Ramalan Bilandri

1.4K 136 23

Seorang perempuan dengan rambut panjang sepinggang sedang berkomat-kamit di depan kuali besar berwarna merah, di dalamnya terdapat campuran ramuan yang tidak pernah ada yang tahu resepnya.

"Sualire, maose, mindle, jak awat ma arak ka, saina quirt alomona, busha alakmata si ombrona."

Sekejap, setelah perempuan itu mengucap mantra, kuali besar itu mengeluarkan bunyi yang nyaring.

Daggg !!
Bushhhh !!

Asap mengepul memenuhi ruangan, perempuan itu tersenyum sesaat setelah melihat gambaran bulan merah darah.

"Disaat bulan berwarna merah darah, akan lahir seorang penguasa alam dengan kekuatan maha dahsyat. Dia akan terlahir dari seorang perawan anak dara Jockfellen."

Suara Bilandri terdengar sangat lantang dan tegas membuat kepala suku Aomora Bathik Plingsah membalakan matanya, tak percaya. Yang dia tahu Jockfellen adalah penduduk biasa yang hanya seorang pematri.

"Bagaimana mungkin Bilandri? Seorang penguasa lahir dari keluarga Jockfellen? Mereka hanya seorang pematri, bukan golongan darah biru."

"Terima kenyataan yang ada Bathik, ini sudah takdirnya, dan kau tak punya hak untuk protes meskipun kau kepala suku Aomora. Sang Penguasa sudah berbicara. Dan kau tak punya kuasa untuk membantahnya." Suara Bilandri terkesan mengejek, membuat Bathik Plingsah mengempalkan tangan dan menggertakkan giginya.

Tanpa bersuara Bathik Plingsah meninggalkan pondok Bilandri.

"Kurang ajar! bagaimana mungkin? penguasa lahir dari seorang keluarga pematri. Harusnya istriku yang mempunyai karunia itu. Karena memang seharusnya seorang penguasa dilahirkan dari golongan darah biru! Sebelum anak itu merusak segalanya. Aku harus bertindak." Gumam Bathik Plingsah dalam perjalanan menuju rumah.

***

Seorang wanita yang berusia 20an tahun sedang menikmati malamnya dengan menari di bawah sinar bulan purnama yang begitu indah. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang dengan ekor yang menjuntai, rambut keemasannya yang lurus panjang bergoyang mengikuti gerak tubuhnya, siapa saja yang melihatnya pasti akan terpana atau bahkan terpesona.

Dia adalah Beatrice Jockfellen, satu-satunya anak dara perawan dari Pungsah Jockfellen dan Wilana Jockfellen.

Krasakk.. krasakk... grushh..

Suara berisik di balik pohon Ek di belakangnya membuat Beatrice menghentikan tariannya.

"Siapa?" wanita itu menatap was was pohon Ek itu, takut-takut kalau itu Petrus (Penjahat Misterius) yang belakangan ini meresahkan rakyat Aomora.

Krasak... krashh
Hungsh.. hungsh.. hungsh...

Beatrice menyunggingkan senyumnya, mendengar dengusan itu dia sudah bisa menebak seseorang dibalik pohon Ek itu, seketika perasaan takutnya berubah, tanpa rasa takut Beatrice mendekati pohon itu hati-hati berusaha untuk memberikan kejutan.

Hingga sampailah wanita itu di depan pohon Ek. Dengan kikikan tertahan, Beatrice sudah bersiap untuk melalukan gerakan mengejutkan.

"Hap!" teriak Beatrice tepat di wajah serigala besar yang terlihat menakutkan. Matanya berwarna biru cerah, moncong hidungnya berwarna cokelat. Bulunya putih seputih salju dan sedikit bercahaya.

Serigala itu mengeram, digerakkan kepalanya kekiri dan kekanan cepat.

Beatrice tertawa lepas. Dia bahagia, mengganggu Cakra adalah hal yang selalu membuatnya bahagia.

"Kenapa kau jadi terlihat begitu lucu, Cakra? Seandainya kau bisa melihat bagaimana tampangmu tadi. Pasti kau akan ikut tertawa." Beatrice tak berhenti tertawa. Perawan itu masih tidak bisa menghapus wajah Cakra yang menurutnya begitu menggemaskan itu. Bahkan saat ini dia tertawa dengan tangan yang memegang perut.

The Blood MoonBaca cerita ini secara GRATIS!