan menunggu hasil kedua putri mereka yang sedang mempertaruhkan nyawa untuk kehidupan yang lebih baik. Setelah lebih dari 15 jam operasi berlangsung, pintu ruang operasi pun terbuka sehingga membuat semua orang yang menunggu bangkit berdiri menghampiri sang dokter.

"Bagaimana operasinya dok?" tanya sang istri harap-harap cemas.

Tangannya yang menggenggam tangan sang suami tampak gemetar. Sang dokter yang masih memakai baju operasi pun membuka maskernya dan tersenyum kecil.

"Operasinya berhasil. Namun, saat ini Karina dan Kirana masih harus melalui perawatan intensif di ruang PICU. Kondisinya stabil dan baik," jelas sang dokter yang tentu membuat sepasang suami istri tersebut tersenyum dan menangis haru.

Beberapa saudara dan orang yang ikut menunggu pun tersenyum dan berpelukan. Tak lama, dokter lain pun keluar dan meminta orangtua bayi kembar siam yang baru saja mereka operasi, pergi ke ruangan para dokter untuk berdiskusi mengenai hasil operasi pemisahan tersebut.

***

Setelah selesai berbicara dengan orangtua pasien bayi kembar siam yang ia tangani bersama anggota tim dokter lainnya, Yoga pun berjalan santai di lorong rumah sakit menuju ruangannya. Beberapa suster menyapanya dan memberikan selamat karena mendengar operasi pemisahan bayi kembar siam di bagian kepala atau kraniopagus yang ia pimpin telah berhasil. Lelaki itu hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Bahkan seorang suster memberikannya sekotak kue sebagai ungkapan selamat.

"Here's our God's hand! " Bara bersorak begitu Yoga memasuki ruangannya.

"Lo sejak kapan ada di ruangan gue?" tanya Yoga yang dengan cueknya duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya yang lelah.

Bara pun memutar kursi menghadap Yoga, "Gila keceh parah lo bro! Tangan lo enggak tremor kan waktu lagi operasi?"

Yoga tersenyum tipis, "Kalau tangan gue tremor, operasinya enggak bakal berhasil."

Bara mengangguk-angguk, "Btw, si Sandra gimana? Dia juga udah balik ke ruangannya?" tanyanya karena Sandra yang juga merupakan dokter spesialis anak, termasuk ke dalam tim dokter yang melakukan operasi pemisahan tersebut.

Dengan mata terpejam, Yoga hanya mengangguk. Operasi selama lebih dari setengah hari benar-benar membuatnya lelah. Belum lagi hari-hari sebelumnya Yoga harus melakukan diskusi dengan anggota tim dokter lain dan operasi-operasi kecil.

"Lo lagi berantem sama Sandra?" tanya Yoga masih dengan posisi yang sama.

Bara menarik nafas, "Gitu deh. Entahlah. Gue ngerasa hubungan ini cuma gue yang jalanin."

Yoga terdiam. Sudah tiga bulan ini Bara menjalin hubungan dengan Sandra, tapi Bara selalu bercerita kalau Sandra menerimanya hanya karena kasihan. Ia merasa bahwa Sandra masih tidak memiliki perasaan apapun padanya setelah bertahun-tahun Bara terus mengejarnya. Bahkan Bara tahu kalau Sandra masih menyukai Yoga sekalipun bibir wanita itu tak pernah mau mengakuinya.

"Gue enggak tau masalahnya apa, tapi coba omongin baik-baik. Kalau perlu kasih waktu buat kalian masing-masing tenang," Yoga memberi saran.

Pria itu pun menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya yang kusut.

"Gue pergi dulu," Yoga bangkit dari kursi dan mengambil tas hitamnya.

"Lo mau pulang?"

Yoga menggeleng dan mulai melangkah menuju pintu.

"Jangan bilang lo mau ke makam Icha. Bukannya nyokap lo ngeskors lo buat sebulan jangan ke makam Icha dulu?" tanya Bara yang memutar kembali kursinya menghadap Yoga yang kini berdiri di ambang pintu.

"Kalau gue turutin, sama aja nyokap ngelarang gue buat enggak nafas selama satu bulan," Yoga menoleh dan agak melambaikan tangan, "Duluan Bar."

Mendengar jawaban sahabatnya, Bara hanya dapat mendesah. Pria itu teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu saat Bunda Yoga meneleponnya dan semua teman Yoga malam-malam karena putranya tak kunjung pulang ke rumah dan tidak bisa dihubungi. Sandra bilang bahwa Yoga sudah tidak ada di rumah sakit dan pembantu rumah Yoga dekat pantai pun bilang bahwa Yoga tidak ada. Akhirnya Bara dan Sandra pun mulai mencari Yoga dan menghubungi pria tersebut berkali-kali. Iseng, Bara memutuskan untuk datang ke pemakaman tempat Icha dikuburkan tengah malam—dan ternyata benarlah. Disanalah Yoga tampak sedang tertidur di sebelah makam Icha.

Sekalipun pemakaman itu tampak nyaman dan asri seperti daerah perbukitan, tetap saja itu adalah hal yang gila bagi Bara melihat sahabatnya tertidur di kuburan. Bara dan Sandra pun mencoba membangunkan Yoga yang ternyata mabuk dan mulai meracau di dalam mobil.

Dari kaca spion dalam mobil labin tengah, Bara melihat Yoga yang tiduran di atas pangkuan Sandra di kursi belakang. Rasa cemburu tentu timbul melihat perhatian yang diberikan pacarnya pada pria lain, yang ia tahu amat dicintai Sandra. Namun, hatinya lebih terluka melihat keadaan sahabatnya saat ini. Dalam keadaan mabuk, Yoga terus meracau dalam mobil dan terakhir pria itu terdengar menangis pedih.

Sekalipun sudah lima tahun berlalu, Yoga belum juga dapat bangkit dari kubangan masa lalunya. Di dalam rumah sakit, Yoga mungkin terlihat hebat dengan segala kejeniusan dan keberhasilannya. Namun, begitu meninggalkan rumah sakit, pria itu akan berubah menjadi serapuh kaca bening yang tipis.

Di atas kursinya Bara kembali menghembuskan nafas kasar. Ia hanya berharap suatu hari nanti seseorang dapat menyembuhkan sahabatnya.

***

Yaa, akhirnya aku enggak bisa nahan buat enggak ngelanjutin cerita BM karena masih belum bisa move on dari Bang Yoga.

Untuk cerita ini aku enggak janji bisa update cepet, karena sekalipun liburan, menurutku cerita ini cukup berat untuk kutulis, enggak seperti Beautiful Memories. Sedikit banyak, cerita ini akan membahas tentang medical dan itu di luar batas ilmuku, walaupun aku juga baru belajar anatomi dan fisiologi hewan semester kemarin.

Jadi, aku sangat butuh saran dan masukannya ya teman-teman. Siapa tahu ada pembaca yang anak kedokteran gitu hahaha

#salamkurangdaritiga ^^


Before Happily Ever AfterBaca cerita ini secara GRATIS!