Satu

14.8K 927 39

Berbeda dengan pernikahan Batak lainnya. Pernikahanku dengan Omega tak beradat. Kami hanya mencatatkan diri ke kantor pencatatan sipil lalu melakukan melakukan sumpah setia di sebuah gereja Katholik kecil dengan jemaat kurang dari seratus orang. Keluarga yang hadir pun hanya Ibu dan Ayah Omega beserta Reka, adikku yang hanya berbeda dua tahun.

Omega tidak suka publikasi. Ia paling benci dengan pasangan-pasangan yang melakukan public display of affection. Kami bahkan sepakat kalau kami tak perlu memakai cincin kawin kami. Tak ada bulan madu. Kami persis seperti sebelum menikah. Bedanya, sekarang kami tinggal di satu rumah yang sama. Ralat, di satu apartemen yang sama. Tepatnya lagi, aku pindah ke apartemennya. 

Apartemennya bernuansa gelap. Lumayan luas karena berkamar dua namun hanya diisi oleh dirinya sendiri. Saat aku pindah, barang-barangnya juga belum terlalu banyak. Hanya ada rak buku yang berwarna kecoklatan juga dan dipenuhi buku-buku favoritnya, lemari berwarna hitam yang mayoritas diisi kemeja yang bisa dipakai untuk kerja dan sebuah ranjang ukuran king. Kamarnya yang lain bahkan hanya diisi laba-laba beserta sarangnya. Tak ada kompor di dapur. Hanya ada dispenser dan kulkas yang berisi makanan-makanan yang sudah membusuk karena hampir tak pernah ia pakai. Bahkan, sofa mungil yang ada di ruang tamunya masih terbungkus plastik.

Aku tak pernah mampir ke apartemen ini sebelum kami menikah. Biasanya, kalaupun ia menghabiskan sedikit waktu denganku, ia-lah yang datang ke apartemenku. Bukan sebaliknya. Apartemenku yang lebih kecil dan bernilai investasi lebih murah dari miliknya itu sekarang sudah kusewakan untuk sepasang suami-istri yang baru menikah. 

Tapi, itu juga sangat jarang terjadi. Sejak hubungan kami dimulai dua setengah tahun lalu, jumlah kedatangannya ke apartemenku bisa dihitung dengan jari. Dia itu sibuk. Dia punya dunianya sendiri yang tidak bisa kukejar dan aku memang tidak harus menjadi bagian semua itu untuk memilikinya. Aku hanya perlu jadi diriku sendiri dan aku rasa itu sudah cukup. Toh, Omega tak pernah meminta lebih.

Dunia Omega berbeda dengan duniaku. Duniaku hanya dunia hitam putih biasa yang membosankan. Bukan karena aku buta warna atau apa, duniaku hanya terlalu suram. Ayahku meninggal sejak usiaku 12, sementara Ibuku meninggal empat tahun setelahnya. Sejak usia 16, aku harus memikirkan kehidupanku dan adikku, Reka, seorang diri. Tulang Tigor memang sempat memberi bantuan finansial. Tapi, hanya kurang lebih setahun. Sebab, di awal semester satu kuliahku, perusahannya bangkrut karena partner kerjanya menipunya dan membawa lari uang yang tidak sedikit. Tapi, menurutku, dunia Omega berbeda. Ia itu seperti pelangi. Mejikuhibiniu. Dia sibuk luar biasa, tapi bahagia luar biasa juga. Hidupnya di kelilingi party yang tak pernah berhenti berdetak dan perempuan-perempuan cantik yang memujanya.

Pernikahanku dengannya itu mirip keajaiban mengingat hubungan kami yang lebih pantas disebut open relationship yang kadar off-nya sangat jauh lebih sering dibanding on. Selama setahun, masa bahagia bagi kami hanya kurang dari satu bulan pertahun. Aku tak tahu apa yang dia sukai dari aku. Dibanding dengan date-date-nya yang lain, kalau dibandingkan, aku meraih peringkat terendah. Tidak cantik seperti Sarina model, yang cantik dan kurus dan digosipkan anoreksia itu. Tubuhku juga tidak sesempurna Adil, DJ yang tubuhnya mirip jam pasir itu dan sejak kecil aku juga adalah pribadi yang tertutup, berbeda dengan Karian, new anchor yang sudah bisa dipastikan sangat humble dan friendly. Aku bukan perempuan-perempuan Omega, tapi aku yang diperkenalkan pada Ibunya dan dibawa ke depan altar. 

Meski bukan aku yang dipublikasikan pada acara-acara pertemuan-pertemuan perusahaan tempatnya bekerja, bukan aku juga yang dibawa kalau ia berpesta hura-hura di malam tahun baru beserta teman-temannya, tapi tetap saja. Aku yang ada di rumahnya. Yang ia temui sepulang kerja dengan badan luar biasa lelah.

Aku yang ia pilih jadi istrinya.

Persetan dengan pernikahanku yang tak ada martupol, mangadati, marhata sinamot, mangulosi dan lainnya itu. Kesiapannya menghadapi suka duka denganku selama sisa hidupnya yang ia sumpah di depan pastur sudah cukup. Lagi pula, aku juga sudah dekat dengan Ibunya. 

Stockholm Syndrome (SS)Baca cerita ini secara GRATIS!