Uzumaki Himawari

5.9K 226 24

Mentari pagi yang cerah memasuki celah korden dari kamar yang terbilang rapi. Menembus dengan sempurna kewajah gadis kecil dengan dua guratan dipipinya. Merasa terganggu dengan cahaya yang menyelinap ia lantas membuka matanya perlahan. Menampakan mata beriris safir sebiru samudra.

Kakinya perlahan turun dari singgasana pengantar mimpi. Melangkah menuju kamar mandi. Mempersiapkan diri untuk pergi memulai hari yang cerah.

"Ohayoo.." salam terucap dari suara lembut. Menuruni tangga menuju ruang makan keluarga Uzumaki.

"Ohayoo.. Hima-chan. Duduklah. Minum air putihnya dulu. Kaa-chan siapkan sarapannya." Ucap sang Ibu.

"Kaa-chan. Biar ku bantu." Melangkah menuju dapur.

Hinata hanya tersenyum menanggapi putrinya. Membiarkan putri yang memiliki warna rambut yang sama dengannya itu ikut bergelut menyiapkan sarapan pagi.

Himawari menyusun piring yang telah berisi lauk pauk diatas meja makan. Matanya melirih ke arah kursi yang biasanya diduduki Ayah dan Kakaknya. Lalu melirik jam dinding di ruang makan dan beralih ke kamar dilantai atas.

"Mama.." ucap Himawari.

Seakan memiliki ilmu mengerti membaca pikiran, Hinata menjawab " Mereka belum bangun. Ayah pulang sangat larut dari kantor. Boruto baru pulang tadi subuh setelah misi pertamanya keluar desa."

Himawari diam cukup lama.
Membuat Hinata sedikit khawatir.
"Hima-chan." Tegur Hinata. Menyadarkan Himawari dari lamunannya.

"Ah~ Gomennasen. Jadi kita akan sarapan berdua lagi ya Mama." Ucapnya lembut sambil menempati kursinya.

Walaupun Himawari tersenyum sambil mengatakannya, entah mengapa Hinata bisa merasakan senyum itu senyum yang penuh kebohongan.

Sebenarnya Hinata ingin membangunkan suaminya dan anak laki-lakinya untuk sarapan. Tapi sebelum tidur Naruto berpesan untuk tak membangunkannya sarapan. Dia cukup lelah dengan kegiatan di kantor Hokage dan ingin tidur lebih lama hari ini.

Untuk anak laki-lakinya yang baru saja pulang subuh dan bisa dipastikan baru saja terlelap tidur. Mana tega di membangunkan Boruto yang baru beranjak ke alam mimpi.

Akhirnya sarapan pagi di kediaman Uzumaki hanya diikuti dua anggota keluarga. Sang Ibu dan Putri kecil keluarga Namikaze.

"Aku pergi dulu Mama!" Ucap Himawari sambil mencium pipi kanan Hinata.

"Hati-hati! Perhatikan sensei mengajar!" Ucap Hinata sambil melambaikan tangan ke arah putrinya yang terlihat bersemangat pergi ke akademi.

*di akademi*

"Ohayoo.. minna!!" Sapa ramah Himawari.

"Ohayoo.. Hima-chan!" Sapa balik midori. Teman perempuan seakademi yang memiliki rambut hijau.

"Ohayoo.. Himawari-sama" sapa anak laki-laki berambut coklat panjang. Bermata putih perak. Keturunan hyuga. Dengan kata lain mereka bisa dikatakan sepupu kan (?).

"Jangan memanggilku seperti itu Kyosuke-kun." Balas Himawari

"Tapi anda anak dari Byakugan no Hime dan Hokage-sama, saya harus... " balas anak yang bernama Kyosuke. Anak bernama lengkap Hyuga Kyosuke, anak dari Hyuga Ko, pengawal pribadi Hinata dulu.

"Hentikan!" Seru Himawari dengan suara yang lantang.

"Aku Himawari. Hanya Uzumaki Himawari" ucap Himawari menekankan kata 'hanya' lalu duduk dibangkunya. Moodnya jadi berubah. Padahal tadi dia sudah susah payah membangun moodnya yang hancur ketika sarapan.

Ia paling benci di pandang bak seorang putri kerajaan. Dia hanya ingin mereka berteman dengannya karna dirinya bukan karna status orang tuanya.

"Duduk semua." Suara datar yang memenuhi ruang akademi terdengar. Shino-sensei sudah masuk dari tadi tapi tidak ada yang menyadari keberadaannya.

Himawari tidak mendengar bell kelas akademi karna bersitegang dengan Kyosuke.

"Hari ini aku akan membagikan selebaran untuk formulir ujian chunin. Kalian harus ikut secara berkelompok. Serahkan tiga hari lagi pada ku." Ucap Shino lalu menyebarkan formulir tadi dengan serangga-serangganya setelah selesai dia pergi meninggalkan kelas. Karna memang saat ini bukan saatnya mengajar.

"Ck.. Sensei itu pemalas sekali. " sindir murid yang duduk di pojokan kelas.

Himawari memicingkan matanya mendengar hinaan teman sekelasnya untuk sensei nya.

"Hei! Jaga bicara mu. Kau tak boleh berbicara buruk tentang Shino-sensei!" Akhirnya Himawari angkat bicara. Dia tidak kuat menahannya.

"Oh.. murid kesayangannya membela rupanya." Ucapnya angkuh.

"Aku tidak..." ucapan Himawari terputus.

"Ya kau membelanya. Apa kau merasa sebagai pahlawan jika membelanya." Ucap anak itu lagi.

"Ups.. aku lupa kau memang anak pahlawan ya.. Hime-sama!" Anak itu berucap dengan menekankan kata 'pahlawan' dan 'Hime-sama'.

Himawari yang awalnya menundukan kepala akhirnya mengangkat kepalanya. "Ya! Aku memang anak pahlawan! Memang kenapa? Kau tetap tak berhak menghina siapa pun!!" Teriak Himawari lantang.

"Hora!!" Teriak suara yang lebih dewasa yang bersumber dari depan kelas. Otomatis semua mata tertuju kesana.

"Uzumaki Himawari! Shira Tsuki! Maju kedepan kelas!" Perintah Kiba-sensei.

"Sekarang!" Perintah Kiba-sensei karna melihat tidak ada pergerakan dari dua muridnya itu.

Yosh! Part1 selesai.. tunggu Part berikutnya ya..

Mohon kasih pendapat :-D

UZUMAKI HIMAWARIBaca cerita ini secara GRATIS!