Chapter 1

10.1K 359 9

Gissell PoV

"Gissell kebawah buruan! Ada Alvo udah nungguin," ucap mama dari bawah. Nama mama gue bernama Nia, dan kenalin, nama gue Gissella Terenia Zerefa. Anak terakhir dan mempunyai 1 kakak yang sedang kuliah di Berlin, namanya Dion.

Gue berlari menuruni tangga dan mengambil selembar roti yang sudah di olesi selai kacang.

"Ma, pa, Gissell berangkat!." Ucap gue dan mencium punggung tangan mama dan papa.

"Hati-hati sayang," ucap papa. Papa gue bernama Vero. Papa idaman lah pokoknya. Gue mengangguk dan berjalan keluar rumah. Langsung menumpangi motor besar ber warna hitam punya Alvo.

"Hai Vo," ucap gue semangat.

"Hai Sella sayang," ucap Alvo.

Alvo Redinath Fauzlan. Dia sahabat dari kecil. Orangnya ganteng banget. Dari dulu gue dan dia bermain bersama. Dan untuk panggilan sayang, Alvo selalu memanggil ku dengan embel embel sayang. Dan gue hanya memutar kedua bola mata gue mendengar ucapannya. Dia juga selalu memanggil nama gue dengan sebutan sella dari kecil, bukan Gissell.

"Siap?" Tanya Alvo.

"So pasti," Ucap gue lantang.

Ini hari ke 2 gue sekolah di Galaxy International School. Gue mempunyai sahabat baru yang langsung dekat dengan gue. Namanya Sifany Nadiella Veronica.

Alvo sudah mempunyai sohib dari smp. Yaitu Rendi, dia teman sebangkunya Alvo, Reno dan Adrian.

Setelah sampai di parkiran gue segera turun dengan cara melompat. Rambut yang sengaja di gerai terbang mengikuti angin.

"Woi bro," panggil seseorang dari belakang Alvo. Ya mereka Rendi, Reno dan Adrian. Mereka semua ganteng. Jadi pantas Alvo dan yang lain dijuluki most wanted guy.

Akhirnya kita berjalan dikoridor dengan gaya cool. Orang ada yang berteriak histeris karena melihat Alvo, Rendi, Reno dan Adrian. Kalian bisa bayangin seberapa cool mereka, Alvo, dia memakai kancing di buka 2 bagian atas, dan rambutnya khas jambulnya yang hitam. Adrian memakai hoodie cokelat dan memasuki tangannya disaku. Reno baju nya dikeluarin, tatapan matanya yang menawan. Rendi, dia selalu memamerkan senyum indahnya. Mereka selalu suka memakai tas hanya di pakai disatu bahunya.

Gue yang berada diantara mereka hanya membuat orang kesal. Karena mungkin kata orang orang hanya nyepam.

Kami memasuki kelas. Terlihatlah sifany dengan sibuk menggambar-gambar tokoh kartun kesukaannya yaitu, Rilakuma.

Gue duduk bersama Sifany, dan dibelakangku dan Sifany ada Alvo dan Rendi, selanjutnya Reno dan Adrian.

"Hai Sip," sapa gue pada Sifany.

"Hai," ucap Sifany datar. Kebiasan ini anak.

Tuk tuk tuk

Sudah gue yakini pasti itu heelsnya Bu Rindu.

"Hallo anak-anak," ucap Bu Rindu masuk.

"Hai buu."

***
"Sip, gue laper ayoo," ucap gue menarik tangan Sifany.

"Bentar Giss, jangan tarik-tarik, sakit boyot," ucap Sifany. Gue hanya menyengir 3 senti.

Sifany dan gue berjalan keluar kelas, kita berjalan menuju kantin menempati meja dan memesan makanan.

Gue yang sedang sibuk sama ponsel mendengar teriakkan histeris seorang perempuan. Kakak kelas maupun yang setara.

Pantes. Alvo dan kawan-kawan dateng. Gimana nggak rame nih kantin. Kulihat Alvo berjalan kearah gue.

"Hai Sella," ucap Alvo dan sohibnya. Gue? Gue hanya memutar bola mata.

"Eh ada Sifany jugaa," ucap Rendi ceria. Dan sekarang sifany yang memutar bola matanya.

Baru percakapan gitu aja gue ama Sifany udah menjadi tontonan.

Banyak yang melirik sinis kearah gue. Denger-denger dapetin mereka tuh susah. Katanya dingin semua kecuali Rendi yang playboy.

"Vo, udah sana, pada ngeliatin tuh. You know? Gue risih," bisik gue kecil pada Alvo.

Namun alvo malah tersenyum penuh arti. Dengan sigap alvo duduk disamping dan merangkul gue. Gue terkejut dengan kelakuannya.

"Lo ngapain sih, Vo?."bisik gue kecil sambil mencubit pahanya.

"Sakit monyet ih,"

"Ngapain disini?" Tanya gue lagi.

"Gangguin lo."

"Ren, psst ren." Panggil gue pada rendi. Rendi sadar. "Bawa temen lo nih. Kalo nggak, lo nggak gue restuin sama Sipany." Ucap gue.

"Giss, pake f. Sifany bukan Sipany." Sergah Sifany.

"Udah lo diam." Tegas gue. Rendi berpikir dan menjinjing kerah baju Alvo.

"Ayo Voo, nanti gue nggak direstuin," ucap Rendi.

"Direstuin juga gue nggak mau sama lo," ucap Sifany dengan wajah songongnya.

"Udah bawa pergi," ujar gue, "Vo pergi, kalo nggak gue marah sama lo," ancam gue.

"Yaudah, babay Sella sayang," Ucapnya dengan kekehan. Dengan sigap gue menutup muka dengan telapak tangan.

"Gila," desis gue kesal.

××××××

Yoyoyo cerita pertama yey!

Pendek? Sengaja. Nanti nggak lagi kok. Makannya votes

Thanks.

Rachma

You're My Everything (Revisi)Baca cerita ini secara GRATIS!